Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.890.000
Beli Rp2.750.000
IHSG 7.094,526
LQ45 719,628
Srikehati 343,829
JII 483,464
USD/IDR 17.017

Hilirisasi Harus Jadi Strategi Nasional Jangka Panjang, Bukan Sekadar Kebijakan Sektoral

Achmad Fauzi | Suara.com

Selasa, 06 Mei 2025 | 07:52 WIB
Hilirisasi Harus Jadi Strategi Nasional Jangka Panjang, Bukan Sekadar Kebijakan Sektoral
Pekerja dibantu alat berat memulai pembangunan proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimetil Eter (DME) di Kawasan Industri Tanjung Enim, Tanjung Lalang, Tanjung Agung, Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin (24/1/2022). [ANTARA FOTO/Nova Wahyudi]

Suara.com - Hilirisasi bukan lagi wacana kebijakan yang terbatas di ruang-ruang kementerian. Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tuntutan kemandirian ekonomi nasional, hilirisasi harus dipahami sebagai strategi besar bangsa, bukan sekadar kebijakan sektoral yang reaktif.

Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya, menegaskan bahwa hilirisasi seharusnya menjadi gerakan nasional yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, karena menyangkut arah masa depan Indonesia.

"Ini bukan semata soal industri, tapi soal arah masa depan bangsa. Hilirisasi harus menjadi gerakan nasional. Semua anak bangsa harus punya perspektif yang sama bahwa inilah jalan menuju kemandirian dan kemajuan Indonesia," ujar Bambang di Jakarta, Selasa (6/5/2025).

Pernyataan itu menandakan pentingnya perubahan paradigma dalam memandang hilirisasi, dari yang semula hanya berfokus pada pelarangan ekspor bahan mentah, menjadi upaya terintegrasi untuk membangun kedaulatan atas sumber daya alam.

Hilirisasi bukan sekadar menjual lebih mahal, tetapi membangun kemandirian teknologi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global.

Fondasi hukum sebenarnya sudah ada. Undang-Undang Minerba sejak 2009 dan revisinya pada UU Nomor 3 Tahun 2020 telah memberi mandat yang jelas untuk melarang ekspor bijih mineral mentah. Pemerintah pun sudah bergerak, antara lain dengan membentuk Satuan Tugas Hilirisasi dan Ketahanan Energi yang diketuai oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.

Inisiatif ini dinilai sudah menunjukkan hasil. Hilirisasi nikel, misalnya, diproyeksikan menciptakan 180 ribu lapangan kerja baru dan menambah Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar USD 15,8 miliar pada tahun 2030.

Namun, menurut Bambang, semua pencapaian tersebut masih berada di permukaan. Tantangan mendasar masih membayangi pelaksanaan hilirisasi di berbagai daerah. Mulai dari infrastruktur yang belum merata, kurangnya kesiapan sumber daya manusia dan teknologi, hingga regulasi yang tumpang tindih antarinstansi.

Selain itu, sistem logistik dan kawasan industri belum efisien, sementara pelaku UMKM masih kesulitan mengakses pembiayaan dan masuk ke rantai pasok industri.

Selain tantangan domestik, tekanan global terhadap pengurangan emisi karbon juga menjadi penentu arah kebijakan hilirisasi. Dunia menuntut industri yang lebih ramah lingkungan.

Maka, hilirisasi bukan hanya tentang efisiensi dan nilai tambah, tetapi juga soal keberlanjutan dan reputasi Indonesia di pasar global. Tanpa inovasi teknologi hijau, produk hilir Indonesia akan kalah saing, bahkan ditolak pasar internasional.

Menyadari kompleksitas tantangan tersebut, Bambang mendorong kolaborasi yang lebih kuat antar kementerian dan lembaga. Ia menekankan pentingnya sinergi dalam percepatan pembangunan infrastruktur, penyusunan regulasi yang konsisten, serta penciptaan iklim investasi yang inklusif dan berkelanjutan.

Proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimetil Eter (DME) di Kawasan Industri Tanjung Enim, Tanjung Lalang, Tanjung Agung, Muara Enim, Sumatera Selatan. [ANTARA]
Proyek hilirisasi batu bara menjadi Dimetil Eter (DME) di Kawasan Industri Tanjung Enim, Tanjung Lalang, Tanjung Agung, Muara Enim, Sumatera Selatan. [ANTARA]

Tak kalah penting adalah digitalisasi industri, penguatan pelaku usaha lokal, serta peningkatan kapasitas tenaga kerja melalui pelatihan berkelanjutan.

