Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Pemerintah Sebut Dampak Tambang di Pulau Kecil Bakal Terlihat saat Cuaca Buruk

Iwan Supriyatna, Achmad Fauzi

Rabu, 11 Juni 2025 | 16:37 WIB
Pemerintah Sebut Dampak Tambang di Pulau Kecil Bakal Terlihat saat Cuaca Buruk
Ilustrasi cuaca buruk. [SuaraSulsel.id/Basarnas Sulsel]

Suara.com - Pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan, untuk melihat dampak nyata dari aktivitas pertambangan di wilayah pulau-pulau kecil seperti Raja Ampat, dibutuhkan waktu dan sangat bergantung pada kondisi cuaca.

Direktur Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil KKP, Ahmad Aris, mengatakan, pihaknya telah menurunkan tim dari Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) ke lokasi untuk melihat langsung dampak pertambangan di wilayah tersebut.

Meski demikian, Aris menegaskan bahwa proses pemantauan ini membutuhkan waktu, terutama karena pengaruh kondisi cuaca yang hingga saat ini masih tergolong baik.

"Kalau misalnya cuacanya baik-baik saja, tidak ada gelombang, tidak ada hujan, itu dampaknya belum terlihat. Itu baru lihat dampaknya kalau nanti ada hujan sehingga akhirnya ke laut, kemudian ke kita ke ada arus terbawa. Jadi itu proses itu butuh waktu, butuh proses untuk melihat dampak-dampak itu," ujar Aris di Kantor KKP, Jakarta, Rabu (11/6/2025).

Aris menjelaskan, salah satu dampak utama dari aktivitas pertambangan di wilayah pesisir dan pulau kecil adalah sedimentasi.

Fenomena ini terjadi ketika material dari pertambangan terbawa air hujan ke laut, lalu mengendap di dasar laut dan menutupi ekosistem yang ada.

"Dampaknya sedimentasi. Kalau dari atas misalnya ada hujan, mengalir ke laut, sedimen-sedimen kan masuk. Itu kan menutupi terumbu karang, lamun, dan sebagainya," beber dia.

Menurut Aris, kondisi ini sangat berbahaya karena terumbu karang dan padang lamun merupakan habitat penting bagi berbagai jenis biota laut, serta menjadi indikator kesehatan ekosistem laut secara umum.

Jika terus dibiarkan, sedimentasi bisa mengancam kelestarian hayati kawasan dan merusak sumber penghidupan masyarakat pesisir.

Ia juga mengingatkan bahwa kerusakan ekosistem pesisir akibat tambang dapat berdampak luas terhadap sektor perikanan dan pariwisata.

Terumbu karang dan lamun bukan hanya penting bagi kelangsungan hidup ikan-ikan kecil dan proses pemijahan, tetapi juga menjadi daya tarik wisata bahari.

"Yang ekosistem pesisir kan mungkin bapak-ibu semua tahu bahwa itu adalah tempat memijahnya ikan, tempat untuk kegiatan-kegiatan wisata bahari. Karena di situ ada koral, lamun, ikan, dan sebagainya," pungkas dia.

Pertambangan adalah proses ekstraksi mineral berharga dan material geologis lainnya dari bumi. Sejak zaman purba, aktivitas ini telah menjadi pilar penting dalam peradaban manusia, menyediakan bahan baku untuk konstruksi, energi, teknologi, dan berbagai industri lainnya.

Mulai dari emas dan perak yang menjadi simbol kekayaan, hingga batu bara yang memicu revolusi industri, pertambangan telah membentuk sejarah dan kemajuan global.

Proses pertambangan modern melibatkan eksplorasi geologi untuk mengidentifikasi deposit mineral, penggalian terbuka atau bawah tanah, pemrosesan material untuk memisahkan mineral berharga dari batuan, dan reklamasi lahan setelah operasi selesai.

Teknologi canggih seperti pemetaan satelit, pengeboran otomatis, dan sistem pemantauan lingkungan semakin umum digunakan untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi dampak lingkungan.

Namun, pertambangan juga membawa tantangan serius. Kerusakan lingkungan seperti deforestasi, erosi tanah, pencemaran air dan udara, serta hilangnya habitat alami adalah masalah yang seringkali menyertai kegiatan ini.

