Suara.com - Baru-baru ini Anies Baswedan menyampaikan pernyataan yang cukup menarik perhatian banyak orang. Ia mengatakan bahwa pemerataan pembangunan infrastruktur harus disertai dengan pembangunan sisi manusia, agar nasib Indonesia tak sama seperti Yugoslavia secara ekonomi. Namun sebenarnya seperti apa ekonomi negara itu yang membuatnya runtuh di era ‘90-an?
Yugoslavia, dalam perspektifnya, bubar tidak hanya karena konflik etnis namun juga ketimpangan ekonomi yang terus berlanjut.
Konflik yang muncul diawali dengan disparitas ekonomi berkelanjutan, sementara negara-negara di sekitarnya terus melaju dan tumbuh.
Didirikan Tahun 1943, Runtuh Tahun 1992
Jika dilihat sejarahnya, Yugoslavia berdiri secara resmi tahun 1943, dan mengalami keruntuhan pada tahun 1992. terletak di semenanjung Balkan di kawasan Eropa Timur, namanya memiliki arti Slavia Selatan.
Negara ini dibagi ke dalam enam negara bagian dan dua daerah otonomi khusus. Negara bagian yang ada di sana adalah Serbia, Montenegro, Slovenia, Kroasia, Bosnia-Herzegovina, dan Makedonia. Sementara dua daerah otonomi khususnya adalah Kosovo dan Vojvodina.
Puncak kejayaan negara ini berhasil diwujudkan oleh Josep Broz Tito, yang menjadi pemimpinnya pada era tahun 1953 hingga 1980. setelah sosoknya meninggal, muncul berbagai masalah sosial politik yang membawa negara tersebut pada kehancuran.
Beberapa faktor utama yang menjadi dalang runtuhnya antara lain adalah adanya kekosongan kekuasaan, tidak mendapatkan figur pemimpin baru yang ideal, terjadi perpecahan antar entis, dan runtuhnya kekuatan komunis di akhir 1990-an.
Lima tahun menjelang kehancurannya, tepatnya pada 1987, Yugoslavia mengalami krisis ekonomi dan politik di tingkat nasional. Krisis ini dipicu perpecahan antar etnis yang ada di sana, dan kondisi pemerintahan yang tidak stabil.
Seperti mendapatkan pukulan akhir, pada tahun tersebut Slobodan Milosevic terpilih menjadi presiden Serbia, dan menerapkan kebijakan diskriminatif berdasarkan etnisitas yang merugikan sebagian besar masyarakat Yugoslavia.
Proklamasi Beberapa Negara Bagian
Di tahun 1991, beberapa negara bagian seperti Slovenia, Makedonia, Bosnia, dan Kroasia memutuskan untuk memproklamirkan kemerdekaannya secara sepihak. Hal ini disusul dengan pendirian pemerintahan dengan mata uang, angkatan bersenjata, dan wilayah negaranya.
Menjelang akhir keruntuhannya, Seibia menolak keras proklamasi yang dilakukan oleh negara bagian tersebut. Serbia berusaha mempertahankan eksistensi republik Yugoslavia, dan berujung pada perang antar etnik antara Serbia dan Bosnia yang memicu banyak korban jiwa.
Berdasarkan penelusuran Redaksi, tidak ada sumber yang menjelaskan secara detail mengenai pemicu utama dari runtuhnya Yugoslavia, baik masalah ekonomi atau kekosongan kekuasaan atau konflik etnis. Namun secara umum, ketiganya dapat dikatakan berkontribusi pada keruntuhan negara tersebut di awal tahun 1990-an.
Kontributor : I Made Rendika Ardian