Bambang menyampaikan bahwa hilirisasi tidak boleh hanya menjadi proyek elite pemerintah. Kemandirian ekonomi tidak akan terwujud jika hilirisasi gagal menjadi kesadaran kolektif bangsa. Ini adalah momen di mana seluruh komponen negara harus bergerak dalam satu arah.

"Kalau kita ingin berdikari secara ekonomi dan jadi pemain global, hilirisasi harus jadi kesadaran kolektif. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi tugas kita bersama sebagai bangsa," imbuh dia.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bauksit Kunci Hilirisasi Mineral, Pemerintah dan Pelaku Usaha Siapkan Akselerasi Industri Alumina

Bauksit Kunci Hilirisasi Mineral, Pemerintah dan Pelaku Usaha Siapkan Akselerasi Industri Alumina

Bisnis | Kamis, 01 Mei 2025 | 19:19 WIB

Elnusa Petrofin Terus Dukung Ketahanan Energi dan Optimalisasi Hilirisasi Migas di Wilayah Kalbar

Elnusa Petrofin Terus Dukung Ketahanan Energi dan Optimalisasi Hilirisasi Migas di Wilayah Kalbar

Bisnis | Senin, 28 April 2025 | 06:02 WIB

Perkuat Hilirisasi, Petrokimia Gresik Genjot Penggunaan Sulfur untuk Pertanian dan Industri

Perkuat Hilirisasi, Petrokimia Gresik Genjot Penggunaan Sulfur untuk Pertanian dan Industri

Bisnis | Sabtu, 26 April 2025 | 21:00 WIB

Terkini

Indonesia-Korsel Teken 10 MoU Senilai Rp 173 Triliun, Kerja Sama AI hingga Energi Bersih

Indonesia-Korsel Teken 10 MoU Senilai Rp 173 Triliun, Kerja Sama AI hingga Energi Bersih

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 18:38 WIB

IHSG Terus-terusan Anjlok, OJK Salahkan Sentimen Negatif Global

IHSG Terus-terusan Anjlok, OJK Salahkan Sentimen Negatif Global

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 18:05 WIB

Penyebab Rupiah Melemah Tembus Rp17.002 per Dolar AS Hari Ini

Penyebab Rupiah Melemah Tembus Rp17.002 per Dolar AS Hari Ini

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 17:58 WIB

Profil PT PP Presisi Tbk (PPRE): Anak Usaha BUMN, Siapa Saja Pemegang Sahamnya?

Profil PT PP Presisi Tbk (PPRE): Anak Usaha BUMN, Siapa Saja Pemegang Sahamnya?

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 17:44 WIB

RI Masuk 3 Besar Dunia Peminat Aset Kripto Riil, OSL Rilis 'Tabungan' Emas Digital

RI Masuk 3 Besar Dunia Peminat Aset Kripto Riil, OSL Rilis 'Tabungan' Emas Digital

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 17:41 WIB

Pasar Semen Domestik Lesu, SMGR Putar Otak Jualan ke Luar Negeri

Pasar Semen Domestik Lesu, SMGR Putar Otak Jualan ke Luar Negeri

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 16:46 WIB

Dilema Selat Hormuz: DEN Minta Warga Tenang, Stok BBM Nasional Masih Terjaga

Dilema Selat Hormuz: DEN Minta Warga Tenang, Stok BBM Nasional Masih Terjaga

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 16:39 WIB

Impor Mobil Pikap Tembus Rp 975,5 Miliar di Januari-Februari 2026, Buat Kopdes Merah Putih?

Impor Mobil Pikap Tembus Rp 975,5 Miliar di Januari-Februari 2026, Buat Kopdes Merah Putih?

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 16:20 WIB

Data BPS Ungkap Emas Deflasi di Maret 2026 Usai Inflasi 30 Bulan Beruntun

Data BPS Ungkap Emas Deflasi di Maret 2026 Usai Inflasi 30 Bulan Beruntun

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 15:40 WIB

Bulog Tegaskan Komitmen Dukung Petani Tebu Blora, Siap Fasilitasi Penyaluran ke PG di Jawa Tengah

Bulog Tegaskan Komitmen Dukung Petani Tebu Blora, Siap Fasilitasi Penyaluran ke PG di Jawa Tengah

Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 15:32 WIB