Selain itu, masalah sosial seperti konflik lahan dengan masyarakat lokal, kondisi kerja yang tidak aman, dan dampak kesehatan akibat paparan debu dan bahan kimia juga menjadi perhatian.

Oleh karena itu, praktik pertambangan berkelanjutan menjadi semakin penting. Ini melibatkan penerapan teknologi yang lebih bersih, pengelolaan limbah yang efektif, rehabilitasi lahan yang terdegradasi, serta keterlibatan aktif dengan masyarakat lokal untuk memastikan manfaat ekonomi dan sosial yang adil.

Dengan pendekatan yang bertanggung jawab, pertambangan dapat terus memberikan kontribusi bagi kemajuan peradaban sambil meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan dan masyarakat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Polemik Tambang Nikel Raja Ampat, Pemerintah Ubah Aturan Pemanfaatan Pulau Kecil

Polemik Tambang Nikel Raja Ampat, Pemerintah Ubah Aturan Pemanfaatan Pulau Kecil

Bisnis | Rabu, 11 Juni 2025 | 16:18 WIB

Alasan Pemilik Namai Kapal JKW Mahakam dan Dewi Iriana, Terafiliasi Jokowi?

Alasan Pemilik Namai Kapal JKW Mahakam dan Dewi Iriana, Terafiliasi Jokowi?

Bisnis | Rabu, 11 Juni 2025 | 10:25 WIB

Bahlil Cabut 4 IUP Tambang Nikel Raja Ampat, Pengusaha Buka Suara

Bahlil Cabut 4 IUP Tambang Nikel Raja Ampat, Pengusaha Buka Suara

Bisnis | Selasa, 10 Juni 2025 | 19:46 WIB

Terkini

Belajar dari Blackout Sumatra, Cuaca Kini Jadi Faktor Krusial Sistem Listrik

Belajar dari Blackout Sumatra, Cuaca Kini Jadi Faktor Krusial Sistem Listrik

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 19:24 WIB

ESDM Kantongi 24 Ribu Hektare Lahan untuk Proyek PLTS

ESDM Kantongi 24 Ribu Hektare Lahan untuk Proyek PLTS

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 19:09 WIB

Rohis Pegadaian Wujudkan Satu Ketulusan Sejuta Kebermanfaatan: Distribusi 4.500 Paket Daging Kurban

Rohis Pegadaian Wujudkan Satu Ketulusan Sejuta Kebermanfaatan: Distribusi 4.500 Paket Daging Kurban

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 19:07 WIB

Emiten MPMX Tebar Dividen Rp 170 per Saham

Emiten MPMX Tebar Dividen Rp 170 per Saham

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 19:01 WIB

Memahami Pentingnya Layanan Keuangan Terdaftar dan Diawasi OJK

Memahami Pentingnya Layanan Keuangan Terdaftar dan Diawasi OJK

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 18:52 WIB

Jangan Salah, Angin Kencang Bisa Sebabkan Kabel Listrik Putus dan Picu Blackout

Jangan Salah, Angin Kencang Bisa Sebabkan Kabel Listrik Putus dan Picu Blackout

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 18:48 WIB

Indodax Salurkan Hewan Kurban ke Wilayah Aceh yang Terdampak Bencana

Indodax Salurkan Hewan Kurban ke Wilayah Aceh yang Terdampak Bencana

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 18:45 WIB

Siasat DSI Kurung Devisa CPO dan Batu Bara di Dalam Negeri, Rupiah Bakal Perkasa Juara?

Siasat DSI Kurung Devisa CPO dan Batu Bara di Dalam Negeri, Rupiah Bakal Perkasa Juara?

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 17:47 WIB

Resmi, Pemerintah Izinkan BLU Impor Minyak dan LPG

Resmi, Pemerintah Izinkan BLU Impor Minyak dan LPG

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 17:44 WIB

PT DSI Kendalikan Ekspor, ESDM Rampungkan Konsolidasi Data Pertambangan dengan Danantara

PT DSI Kendalikan Ekspor, ESDM Rampungkan Konsolidasi Data Pertambangan dengan Danantara

Bisnis | Jum'at, 29 Mei 2026 | 17:18 WIB