- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memprediksi investasi Rp45 miliar diperlukan untuk mengembangkan sistem IT AI pengawasan pelabuhan DJBC.
- Bea Cukai telah meresmikan teknologi pengawasan baru seperti X-Ray RPM, SSR-Mobile, dan Trade AI di empat pelabuhan utama Indonesia.
- Pengembangan sistem Trade AI yang sudah berjalan berhasil mendeteksi potensi penerimaan negara sebesar Rp1,2 miliar dari 145 dokumen PIB.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan kalau dirinya membutuhkan investasi Rp 45 miliar untuk mengembangkan sistem IT berbasis teknologi AI untuk pengawasan barang di pelabuhan yang dilakukan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (DJBC Kemenkeu).
"Untuk ke depan, untuk mengembangkan lebih dalam lagi, supaya lebih canggih di seluruh Indonesia, kita perkirakan perlu investasi sekitar Rp 45 miliar lagi untuk mengembangkan sistem IT-nya," katanya saat konferensi pers di Terminal Operasi 3 IPC TPK, Tanjung Priok, Jakarta, Jumat (12/12/2025).
Bea Cukai sendiri baru saja meresmikan teknologi untuk mengawasi pelabuhan seperti alat pemindai peti kemas (X-Ray) dengan fitur radiation portal monitor (RPM), Self Service Report Mobile (SSR-Mobile), dan Trade AI.
Ketiga alat tersebut baru dipakai di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta, Tanjung Perak Surabaya, Tanjung Emas Semarang, dan Belawan Medan. Purbaya menyebut kalau ini dikembangkan secara internal dan memaksimalkan sumber daya yang ada.
"Trade AI itu software-nya dikembangkan secara internal. Jadi enggak ada investasi yang terlalu besar. Sampai sekarang kita pakai sumber resources yang ada, hardware yang ada, software yang ada. Paling saya bayar gaji yang biasa," papar dia.
Menkeu Purbaya juga belum bisa menilai seberapa berhasil teknologi itu memantau penyelundupan barang ilegal dari pelabuhan. Ia sempat mengetes dengan pengecekan 145 dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB), dan alat AI itu bisa mendeteksi tarif hingga miliaran rupiah.
Namun saat diperiksa lebih detail secara manual, ia bisa mendapatkan penerimaan hingga Rp 1,2 miliar.
"Tapi saya pikir sih masih terlalu kecil. Tapi enggak apa-apa, paling enggak first run sudah menghasilkan income yang clear seperti itu. Jadi ya kelihatannya proyek ini akan membantu saya ke depan. kalau semakin lama semakin canggih, harusnya semakin besar," beber dia.
"Sekarang terlalu dini untuk bilang berapa peluang yang sebetulnya ada dari pengembangan AI ini. Tapi hasilnya sudah clear dari segitu saya dapat Rp 1 miliar dengan mudah," jelasnya.