Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.767.000
Beli Rp2.632.000
IHSG 6.599,240
LQ45 651,086
Srikehati 320,576
JII 428,616
USD/IDR 17.661

Penggunaan Minyak Mentah dari Fossil Berakhir Terus Berlanjut Hingga 2050

Achmad Fauzi | Yaumal Asri Adi Hutasuhut | Suara.com

Jum'at, 14 November 2025 | 15:35 WIB
Penggunaan Minyak Mentah dari Fossil Berakhir Terus Berlanjut Hingga 2050
Harga minyak dunia naik tipis [Foto: ANTARA]
  • Badan Energi Internasional (IEA) Paris memproyeksikan permintaan minyak mentah global akan tumbuh mencapai 113 juta barel per hari pada tahun 2050.
  • Proyeksi ini menggunakan "Skenario Kebijakan Saat Ini" (CPS) yang mengasumsikan tidak ada kebijakan iklim baru dan kembali digunakan setelah lima tahun absen.
  • Peningkatan permintaan minyak mentah utama didorong oleh kebutuhan petrokimia, bahan bakar jet, serta perlambatan signifikan dalam adopsi kendaraan listrik.

Suara.com - International Energy Agency’s (IEA) atau Badan Energi Internasional yang berbasis di Paris, memproyeksikan permintaan minyak mentah dunia terus tumbuh hingga 2050. 

Mengutip dari CNBC, perkiraan itu tertuang dalam laporannya World Energy Outlook, yang memproyeksikan pertumbuhan permintaan minyak mentah dunia dapat tumbuh menjadi  113 juta barel per hari pada 2050, naik 13 persen dari level 2024.

Perkiraan itu didasarkan pada "Skenario Kebijakan Saat Ini" (Current Policies Scenario/CPS) yang mengasumsikan tidak adanya kebijakan iklim yang baru. Setelah sebelumnya, IEA memproyeksikan puncak permintaan bahan bakar fosil terjadi sebelum 2030. 

Current Policies Scenario kembali digunakan setelah sebelumnya absen dalam lima tahun terakhir, serta digunakan kembali karena adanya tekanan dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. 

Peningkatan permintaan minyak itu utamanya didorong kebutuhan petrokimia dan bahan bakar jet, serta perlambatan adopsi kendaraan listrik (EV).

Proyeksi puncak permintaan minyak itu mengacu pada produksi minyak mentah global mencapai titik tertinggi, sebelum kemudian memasuki penurunan yang tidak dapat diubah lagi.

Analis dari Eurasia Group’s Energy, Climate and Resources, Gregory Brew memandang berubahnya proyeksi  IEA menjadi sebuah pergeseran besar dari posisinya dalam lima tahun terakhir. 

"Alasan yang diajukan untuk peralihan ini mencakup perubahan kebijakan di AS, dimana penetrasi kendaraan listrik yang lambat menunjukkan konsumsi minyak yang tinggi, tetapi juga terkait dengan perkiraan kenaikan harga petrokimia dan bahan bakar penerbangan di Asia Timur dan Tenggara,” ujar Brew kepada CNBC yang dikutip Jumat (14/11/2025). 

Menurutnya perubahan perkiraan IEA tidak banyak dipengaruhi oleh tekanan politik. 

"Meskipun ada beberapa tekanan politik, misalnya ketika pemerintahan Trump mengkritik dugaan bias kelompok tersebut yang mendukung energi terbarukan," katanya. 

"Dan perubahan ini mencerminkan skeptisisme yang lebih luas bahwa permintaan minyak akan mencapai puncaknya dalam waktu dekat,” sambungnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

ESDM Ungkap Alasan Sumber Listrik RI Mayoritas dari Batu Bara

ESDM Ungkap Alasan Sumber Listrik RI Mayoritas dari Batu Bara

Bisnis | Kamis, 13 November 2025 | 19:12 WIB

Jadi Tulang Punggung Energi Nasional, Segini Volume Produksi Gas Kalimantan Timur

Jadi Tulang Punggung Energi Nasional, Segini Volume Produksi Gas Kalimantan Timur

Bisnis | Kamis, 13 November 2025 | 15:04 WIB

COP30 Brasil: Indonesia Dorong 7 Agenda Kunci, Fokus pada Dana dan Transisi Energi

COP30 Brasil: Indonesia Dorong 7 Agenda Kunci, Fokus pada Dana dan Transisi Energi

Bisnis | Rabu, 12 November 2025 | 22:39 WIB

Terkini

Trump Batal Serang Iran, Harga Minyak Dunia Melandai

Trump Batal Serang Iran, Harga Minyak Dunia Melandai

Bisnis | Selasa, 19 Mei 2026 | 06:39 WIB

Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita

Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:10 WIB

Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru

Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:08 WIB

Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun

Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:02 WIB

PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025

PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:56 WIB

CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai

CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:52 WIB

BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah

BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:45 WIB

Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026

Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:18 WIB

PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen

PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:50 WIB

Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun

Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:45 WIB