Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.890.000
Beli Rp2.750.000
IHSG 7.094,526
LQ45 719,628
Srikehati 343,829
JII 483,464
USD/IDR 17.017

Utang Jumbo, WIKA Sedang Alami Tekanan Finansial

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Selasa, 18 Maret 2025 | 11:23 WIB
Utang Jumbo, WIKA Sedang Alami Tekanan Finansial
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), salah satu perusahaan konstruksi BUMN di Indonesia, mengalami gagal bayar pokok utang dua surat utang berdenominasi rupiah yang jatuh tempo pada 18 Februari 2025 lalu.

Suara.com - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), salah satu perusahaan konstruksi BUMN di Indonesia, mengalami gagal bayar pokok utang dua surat utang berdenominasi rupiah yang jatuh tempo pada 18 Februari 2025 lalu.

WIKA sendiri sudah mendapatkan kesempatan waktu 1 bulan untuk bisa melunasi surat utang sejak jatuh tempo, namun hal tersebut tidak bisa dilakukan perseroan hingga Selasa (18/3/2025).

Kegagalan pembayaran ini menjadi sorotan tajam, mengindikasikan tekanan finansial yang tengah melanda sektor konstruksi nasional, terutama setelah ekspansi infrastruktur besar-besaran dalam satu dekade terakhir.

Menurut laporan dari Bloomberg, kegagalan WIKA dalam memenuhi kewajiban pembayaran ini menjadi bukti nyata dari tantangan keuangan yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan konstruksi di Indonesia. 

Laporan dari PT Bank Mega Tbk selaku wali amanat mengungkapkan bahwa dua surat utang yang gagal dibayar tersebut terdiri dari obligasi konvensional dan sukuk mudharabah yang diterbitkan pada tahun 2022. Total nilai pokok kedua surat utang ini mencapai US$61 juta atau setara dengan Rp 1 triliun.

Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya, Mahendra Vijaya, menyatakan bahwa perusahaan sedang mengkaji langkah-langkah yang akan diambil terkait dengan jatuh tempo utang ini. "Namun, hingga saat ini, WIKA belum memperoleh persetujuan atas permohonan tersebut dalam rapat pemegang obligasi dan sukuk," ujar Mahendra.

Mahendra menambahkan bahwa perusahaan berencana untuk berkoordinasi dengan wali amanat untuk mengadakan rapat kembali. Selain itu, WIKA juga akan berupaya mendekati kreditur untuk mendapatkan persetujuan mereka terkait dengan restrukturisasi utang.

Kegagalan WIKA dalam membayar utang obligasi dan sukuk ini menimbulkan kekhawatiran tentang kesehatan finansial sektor konstruksi secara keseluruhan. Ekspansi infrastruktur yang agresif dalam beberapa tahun terakhir telah membebani neraca keuangan banyak perusahaan konstruksi, termasuk WIKA.

Analis keuangan memperingatkan bahwa kegagalan pembayaran utang oleh perusahaan sebesar WIKA dapat memicu efek domino, mempengaruhi kepercayaan investor dan kreditor terhadap sektor konstruksi Indonesia. Hal ini dapat berdampak pada kemampuan perusahaan-perusahaan lain untuk mendapatkan pendanaan dan melanjutkan proyek-proyek infrastruktur yang sedang berjalan.

Selain itu, kegagalan ini juga dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Sektor konstruksi merupakan salah satu pilar penting dalam perekonomian Indonesia, dan gangguan dalam sektor ini dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Menghadapi situasi ini, WIKA berupaya untuk mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi masalah keuangan yang dihadapi. Perusahaan berencana untuk melakukan restrukturisasi utang dengan berkoordinasi dengan wali amanat dan mendekati kreditur untuk mendapatkan persetujuan.

Selain itu, WIKA juga akan fokus pada peningkatan efisiensi operasional dan pengelolaan proyek untuk memperbaiki arus kas perusahaan. Perusahaan juga akan berupaya untuk mendapatkan proyek-proyek baru yang menguntungkan untuk meningkatkan pendapatan.

Berdasarkan laporan keuangan WIKA hingga kuartal III 2024 tercatat mengantongi pendapatan bersih Rp 12,54 triliun per kuartal III 2024. Raihan ini turun 16,78% dari Rp 15,07 triliun pada kuartal III 2023.

