Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

IMF Prediksi Negara Berkembang Alami Guncangan Ekonomi Hebat, Indonesia Termasuk?

M Nurhadi | Suara.com

Jum'at, 14 Oktober 2022 | 07:31 WIB
IMF Prediksi Negara Berkembang Alami Guncangan Ekonomi Hebat, Indonesia Termasuk?
Managing Director International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva (kiri) mencoba membatik saat melakukan kunjungan di gedung Sarinah, Jakarta, Minggu (17/7/2022). [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/YU]

Suara.com - IMF mengatakan, negara emerging market dan berkembang tengah mengalami penguatan nilai tukar dolar, biaya pinjaman tinggi serta tren arus keluar modal tiga kali lebih besar dibanding negara lain dengan tingkat utang tinggi.

"Dalam lingkungan ini, kita juga harus mendukung negara emerging market dan berkembang yang rentan," kata Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva pada konferensi pers selama pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia, Kamis (13/10/2022).

IMF juga mengklaim, lebih dari seperempat negara berkembang telah gagal dengan perdagangan obligasi pada tingkat yang tertekan, dan lebih dari 60 persen negara berpenghasilan rendah memiliki risiko terhadap utang.

Georgieva mengatakan guncangan berulang dan kemunduran pertumbuhan menimbulkan pertanyaan yang lebih besar.

"Apakah kita mengalami pergeseran ekonomi mendasar dalam ekonomi dunia, dari dunia yang relatif dapat diprediksi dan stabil, ke ketidakpastian dan volatilitas yang lebih besar?" kata Georgieva.

Bagi para pembuat kebijakan, kata Georgieva, ini adalah waktu yang jauh lebih kompleks, yang membutuhkan tangan yang mantap pada tuas kebijakan.

"Harga kesalahan langkah kebijakan, harga komunikasi yang buruk tentang niat kebijakan, sangat tinggi," ucap dia.

Ketua IMF mendesak para pembuat kebijakan untuk menurunkan inflasi, menerapkan kebijakan fiskal yang bertanggung jawab, dan menjaga stabilitas keuangan.

"Jika kita ingin membantu orang dan melawan inflasi, kita harus memastikan bahwa kebijakan fiskal dan moneter berjalan beriringan. Ketika kebijakan moneter mengerem, kebijakan fiskal tidak boleh menginjak pedal gas -- itu akan membuat perjalanan yang sangat berbahaya," kata dia.

Sejak awal pandemi COVID-19, IMF telah memberikan 260 miliar dolar AS dalam bentuk dukungan keuangan kepada 93 negara.

Sementara, sejak perang Rusia-Ukraina, pihaknya telah mendukung 18 program baru dan tambahan dengan hampir 90 miliar dolar AS.

"Dan kami sekarang memiliki 28 negara tambahan yang menyatakan minatnya untuk menerima dukungan dari IMF," kata Georgieva.

Ketua IMF juga menyerukan upaya yang lebih kuat untuk menghadapi kerawanan pangan, mencatat bahwa 345 juta orang sangat rawan pangan. Sekitar 48 negara sangat terpengaruh oleh kerawanan pangan, sebagian besar berada di sub-Sahara Afrika.

IMF baru-baru ini mengumumkan jendela kejutan pangan baru, sebuah mekanisme yang memberikan pinjaman darurat untuk membantu negara-negara rentan mengatasi kekurangan pangan dan kenaikan biaya akibat perang Rusia-Ukraina.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pelaku Ekraf  Didorong  Kolaborasi Ditengah Tantangan Inflasi

Pelaku Ekraf Didorong Kolaborasi Ditengah Tantangan Inflasi

| Kamis, 13 Oktober 2022 | 11:43 WIB

IHSG Diprediksi Masih Melemah Siang Ini, Berikut Faktor Penentunya

IHSG Diprediksi Masih Melemah Siang Ini, Berikut Faktor Penentunya

Bisnis | Kamis, 13 Oktober 2022 | 11:22 WIB

Krisis Ekonomi Makin Dekat, IMF Desak Pemerintah di Dunia Lindungi Masyarakat Rentan

Krisis Ekonomi Makin Dekat, IMF Desak Pemerintah di Dunia Lindungi Masyarakat Rentan

Bisnis | Kamis, 13 Oktober 2022 | 08:13 WIB

BI Rate Naik, Pengembang Properti Optimis Perbankan Tak Serta Merta Naikan Suku Bunga Kredit

BI Rate Naik, Pengembang Properti Optimis Perbankan Tak Serta Merta Naikan Suku Bunga Kredit

| Rabu, 12 Oktober 2022 | 21:18 WIB

Inflasi Kota Bandung per September 0,91%, Resesi?

Inflasi Kota Bandung per September 0,91%, Resesi?

| Rabu, 12 Oktober 2022 | 17:35 WIB

Efek Resesi, Ekonomi Indonesia 'Kalah' dari Filipina dan Vietnam

Efek Resesi, Ekonomi Indonesia 'Kalah' dari Filipina dan Vietnam

| Rabu, 12 Oktober 2022 | 17:30 WIB

Terkini

Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita

Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:10 WIB

Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru

Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:08 WIB

Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun

Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:02 WIB

PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025

PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:56 WIB

CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai

CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:52 WIB

BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah

BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:45 WIB

Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026

Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:18 WIB

PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen

PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:50 WIB

Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun

Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:45 WIB

Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara

Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:42 WIB