Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.655.000
Beli Rp2.530.000
IHSG 6.177,139
LQ45 609,402
Srikehati 299,172
JII 368,427
USD/IDR 17.821

RI Darurat Pengangguran! 7,28 Juta Orang Tidak Bekerja

Mohammad Fadil Djailani

Senin, 05 Mei 2025 | 12:42 WIB
RI Darurat Pengangguran! 7,28 Juta Orang Tidak Bekerja
Para pencari kerja mencari lowongan pekerjaan dalam Jakarta Job Fair 2024 yang berlangsun dari tanggal 28-29 Mei di Thamrin City, Jakarta, Rabu (29/5/2024). [Suara.com/Alfian Winanto]

Suara.com - Kabar kurang sedap menghampiri pasar tenaga kerja Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini, Senin (5/5/2025), mengumumkan data terbaru yang menunjukkan peningkatan signifikan jumlah pengangguran di Tanah Air. Per Februari 2025, tercatat sebanyak 7,28 juta orang menyandang status penganggur, sebuah lonjakan yang memicu kekhawatiran akan kondisi ketenagakerjaan nasional.

Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam konferensi persnya menjelaskan bahwa peningkatan jumlah pengangguran ini sejalan dengan bertambahnya angkatan kerja dalam setahun terakhir. Sebanyak 3,67 juta orang tercatat memasuki pasar kerja, sehingga total angkatan kerja Indonesia kini mencapai 153,05 juta orang.

"Angkatan kerja itu di dalamnya ada yang sudah bekerja dan ada yang menganggur. Dari jumlah itu, tercatat yang sudah bekerja sebanyak 145,77 juta orang atau bertambah 3,59 juta orang dibandingkan periode yang sama tahun lalu," ungkap Amalia dalam konfrensi persnya di Jakarta, Senin (5/5/2025).

Sayangnya, pertumbuhan penyerapan tenaga kerja tidak mampu mengimbangi laju penambahan angkatan kerja. Akibatnya, 83,45 ribu orang baru terpaksa menjadi penganggur, meningkatkan total jumlah pengangguran menjadi 7,28 juta orang. "Dibandingkan dengan Februari 2024, per Februari 2025 jumlah orang yang menganggur meningkat 83,45 ribu orang yang naik kira-kira 1,11%," tegas Amalia.

Meskipun jumlah pengangguran meningkat, BPS mencatat adanya penurunan tipis pada Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Pada Februari 2025, TPT berada di angka 4,76%, lebih rendah dibandingkan Februari 2024 yang sebesar 4,82%. Penurunan ini terutama disumbang oleh TPT perempuan yang mengalami penurunan.

"Sedangkan TPT laki-laki mengalami peningkatan sebesar 0,02% basis poin. Penurunan TPT konsisten terjadi di wilayah perkotaan maupun pedesaan," beber Amalia, menimbulkan pertanyaan mengenai dinamika pasar kerja berdasarkan gender.

Kabar baiknya, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) menunjukkan tren positif. Pada Februari 2025, TPAK mencapai 70,60%, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 69,80%. Menariknya, peningkatan TPAK perempuan tercatat lebih tinggi dibandingkan laki-laki, meskipun secara keseluruhan TPAK laki-laki masih mendominasi (84,34% berbanding 56,70%).

"Jika dibandingkan Februari 2024, peningkatan TPAK perempuan lebih tinggi dibandingkan peningkatan TPAK laki-laki," ujar Amalia, mengindikasikan peran perempuan yang semakin signifikan dalam pasar kerja.

Lebih lanjut, BPS memaparkan tiga sektor lapangan usaha yang masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, yaitu pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan. Jika dibandingkan dengan Februari 2024, sebagian besar lapangan usaha mengalami peningkatan jumlah tenaga kerja.

baca juga

"Lapangan usaha perdagangan mengalami peningkatan jumlah tenaga kerja terbanyak yaitu sebesar 0,98 juta orang. Disusul oleh lapangan usaha pertanian yang mengalami peningkatan 0,89 juta orang dan industri pengolahan 0,72 juta orang," ungkap Amalia, menunjukkan bahwa sektor-sektor tradisional masih memegang peranan penting dalam menciptakan lapangan kerja.

