Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Ekonomi Loyo, Pajak Ambles Rp77 Triliun: APBN Mei 2025 Minus!

Mohammad Fadil Djailani

Selasa, 17 Juni 2025 | 19:23 WIB
Ekonomi Loyo, Pajak Ambles Rp77 Triliun: APBN Mei 2025 Minus!
Kondisi ekonomi nasional yang lesu telah memukul telak realisasi penerimaan pajak, yang per 31 Mei 2025 harus anjlok 10,3 persen menjadi hanya Rp683,3 triliun.

Suara.com - Kabar kurang menggembirakan datang dari pos penerimaan negara. Kondisi ekonomi nasional yang lesu telah memukul telak realisasi penerimaan pajak, yang per 31 Mei 2025 harus anjlok 10,3 persen menjadi hanya Rp683,3 triliun.

Angka ini turun drastis jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu yang mencapai Rp760,38 triliun, atau setara dengan penurunan sekitar Rp77 triliun.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dalam konferensi pers APBN KiTA di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (17/6/2025), mengungkapkan bahwa jumlah pajak yang terkumpul itu baru mencapai 31,2 persen dari target tahun 2025.

"Pajak dalam hal ini terkumpul Rp 683,3 triliun atau 31,2 persen dari target tahun 2025," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers APBN KiTA di Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (17/6/2025).

Secara keseluruhan, total pendapatan negara hingga Mei 2025 terkumpul Rp995,3 triliun. Selain dari penerimaan pajak, pos pendapatan lainnya berasal dari kepabeanan dan cukai yang menyumbang Rp122,9 triliun, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang mencapai Rp188,7 triliun.

Di sisi lain, belanja negara justru menunjukkan tren yang lebih besar, terealisasi Rp1.016,3 triliun sampai Mei 2025. Angka ini berasal dari belanja pemerintah pusat, yang mencakup belanja Kementerian/Lembaga (K/L) sebesar Rp325,7 triliun dan belanja non-K/L sebesar Rp368,5 triliun. Selain itu, transfer ke daerah juga menyumbang Rp322 triliun.

Dengan kondisi pendapatan yang melambat sementara belanja tetap berjalan, posisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per 31 Mei 2025 mengalami defisit Rp21 triliun. Realisasi ini setara dengan 0,09% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

"Keseluruhan APBN kita posisi 31 Mei 2025 mengalami defisit Rp21 triliun. Kalau bulan lalu (April) surplus Rp4,3 triliun, bulan ini (Mei) defisit Rp21 triliun," kata Sri Mulyani.

Sebelumnya Sri Mulyani juga menyoroti dengan serius peningkatan ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel yang semakin memanas, memperingatkan bahwa situasi ini telah memberikan tekanan signifikan terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.

Konflik di Timur Tengah, menurut Sri Mulyani, telah memukul pasar komoditas global secara langsung, terutama harga minyak dunia. Ia mengungkapkan bahwa pada hari pertama pecahnya konflik, harga minyak melonjak hampir 9%, dari di bawah US$70 per barel menjadi sempat menyentuh US$78 per barel, meskipun kemudian terkoreksi ke kisaran US$75 per barel.

"Kondisi geopolitik dan security yang sangat negatif menegang dan bahkan yang sudah pecah perang yang menimbulkan kemudian ketidakpastian komoditas supply chain," kata Sri Mulyani.

Selain eskalasi di Timur Tengah, Sri Mulyani juga menyoroti ketidakpastian hubungan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok (RRT). Meskipun ada sinyal positif melalui inisiatif negosiasi, belum ada kesepakatan resmi yang dicapai, menambah daftar ketidakpastian global.

Di sisi lain, Amerika Serikat baru saja menandatangani perjanjian dagang bilateral dengan Inggris, namun masih mempertahankan tarif perdagangan terhadap lebih dari 60 negara.

Tak kalah penting, kebijakan fiskal ekspansif AS yang disebut "big and beautiful" oleh Presiden Donald Trump juga menjadi perhatian. Kebijakan ini diperkirakan akan menambah defisit anggaran Amerika Serikat lebih dari US$10 triliun dalam sepuluh tahun ke depan.

"Kombinasi dari dua belah hal ini yaitu ketidakpastian dari sisi perdagangan global yang belum tercapai kepastiannya ditambah dengan berbagai kebijakan-kebijakan makro terutama di bidang fiskal," jelas Sri Mulyani.

