Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.772.000
Beli Rp2.632.000
IHSG 6.723,320
LQ45 657,880
Srikehati 323,518
JII 437,887
USD/IDR 17.491

Utang Jumbo, WIKA Sedang Alami Tekanan Finansial

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Selasa, 18 Maret 2025 | 11:23 WIB
Utang Jumbo, WIKA Sedang Alami Tekanan Finansial
PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), salah satu perusahaan konstruksi BUMN di Indonesia, mengalami gagal bayar pokok utang dua surat utang berdenominasi rupiah yang jatuh tempo pada 18 Februari 2025 lalu.

Suara.com - PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), salah satu perusahaan konstruksi BUMN di Indonesia, mengalami gagal bayar pokok utang dua surat utang berdenominasi rupiah yang jatuh tempo pada 18 Februari 2025 lalu.

WIKA sendiri sudah mendapatkan kesempatan waktu 1 bulan untuk bisa melunasi surat utang sejak jatuh tempo, namun hal tersebut tidak bisa dilakukan perseroan hingga Selasa (18/3/2025).

Kegagalan pembayaran ini menjadi sorotan tajam, mengindikasikan tekanan finansial yang tengah melanda sektor konstruksi nasional, terutama setelah ekspansi infrastruktur besar-besaran dalam satu dekade terakhir.

Menurut laporan dari Bloomberg, kegagalan WIKA dalam memenuhi kewajiban pembayaran ini menjadi bukti nyata dari tantangan keuangan yang dihadapi oleh perusahaan-perusahaan konstruksi di Indonesia. 

Laporan dari PT Bank Mega Tbk selaku wali amanat mengungkapkan bahwa dua surat utang yang gagal dibayar tersebut terdiri dari obligasi konvensional dan sukuk mudharabah yang diterbitkan pada tahun 2022. Total nilai pokok kedua surat utang ini mencapai US$61 juta atau setara dengan Rp 1 triliun.

Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya, Mahendra Vijaya, menyatakan bahwa perusahaan sedang mengkaji langkah-langkah yang akan diambil terkait dengan jatuh tempo utang ini. "Namun, hingga saat ini, WIKA belum memperoleh persetujuan atas permohonan tersebut dalam rapat pemegang obligasi dan sukuk," ujar Mahendra.

Mahendra menambahkan bahwa perusahaan berencana untuk berkoordinasi dengan wali amanat untuk mengadakan rapat kembali. Selain itu, WIKA juga akan berupaya mendekati kreditur untuk mendapatkan persetujuan mereka terkait dengan restrukturisasi utang.

Kegagalan WIKA dalam membayar utang obligasi dan sukuk ini menimbulkan kekhawatiran tentang kesehatan finansial sektor konstruksi secara keseluruhan. Ekspansi infrastruktur yang agresif dalam beberapa tahun terakhir telah membebani neraca keuangan banyak perusahaan konstruksi, termasuk WIKA.

Analis keuangan memperingatkan bahwa kegagalan pembayaran utang oleh perusahaan sebesar WIKA dapat memicu efek domino, mempengaruhi kepercayaan investor dan kreditor terhadap sektor konstruksi Indonesia. Hal ini dapat berdampak pada kemampuan perusahaan-perusahaan lain untuk mendapatkan pendanaan dan melanjutkan proyek-proyek infrastruktur yang sedang berjalan.

Selain itu, kegagalan ini juga dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi nasional. Sektor konstruksi merupakan salah satu pilar penting dalam perekonomian Indonesia, dan gangguan dalam sektor ini dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Menghadapi situasi ini, WIKA berupaya untuk mengambil langkah-langkah strategis untuk mengatasi masalah keuangan yang dihadapi. Perusahaan berencana untuk melakukan restrukturisasi utang dengan berkoordinasi dengan wali amanat dan mendekati kreditur untuk mendapatkan persetujuan.

Selain itu, WIKA juga akan fokus pada peningkatan efisiensi operasional dan pengelolaan proyek untuk memperbaiki arus kas perusahaan. Perusahaan juga akan berupaya untuk mendapatkan proyek-proyek baru yang menguntungkan untuk meningkatkan pendapatan.

