Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.798.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 6.905,620
LQ45 668,634
Srikehati 330,295
JII 446,889
USD/IDR 17.410

Asing "Mudik" Duluan, Gondol Uang Triliunan dari RI

Mohammad Fadil Djailani | Suara.com

Senin, 24 Maret 2025 | 14:31 WIB
Asing "Mudik" Duluan, Gondol Uang Triliunan dari RI
Pengunjung melhat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (18/3/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Arus dana asing tercatat melakukan aksi jual bersih (net sell) dari pasar keuangan domestik Indonesia pada pekan lalu. Aksi outflow (arus keluar) ini terjadi selama dua pekan berturut-turut, didominasi oleh penjualan di pasar saham.

Data terbaru dari Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa investor asing telah menarik dana triliunan rupiah dari Indonesia, seolah "mudik duluan" sebelum periode mudik Lebaran yang biasanya terjadi.

Berdasarkan data transaksi yang dirilis oleh BI pada tanggal 17-20 Maret 2025, investor asing mencatatkan jual neto sebesar Rp4,25 triliun. Rinciannya, terjadi jual neto sebesar Rp4,78 triliun di pasar saham, beli neto sebesar Rp1,20 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dan jual neto sebesar Rp0,67 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Secara kumulatif, sepanjang tahun 2025 hingga tanggal 20 Maret 2025, investor asing tercatat telah melakukan jual neto sebesar Rp28,10 triliun di pasar saham. Namun, di sisi lain, mereka juga mencatatkan beli neto sebesar Rp23,87 triliun di pasar SBN dan Rp8,58 triliun di SRBI.

Aksi jual bersih yang signifikan di pasar saham ini menimbulkan kekhawatiran tentang potensi dampak terhadap stabilitas pasar keuangan Indonesia. Penarikan dana asing dalam jumlah besar dapat memicu volatilitas pasar saham dan memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah. Meskipun demikian, pembelian neto di pasar SBN dan SRBI menunjukkan bahwa investor asing masih memiliki minat pada instrumen keuangan tertentu di Indonesia.

Fenomena "mudik duluan" oleh investor asing ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk sentimen pasar global, ekspektasi kebijakan moneter di negara-negara maju, dan kondisi ekonomi domestik. Ketidakpastian global, seperti potensi kenaikan suku bunga di Amerika Serikat, dapat mendorong investor untuk menarik dana dari pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Selain itu, faktor-faktor domestik seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan stabilitas politik juga dapat mempengaruhi keputusan investasi asing. Investor asing cenderung lebih berhati-hati dalam berinvestasi di negara-negara dengan tingkat ketidakpastian yang tinggi.

Bank Indonesia terus memantau perkembangan arus modal asing dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. BI juga berkoordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memastikan bahwa kondisi ekonomi makro Indonesia tetap kondusif bagi investasi asing.

Meskipun terjadi outflow dana asing, pasar SBN dan SRBI masih mencatatkan pembelian neto, hal ini mengindikasikan bahwa kepercayaan investor asing terhadap fundamental ekonomi Indonesia masih terjaga.

Namun, pemerintah dan otoritas terkait perlu mewaspadai adanya tren outflow di pasar saham. Perlunya menjaga stabilitas ekonomi makro dan menjaga kepercayaan investor asing dengan kebijakan yang tepat.

Pergerakan modal asing ini berdampak pada peningkatan premi risiko investasi di Indonesia. Premi CDS Indonesia 5 tahun per 20 Maret 2025 tercatat sebesar 88,51 basis poin (bps), naik dibandingkan dengan 14 Maret 2025 yang sebesar 81,20 bps. Kenaikan CDS ini mengindikasikan bahwa investor memandang risiko investasi di Indonesia semakin tinggi.

"BI terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk mendukung ketahanan eksternal ekonomi Indonesia," ujar Denny, seorang pejabat Bank Indonesia.

Beberapa faktor diduga menjadi penyebab keluarnya modal asing dari pasar keuangan Indonesia. Salah satunya adalah ketidakpastian ekonomi global, yang dipicu oleh berbagai isu seperti inflasi, kenaikan suku bunga di negara-negara maju, dan tensi geopolitik. Kondisi ini mendorong investor untuk mencari aset yang dianggap lebih aman.

