Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp0
Beli Rp0
IHSG ...
LQ45 ...
Srikehati
JII ...

Saham DADA Bangkit dari Harga "Gocap" Hingga ARA, Inikah Penyebabnya

M Nurhadi | Suara.com

Rabu, 07 Januari 2026 | 14:49 WIB
Saham DADA Bangkit dari Harga "Gocap" Hingga ARA, Inikah Penyebabnya
PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) [Suara.com/Ist/via Gemini]
  • Saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) mengalami lonjakan 34% mencapai Rp67 pada Rabu, 7 Januari 2026, disertai volume transaksi masif.
  • Kenaikan harga saham ini didorong sentimen psikologis dan rumor media sosial tanpa didasari aksi korporasi nyata.
  • Kepemilikan publik DADA sangat besar (69,93%), menunjukkan harga rentan terhadap volatilitas tinggi dan spekulasi pasar.

Suara.com - Pergerakan anomali terjadi pada saham PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) dalam perdagangan sesi I, Rabu (7/1/2026).

Setelah sekian lama tertidur di level terendah Rp50 per lembar, emiten properti ini mendadak melonjak tajam sebesar 34% hingga menyentuh batas Auto Reject Atas (ARA) di level Rp67.

Meski saat ini, berkisar pukul 14.41 WIB, harga DADA sudah melemah dan berada di angka Rp58.

Lonjakan ini dibarengi dengan aktivitas transaksi yang luar biasa masif. Hingga pukul 10.30 WIB, volume perdagangan menembus angka 2,39 miliar saham dengan nilai transaksi mencapai Rp144,91 miliar.

Pantauan pada order book menunjukkan antrean beli (bid) yang sangat tebal, mencapai lebih dari 6,12 juta lot di harga ARA, sementara kolom penawaran jual (offer) terpantau kosong.

Pemicu Kenaikan: Antara Spekulasi dan Rumor Media Sosial

Kenaikan harga saham DADA disinyalir tidak didasari oleh aksi korporasi strategis maupun perbaikan fundamental yang nyata.

Analis pasar modal mencermati adanya sentimen psikologis yang dipicu oleh kabar burung di berbagai grup komunitas investor saham.

Beredar tangkapan layar yang mengklaim adanya "firasat" dari pihak-pihak tertentu terkait kenaikan harga saham ini. Hal tersebut memicu fenomena Fear of Missing Out (FOMO) di kalangan investor ritel.

Terlebih lagi, saham DADA memiliki sejarah volatilitas yang sangat tinggi, di mana pada tahun 2025 lalu harga sahamnya pernah terbang hingga ratusan persen sebelum akhirnya ambrol kembali ke level Rp50.

Meskipun harga sedang terbang, investor sangat diimbau untuk bersikap rasional dan berhati-hati. Terdapat beberapa fakta fundamental dan historis yang perlu dicermati:

  1. Struktur Kepemilikan Saham: Saat ini, porsi kepemilikan publik pada saham DADA tergolong sangat besar, mencapai 69,93%. Sementara itu, pengendali utama, PT Karya Permata Inovasi Indonesia (KPII), hanya memegang sekitar 29,6%. Tingginya porsi saham di tangan publik membuat harga sangat rentan terhadap manipulasi spekulatif dan volatilitas tinggi tanpa penopang fundamental.
  2. Riwayat Divestasi Pengendali: Berdasarkan data historis, pengendali (KPII) pernah melakukan aksi lepas saham (divestasi) besar-besaran sebanyak 2,14 miliar lembar saham pada saat harga DADA mencapai puncaknya di Oktober 2025. Hal ini menyebabkan porsi kepemilikan KPII menyusut tajam dari semula 69,58%.
  3. Isu Operasional: Perseroan sempat diterpa isu miring terkait alamat kantor operasional yang tidak lazim di wilayah Depok, meskipun manajemen telah memberikan klarifikasi resmi bahwa kegiatan operasional berpusat di Dave Apartment.

Penambahan Investor Ritel Secara Masif

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jumlah pemegang saham DADA terus mengalami peningkatan.

Per 30 November 2025, jumlah investor tercatat sebanyak 73.893 orang, naik lebih dari 3.400 investor dalam kurun waktu kurang dari satu bulan.

Lonjakan jumlah investor ritel ini sering kali sejalan dengan peningkatan volatilitas harga di pasar reguler.

Hingga saat ini, belum ada keterbukaan informasi terbaru dari manajemen PT Diamond Citra Propertindo Tbk di laman Bursa Efek Indonesia terkait lonjakan transaksi yang tidak biasa tersebut.

Investor diharapkan tidak terjebak pada euforia sesaat dan tetap mempertimbangkan aspek risiko sebelum mengambil keputusan transaksi.

DISCLAIMER: Berita dan informasi ini disusun berdasarkan data perdagangan dan informasi publik terkini. Konten ini bertujuan sebagai referensi informasi berita ekonomi dan bukan merupakan ajakan, saran, atau rekomendasi untuk membeli atau menjual saham DADA. Investasi saham memiliki risiko fluktuasi harga yang tinggi dan potensi kehilangan modal. Setiap keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi investor.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

MKNT Raih Pinjaman Jumbo Rp822 Miliar, Duitnya Mau Dipakai Ekspansi Bisnis Baru

MKNT Raih Pinjaman Jumbo Rp822 Miliar, Duitnya Mau Dipakai Ekspansi Bisnis Baru

Bisnis | Rabu, 07 Januari 2026 | 14:28 WIB

Target Harga ANTM, Mayoritas Analis Berikan Masukan Terbaru Hari Ini

Target Harga ANTM, Mayoritas Analis Berikan Masukan Terbaru Hari Ini

Bisnis | Rabu, 07 Januari 2026 | 13:26 WIB

IHSG Diprediksi Tembus 9.000, Ini Kunci dan Faktor Pendorongnya

IHSG Diprediksi Tembus 9.000, Ini Kunci dan Faktor Pendorongnya

Bisnis | Rabu, 07 Januari 2026 | 10:47 WIB

Terkini

Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita

Kemendag Bidik Penyalur Nakal, Tegakkan Sanksi Demi Jaga Pasokan Minyakita

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:10 WIB

Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru

Besok Purbaya Akan Buktikan Kritik The Economist Keliru

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:08 WIB

Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun

Purbaya Sebut 'Media Bodoh', Gurita Bisnis Pemilik The Economist Tembus Ratusan Triliun

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 20:02 WIB

PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025

PT Timah Setor Rp 1,624 triliun ke Negara Sepanjang 2025

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:56 WIB

CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai

CELIOS: Harga-harga Naik 2 Bulan ke Depan, PHK Mengintai

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:52 WIB

BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah

BI Pastikan Cadangan Devisa Lebih dari Cukup untuk Stabilisasi Nilai Tukar Rupiah

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:45 WIB

Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026

Menkeu dan BI Optimistis Rupiah Menguat Lagi di Juli 2026

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 19:18 WIB

PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen

PHK Meningkat Tajam, Klaim Kehilangan Kerja di BPJS Tenaga Kerja Melonjak 91 Persen

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:50 WIB

Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun

Tak Mau Tahu, BI Tetap Pede Rupiah di Level Rp 16.800 pada Akhir Tahun

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:45 WIB

Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara

Badai Ekonomi Ganda: Rupiah Terpuruk ke Rp 17.667 dan Harga Minyak Dunia Kian Membara

Bisnis | Senin, 18 Mei 2026 | 18:42 WIB