Berdasarkan laporan keuangan WIKA hingga kuartal III 2024 tercatat mengantongi pendapatan bersih Rp 12,54 triliun per kuartal III 2024. Raihan ini turun 16,78% dari Rp 15,07 triliun pada kuartal III 2023.

Secara rinci, segmen infrastruktur dan gedung menyumbang paling besar ke pendapatan, yaitu Rp 6,01 triliun. Lalu, segmen industri menyumbang Rp 3,52 triliun, segmen energi dan industrial plant Rp 2,08 triliun, segmen hotel Rp 703,05 miliar, segmen realty dan properti Rp 117,15 miliar, dan segmen investasi Rp 103,20 miliar.

Beban pokok pendapatan turun ke Rp 11,48 triliun di akhir September 2024, dari sebelumnya Rp 13,86 triliun pada periode sama tahun lalu. Alhasil, laba kotor tercatat Rp 1,06 triliun di akhir kuartal III 2024, turun 12,7% secara tahunan alias year on year (yoy) dari Rp 1,21 triliun.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Meroket Naik, Masyarakat RI Terbebani Utang Tembus Rp 6.968 Triliun

Meroket Naik, Masyarakat RI Terbebani Utang Tembus Rp 6.968 Triliun

Bisnis | Senin, 17 Maret 2025 | 14:23 WIB

Prediksi Cak Nun Viral Lagi: Utang Indonesia Menggunung pada 2025, Ada Menteri Undur Diri

Prediksi Cak Nun Viral Lagi: Utang Indonesia Menggunung pada 2025, Ada Menteri Undur Diri

Tekno | Sabtu, 15 Maret 2025 | 17:30 WIB

Peringkat Kredit Indonesia Stagnan, Sri Mulyani Bilang Begini

Peringkat Kredit Indonesia Stagnan, Sri Mulyani Bilang Begini

Bisnis | Rabu, 12 Maret 2025 | 15:49 WIB

Terkini

5 Saham Ini Paling Banyak Dijual Investor Asing di Sesi I

5 Saham Ini Paling Banyak Dijual Investor Asing di Sesi I

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 13:33 WIB

IHSG Keok ke 6.400, Purbaya Minta Investor Tak Takut: Serok Bawah Sekarang, 1-2 Hari Balik

IHSG Keok ke 6.400, Purbaya Minta Investor Tak Takut: Serok Bawah Sekarang, 1-2 Hari Balik

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 13:06 WIB

Rupiah Makin Jeblok ke Rp 17.660, Purbaya Tuding Gegara Ada Sentimen 1998

Rupiah Makin Jeblok ke Rp 17.660, Purbaya Tuding Gegara Ada Sentimen 1998

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 12:55 WIB

Penyebab IHSG Ambles 3,76% pada Sesi I Hari Ini

Penyebab IHSG Ambles 3,76% pada Sesi I Hari Ini

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 12:47 WIB

Saham BCA Punya Harapan, Segini Target Harga Hari Ini

Saham BCA Punya Harapan, Segini Target Harga Hari Ini

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 12:31 WIB

Ucapan Prabowo Cukup Buat Rupiah Cetak Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah Hari Ini

Ucapan Prabowo Cukup Buat Rupiah Cetak Rekor Terburuk Sepanjang Sejarah Hari Ini

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 12:22 WIB

Rupiah Tembus Rp17.658, Pengamat Soroti Pernyataan Prabowo

Rupiah Tembus Rp17.658, Pengamat Soroti Pernyataan Prabowo

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 12:14 WIB

Ambisi Raksasa PSEL Danantara: Target IPO 2028 di Tengah Penundaan dan Penolakan Keras Daerah

Ambisi Raksasa PSEL Danantara: Target IPO 2028 di Tengah Penundaan dan Penolakan Keras Daerah

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 11:59 WIB

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp7.649 Triliun di Bulan Mei

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp7.649 Triliun di Bulan Mei

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 11:48 WIB

Pihak-pihak Ini Senang Dengar Rupiah Melemah

Pihak-pihak Ini Senang Dengar Rupiah Melemah

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 11:31 WIB