Cara Atur Keuangan Saat Ajukan KPR Supaya Tak Bernasib Seperti Jessica Iskandar

Iwan Supriyatna | Achmad Fauzi
Cara Atur Keuangan Saat Ajukan KPR Supaya Tak Bernasib Seperti Jessica Iskandar
Jessica Iskandar (Instagram @inijedar)

Mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) jangan sampai besar pasak daripada tiang, seperti artis kondang Jessica Iskandar yang akhirnya menunggak cicilan KPR.

Suara.com - Masyarakat harus memperhatikan kondisi keuangan sebelum mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) jangan sampai besar pasak daripada tiang, seperti artis kondang Jessica Iskandar yang akhirnya menunggak cicilan KPR.

Untuk itu, masyarakat perlu melakukan perencanaan keuangan sebelum mengajukan KPR. Hal ini dilakukan, agar masyarakat tidak pusing setiap bulan untuk membayar KPR sekaligus membayarkan kebutuhan sehari-hari.

Adapun berikut, tips pengelolaan keuangan menurut menurut Perencana Keuangan Andy Nugroho:

Sisihkan Uang Setiap Bulan dari Awal untuk Bayar Cicilan KPR

Baca Juga: Kisah Pengadilan di Bandung Sidangkan Gugatan Hantu Bernama Sulaeman

Andy menyebut masyarakat perlu berkompromi sesuai dengan kemampuan sebelum mengajukan KPR. Mulai dari kemampuan membayar uang muka, bayar cicilan, hingga kebutuhan sehari-hari.

Sebab, lanjutnya, setelah mengajukan KPR, maka cicilan itu jadi kebutuhan utama. Maka perlu menyisihkan uang setiap bulan-nya untuk membayarkan cicilan KPR.

Apalagi, dalam aturan BI Checking saat ajukan KPR, masyarakat perlu menyisihkan dana 30% dari pendapatan.

"Jangan kemudian KPR ntar-ntaran dulu bayar untuk KPR, jadi harus prioritas pertama untuk bayar KPR, jangan beli ini itu dulu. Itu pertimbangan diawal, jangan sampai demi punya rumah kita mengorbankan kebutuhan lainnya nggak bisa terpenuhi," ujarnya saat dihubungi Suara.com, Selasa (15/11/2022).

Jangan Ambil Rumah Jauh dari Kantor

Baca Juga: Agar Milenial Bisa Punya Hunian, Begini Cara KPR ke Tiga Bank Sekaligus

Andy mengatakan, masyarakat juga perlu memperhatikan jarak rumah dengan sumber pendapatan atau kantor. Pasalnya, jika terlalu jauh dengan kantor, akan menambahkan beban biaya transportasi.

Dia bilang, jangan tergiur dengan harga yang rumah lebih murah, tetapi dengan jarak yang terlalu jauh.

"Itu juga harus dipikirkan, mungkin harga rumahnya akan lebih murah, tapi hal-hal lainnya akan lebih mahal," ucap dia.

Lebih Baik Kontrak untuk Raih Cita-cita

Andy menambahkan, masyarakat juga perlu mempertimbangkan keinginan di masa depan. Apakah ada cita-cita yang belum tercapai atau ada keinginan lain.

Bisanya, jelas dia, milenial masih ingin bersekolah meraih cita-citanya. Jika masih ada keinginan, maka kontrak rumah menjadi pilihan, karena tidak memiliki beban membayarkan cicilan yang begitu besar.

"Jadi bukan hal yang tabu juga, sementara kita ngontrak dulu, ada yang masih ngejar cita-cita, justru mengurangi cost," pungkas dia.