Rangkaian gejolak global ini, menurut Sri Mulyani, tidak hanya berdampak pada negara-negara besar, tetapi juga memiliki konsekuensi nyata bagi negara berkembang seperti Indonesia. "Yang harus kita waspadai karena tidak baik perlemahan ekonomi membuat dampak yang buruk kenaikan inflasi dan kemudian menimbulkan kenaikan yield apakah karena adanya geopolitik atau karena adanya fiscal policy, kedua hal ini menyebabkan dampak kepada seluruh dunia termasuk Indonesia," paparnya.

Dampak lanjutan yang patut diwaspadai adalah pergerakan nilai tukar dan suku bunga global. Negara-negara besar yang dianggap sebagai "systematically important country" seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Eropa, Jepang, dan Inggris disebut sebagai pusat tekanan global yang berisiko sistemik.

"Maka kita lihat kecenderungan adanya dampak negatif dari situasi dunia ini dari terutama negara-negara yang dianggap signifikan atau systematically important country seperti Amerika, RRT, kemudian Eropa, Jepang, Inggris," pungkas Sri Mulyani.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Perang Iran-Israel Bikin Sri Mulyani Was-was, Kenapa?

Perang Iran-Israel Bikin Sri Mulyani Was-was, Kenapa?

Bisnis | Selasa, 17 Juni 2025 | 18:17 WIB

Lampu Kuning Ekonomi RI, 6 Bulan ke Depan Kehidupan Warga Makin Resah

Lampu Kuning Ekonomi RI, 6 Bulan ke Depan Kehidupan Warga Makin Resah

Bisnis | Selasa, 17 Juni 2025 | 16:32 WIB

Kabar Gembira! Jakarta Kembali Gelar Program Pemutihan Pajak Kendaraan

Kabar Gembira! Jakarta Kembali Gelar Program Pemutihan Pajak Kendaraan

Foto | Selasa, 17 Juni 2025 | 06:36 WIB

Terkini

Dolar 'Cekik' UMKM: Harga Kedelai Tembus Rp545 Ribu, Perajin Tahu Tempe Terpaksa 'Sunat' Ukuran

Dolar 'Cekik' UMKM: Harga Kedelai Tembus Rp545 Ribu, Perajin Tahu Tempe Terpaksa 'Sunat' Ukuran

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 20:00 WIB

Putra SBY Jadi Bos Komite Kereta Cepat, Purbaya, Rosan hingga Nusron Wahid Jadi Anak Buah

Putra SBY Jadi Bos Komite Kereta Cepat, Purbaya, Rosan hingga Nusron Wahid Jadi Anak Buah

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 17:45 WIB

Influencer hingga Selebgram Tak Bisa Lagi Nikmati Pajak UMKM 0,5%

Influencer hingga Selebgram Tak Bisa Lagi Nikmati Pajak UMKM 0,5%

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 17:18 WIB

Aturan Pajak Purbaya Makin Ketat, PP Baru Siap Kuras Kantong UMKM Beromzet Miliaran

Aturan Pajak Purbaya Makin Ketat, PP Baru Siap Kuras Kantong UMKM Beromzet Miliaran

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:49 WIB

Tok! Pemerintah Coret Influencer dan Selebgram dari Daftar PPh Final UMKM 0,5 Persen

Tok! Pemerintah Coret Influencer dan Selebgram dari Daftar PPh Final UMKM 0,5 Persen

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:15 WIB

Rupiah Terus Terpuruk, Djarot PDIP: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar tapi Harga Sembako Melambung Tinggi!

Rupiah Terus Terpuruk, Djarot PDIP: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar tapi Harga Sembako Melambung Tinggi!

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 14:28 WIB

BTN Kucurkan Kredit Rp1,5 Triliun ke Pindad, Sokong Produksi Maung MV3 Hingga Amunisi

BTN Kucurkan Kredit Rp1,5 Triliun ke Pindad, Sokong Produksi Maung MV3 Hingga Amunisi

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:55 WIB

Rupiah Sekarat Menuju Rp18.000: Kebijakan BI Dinilai Terlambat Jinakkan Bom Waktu Fiskal dan Global

Rupiah Sekarat Menuju Rp18.000: Kebijakan BI Dinilai Terlambat Jinakkan Bom Waktu Fiskal dan Global

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:54 WIB

Sindir Jakarta Sibuk Urus IHSG, Andi Widjajanto: Di Jogja Kami Mikir Republik!

Sindir Jakarta Sibuk Urus IHSG, Andi Widjajanto: Di Jogja Kami Mikir Republik!

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:38 WIB

Harga Kakao Melonjak Tajam Efek Selat Hormuz Ditutup, Kemendag Rilis Patokan Baru

Harga Kakao Melonjak Tajam Efek Selat Hormuz Ditutup, Kemendag Rilis Patokan Baru

Bisnis | Sabtu, 30 Mei 2026 | 12:16 WIB