PPKM Dicabut dan Angka Covid Turun, Produksi Vaksin Indovac Disetop

Iwan Supriyatna | Mohammad Fadil Djailani
PPKM Dicabut dan Angka Covid Turun, Produksi Vaksin Indovac Disetop
Presiden Joko Widodo menyaksikan penyuntikan perdana vaksin COVID-19 IndoVac di PT Bio Farma Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (13/10/2022). [ANTARA/HO-Biro Pers Sekretariat Presiden]

Penghentian ini disebabkan karena pemerintah belum memberikan kepastian besaran kebutuuhan vaksin Covid-19 di 2023.

Suara.com - PT Bio Farma (Persero) menghentikan sementara produksi vaksin Covid-19 buatan dalam negeri, IndoVac. Penghentian ini disebabkan karena pemerintah belum memberikan kepastian besaran kebutuhan vaksin Covid-19 di 2023.

Direktur Utama PT Bio Farma (Persero), Honesti Basyir mengungkapkan, hal ini terjadi karena pihaknya masih menunggu kepastian berapa besaran volume penggunaan IndoVac yang akan digunakan pemerintah.

"Mengenai penghentian IndoVac itu, karena kita menunggu kepastian di tahun 2023 berapa pemerintah butuh IndoVac," jelas Honesti dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR, dikutip Rabu (25/1/2023).

Apalagi kata dia vaksin Covid-19 ini memiliki jangka waktu kadaluarsa yang tidak lama, sehingga jika nanti tetap di produksi berpotensi tidak diserap secara maksimal.

Baca Juga: Mau Mudik Lebaran 2023, Haruskah Vaksin Booster Kedua?

"Karena ketika produksi, itu expired (kadaluarsa) nggak akan lama. Jadi sebenarnya kita nggak hentikan selamanya, nggak begitu. Kita butuh kepastian pemerintah butuh kapan dan berapa, maka kita lanjutkan lagi produksi," ujarnya.

Padahal kata dia Bio Farma sendiri sudah sangat siap dalam memproduksi vaksin penawar Covid-19 ini.

“Malah kami sudah siap dengan bahan baku vaksin untuk produksi 15 juta dosis berikutnya,” sambung Basyir.

Bahan bakunya sendiri, menurut Basyir, sifatnya masih bisa digunakan untuk berbagai jenis vaksin lainnya.

"Kita yakin kemarin kita meeting dengan Kemenkes, vaksin IndoVac ini masih lanjut dipakai untuk booster remaja dan lansia. Jadi ada potensinya, tinggal masalah volumenya aja berapa. Kalaupun in case vaksin selesai masih ada bahan baku, nah bahan bakunya ini masih bisa digunakan ke vaksin yang lain," jelasnya.

Baca Juga: Bukti BUMN Bisa Bersaing di Kancah Global, BKI Raih Sertifikasi Internasional