Secara rinci, segmen infrastruktur dan gedung menyumbang paling besar ke pendapatan, yaitu Rp 6,01 triliun. Lalu, segmen industri menyumbang Rp 3,52 triliun, segmen energi dan industrial plant Rp 2,08 triliun, segmen hotel Rp 703,05 miliar, segmen realty dan properti Rp 117,15 miliar, dan segmen investasi Rp 103,20 miliar.

Beban pokok pendapatan turun ke Rp 11,48 triliun di akhir September 2024, dari sebelumnya Rp 13,86 triliun pada periode sama tahun lalu. Alhasil, laba kotor tercatat Rp 1,06 triliun di akhir kuartal III 2024, turun 12,7% secara tahunan alias year on year (yoy) dari Rp 1,21 triliun.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Meroket Naik, Masyarakat RI Terbebani Utang Tembus Rp 6.968 Triliun

Meroket Naik, Masyarakat RI Terbebani Utang Tembus Rp 6.968 Triliun

Bisnis | Senin, 17 Maret 2025 | 14:23 WIB

Prediksi Cak Nun Viral Lagi: Utang Indonesia Menggunung pada 2025, Ada Menteri Undur Diri

Prediksi Cak Nun Viral Lagi: Utang Indonesia Menggunung pada 2025, Ada Menteri Undur Diri

Tekno | Sabtu, 15 Maret 2025 | 17:30 WIB

Peringkat Kredit Indonesia Stagnan, Sri Mulyani Bilang Begini

Peringkat Kredit Indonesia Stagnan, Sri Mulyani Bilang Begini

Bisnis | Rabu, 12 Maret 2025 | 15:49 WIB

Terkini

Pertamina dan POSCO International Jajaki Kerja Sama Pengembangan Teknologi Rendah Karbon

Pertamina dan POSCO International Jajaki Kerja Sama Pengembangan Teknologi Rendah Karbon

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 21:40 WIB

Update Harga BBM SPBU Shell, BP dan Vivo saat Minyak Dunia Lewati USD 100 per Barel

Update Harga BBM SPBU Shell, BP dan Vivo saat Minyak Dunia Lewati USD 100 per Barel

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 20:05 WIB

Indonesia-Korsel Teken 10 MoU Senilai Rp 173 Triliun, Kerja Sama AI hingga Energi Bersih

Indonesia-Korsel Teken 10 MoU Senilai Rp 173 Triliun, Kerja Sama AI hingga Energi Bersih

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 18:38 WIB

IHSG Terus-terusan Anjlok, OJK Salahkan Sentimen Negatif Global

IHSG Terus-terusan Anjlok, OJK Salahkan Sentimen Negatif Global

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 18:05 WIB

Penyebab Rupiah Melemah Tembus Rp17.002 per Dolar AS Hari Ini

Penyebab Rupiah Melemah Tembus Rp17.002 per Dolar AS Hari Ini

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 17:58 WIB

Profil PT PP Presisi Tbk (PPRE): Anak Usaha BUMN, Siapa Saja Pemegang Sahamnya?

Profil PT PP Presisi Tbk (PPRE): Anak Usaha BUMN, Siapa Saja Pemegang Sahamnya?

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 17:44 WIB

RI Masuk 3 Besar Dunia Peminat Aset Kripto Riil, OSL Rilis 'Tabungan' Emas Digital

RI Masuk 3 Besar Dunia Peminat Aset Kripto Riil, OSL Rilis 'Tabungan' Emas Digital

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 17:41 WIB

Pasar Semen Domestik Lesu, SMGR Putar Otak Jualan ke Luar Negeri

Pasar Semen Domestik Lesu, SMGR Putar Otak Jualan ke Luar Negeri

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 16:46 WIB

Dilema Selat Hormuz: DEN Minta Warga Tenang, Stok BBM Nasional Masih Terjaga

Dilema Selat Hormuz: DEN Minta Warga Tenang, Stok BBM Nasional Masih Terjaga

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 16:39 WIB

Impor Mobil Pikap Tembus Rp 975,5 Miliar di Januari-Februari 2026, Buat Kopdes Merah Putih?

Impor Mobil Pikap Tembus Rp 975,5 Miliar di Januari-Februari 2026, Buat Kopdes Merah Putih?

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 16:20 WIB