Meskipun TPT menunjukkan penurunan tipis, peningkatan absolut jumlah pengangguran menjadi perhatian serius. Hal ini mengindikasikan bahwa pasar kerja belum sepenuhnya mampu menyerap seluruh angkatan kerja baru yang terus bertambah. Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak dan berkualitas, terutama di sektor-sektor yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi.

Data ini menjadi alarm bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan ketenagakerjaan yang ada. Peningkatan kualitas sumber daya manusia, penciptaan iklim investasi yang kondusif, dan pengembangan sektor-sektor ekonomi yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar menjadi kunci untuk mengatasi tantangan pengangguran di Indonesia. Situasi "darurat pengangguran" ini menuntut aksi nyata dan kolaborasi dari berbagai pihak agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Lesu! Ekonomi Indonesia Kuartal I 2025 di Bawah 5 Persen

Lesu! Ekonomi Indonesia Kuartal I 2025 di Bawah 5 Persen

Bisnis | Senin, 05 Mei 2025 | 11:59 WIB

BI Yakin Inflasi Tetap Terjaga, Apa Faktornya?

BI Yakin Inflasi Tetap Terjaga, Apa Faktornya?

Bisnis | Minggu, 04 Mei 2025 | 07:22 WIB

Bos BPS Buka-bukaan Standar Miskin Orang Indonesia

Bos BPS Buka-bukaan Standar Miskin Orang Indonesia

Bisnis | Sabtu, 03 Mei 2025 | 16:41 WIB

Terkini

3 Saham Paling 'Sibuk' pada Sesi I, IHSG Ambrol di Zona Merah

3 Saham Paling 'Sibuk' pada Sesi I, IHSG Ambrol di Zona Merah

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 13:35 WIB

Gubernur BI: UMKM Jangan Langsung Diberi Modal

Gubernur BI: UMKM Jangan Langsung Diberi Modal

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 13:29 WIB

Tak Mau Disalahkan, Bahlil Serahkan Urusan Mati Lampu ke PLN

Tak Mau Disalahkan, Bahlil Serahkan Urusan Mati Lampu ke PLN

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 13:13 WIB

Listrik Byar Pet, Pengamat UGM: PLN Jangan Jadi 'Perusahaan Lilin Negara'

Listrik Byar Pet, Pengamat UGM: PLN Jangan Jadi 'Perusahaan Lilin Negara'

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 13:09 WIB

IHSG Loyo Nyaris ke Level 5.900, 501 Saham Kebakaran

IHSG Loyo Nyaris ke Level 5.900, 501 Saham Kebakaran

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 12:54 WIB

Harga Minyakita Naik? Pengamat Ungkap Penyebabnya Hingga Langka di Pasaran

Harga Minyakita Naik? Pengamat Ungkap Penyebabnya Hingga Langka di Pasaran

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 12:36 WIB

PLN Tegaskan Listrik Jawa Sudah Pulih, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

PLN Tegaskan Listrik Jawa Sudah Pulih, Apa yang Sebenarnya Terjadi?

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 12:03 WIB

Kejar Penerimaan Pajak, DJP Akui Coretax Bisa Pantau Transaksi Bank hingga Konsumsi Listrik Warga

Kejar Penerimaan Pajak, DJP Akui Coretax Bisa Pantau Transaksi Bank hingga Konsumsi Listrik Warga

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 11:54 WIB

Daftar Harga Pangan Hari Ini: Hampir Semua Komoditas Kompak Meroket!

Daftar Harga Pangan Hari Ini: Hampir Semua Komoditas Kompak Meroket!

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 11:40 WIB

YLKI Desak PLN Tanggung Jawab Pemadaman Listrik Berulang, Soroti Kompensasi Konsumen

YLKI Desak PLN Tanggung Jawab Pemadaman Listrik Berulang, Soroti Kompensasi Konsumen

Bisnis | Senin, 22 Juni 2026 | 11:11 WIB