Suara.com - Netizen Indonesia tergolong canggih. Mereka kerap mengetahui perkembangan yang tidak diketahui masyarakat secara umum.
Salah satunya, manuver PT Vale Indonesia (Persero) , bersama perusahaan induknya, Vale S.A di saat negosiasi divestasi saham dengan Pemerintah Indonesia belum tuntas.
Netizen menyebutkan, di tengah semangat dan optimisme seluruh lapisan bangsa mengambil alih tambang Vale, justru pada akhir - akhir ini muncul isu bahwa Induk Vale di Amerika Serikat yakni Vale S.A tengah menjalin hubungan mesra dengan Arabia's Public Investment Fund (PIF). Komunikasi Vale dengan PIF itu tidak lain untuk mengakuisisi saham perseroan.
"Muncul pertanyaan besar, mengapa PIF tertarik mengakuisisi saham perusahaan induk Vale? Tentunya Arab atau negara manapun saat ini melihat potensi strategis nikel ke depan sangatlah bagus, di tengah tren pengembangan kendaraan listrik," tulis pemilik akun @03_nakula yang dikutio, Jumat (7/9/2023)
Di ruang media sosial tersebut, dia pun melemparkan argumen terkait dampak yang dapat terjadi terhadap Indonesia jika PIF jadi mengakuisisi Vale S.A atau gagal mengambil alih tambang Vale.
Pertama, tulis Nakula, mimpi Indonesia untuk dapat mengendalikan binsis nikel dunia terancam gagal. Kedua, program hilirisasi mineral terutama nikel yang digencarkan pemerintah akan terganggu.
Ketiga, strategi perusahaan terkait hilirisasi sangat berisiko berubah. Keempat, ketidakpastian pengamanan pasokan nikel dalam keperluan baterai kendaraan listrik.
"Dari deretan risiko di atas, tentu penting bagi Pemerintah Indonesia segera mengambil alih tambang Vale. Sehingga pemerintah bisa memastikan hilirisasi nikel bisa berjalan dan bahan baku nikel untuk ekosistem bisnis lainnya seperti kendaraan listrik terjamin," pungkas Nakula.