Selain itu, faktor domestik juga turut mempengaruhi arus modal asing. Ketidakpastian kebijakan, kondisi pasar keuangan domestik, dan sentimen negatif dari investor dapat memicu keluarnya modal dari Indonesia.

Keluarnya modal asing dapat memberikan dampak negatif terhadap ekonomi Indonesia. Salah satunya adalah pelemahan nilai tukar rupiah. Ketika investor asing menjual aset-aset mereka dan menarik modal dari Indonesia, permintaan terhadap rupiah menurun, yang pada akhirnya dapat melemahkan nilai tukar mata uang tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Investor Lokal Resah, Luhut Bicara Kondisi Ekonomi Terkini

Investor Lokal Resah, Luhut Bicara Kondisi Ekonomi Terkini

Bisnis | Senin, 24 Maret 2025 | 14:16 WIB

Jangan Sampai Kehabisan! Cara Tukar Uang Baru di PINTAR BI untuk Lebaran 2025

Jangan Sampai Kehabisan! Cara Tukar Uang Baru di PINTAR BI untuk Lebaran 2025

Lifestyle | Senin, 24 Maret 2025 | 14:00 WIB

Bareskrim Polri Subdit V Siap Jemput Investor yang 'Kabur' dari IHSG

Bareskrim Polri Subdit V Siap Jemput Investor yang 'Kabur' dari IHSG

Bisnis | Senin, 24 Maret 2025 | 12:28 WIB

Terkini

Rupiah Terkapar ke Level Rp17.500 per Dolar AS, Cetak Rekor Buruk Baru Sore Ini

Rupiah Terkapar ke Level Rp17.500 per Dolar AS, Cetak Rekor Buruk Baru Sore Ini

Bisnis | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:54 WIB

PTFI dan Masyarakat Papua Tengah: 10 Tahun Perubahan, Harapan Baru untuk Ekonomi Berkelanjutan

PTFI dan Masyarakat Papua Tengah: 10 Tahun Perubahan, Harapan Baru untuk Ekonomi Berkelanjutan

Bisnis | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:53 WIB

Langkah Tegas, DJP Jawa Timur Blokir Rekening 3.185 Penunggak Pajak di 11 Bank

Langkah Tegas, DJP Jawa Timur Blokir Rekening 3.185 Penunggak Pajak di 11 Bank

Bisnis | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:39 WIB

Pesan Tegas Purbaya: Jabatan Adalah Fungsi Pelayanan, Bukan Sekadar Fasilitas

Pesan Tegas Purbaya: Jabatan Adalah Fungsi Pelayanan, Bukan Sekadar Fasilitas

Bisnis | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:32 WIB

Si Kaya Borong Mobil Listrik, Si Miskin Ribut Upah Tak Naik

Si Kaya Borong Mobil Listrik, Si Miskin Ribut Upah Tak Naik

Bisnis | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:29 WIB

Rupiah Anjlok Rp17.500 per Dolar AS, Suku Bunga Berpotensi Naik

Rupiah Anjlok Rp17.500 per Dolar AS, Suku Bunga Berpotensi Naik

Bisnis | Selasa, 12 Mei 2026 | 15:03 WIB

LPEM FEB UI: Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen dari BPS Meragukan, Ada Data Tak Logis

LPEM FEB UI: Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen dari BPS Meragukan, Ada Data Tak Logis

Bisnis | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:47 WIB

Hindari Saham-saham Ini Jelang Rebalancing MSCI

Hindari Saham-saham Ini Jelang Rebalancing MSCI

Bisnis | Selasa, 12 Mei 2026 | 14:47 WIB

Loker BUMN: BRI Buka Lowongan Hingga Juli 2026, Fresh Graduate Bisa Daftar

Loker BUMN: BRI Buka Lowongan Hingga Juli 2026, Fresh Graduate Bisa Daftar

Bisnis | Selasa, 12 Mei 2026 | 13:32 WIB

Purbaya Tegaskan Tak Ada Lagi Tax Amnesty, Kecuali Perintah Presiden

Purbaya Tegaskan Tak Ada Lagi Tax Amnesty, Kecuali Perintah Presiden

Bisnis | Selasa, 12 Mei 2026 | 13:09 WIB