Indonesia-Pakistan Targetkan Negosiasi CEPA, Dari Minyak Sawit hingga Tenaga Medis

M Nurhadi Suara.Com
Senin, 12 Januari 2026 | 08:42 WIB
Indonesia-Pakistan Targetkan Negosiasi CEPA, Dari Minyak Sawit hingga Tenaga Medis
Antrean truk TBS kelapa sawit [Antara]
Baca 10 detik
  • Indonesia dan Pakistan sepakat tingkatkan kerja sama dari PTA menjadi CEPA, dibahas Wamendag RI di Karachi, Pakistan.
  • Fokus utama adalah perluasan kerjasama ke sektor jasa, termasuk usulan prioritas pengiriman tenaga medis ahli oleh Indonesia.
  • Perdagangan sawit tetap vital; Pakistan adalah importir ketiga terbesar sawit Indonesia, dengan nilai transaksi USD 2,77 miliar pada 2024.

Suara.com - Pemerintah Indonesia secara resmi mendorong transformasi kerja sama perdagangan dengan Pakistan, dari semula hanya Preferential Trade Agreement (PTA) menjadi Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA).

Langkah strategis ini dibahas dalam pertemuan bilateral antara Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, dan Menteri Perdagangan Pakistan, Jam Kamal Khan, di Karachi, Pakistan.

Pertemuan tersebut merupakan tindak lanjut dari kesepakatan kedua kepala negara pada Desember 2025 di Islamabad.

Targetnya, negosiasi CEPA ini dapat segera dilanjutkan pada awal 2026 untuk memperkuat struktur perdagangan yang lebih luas dan berkelanjutan bagi kedua negara.

Dalam forum tersebut, Wamendag Dyah Roro Esti menekankan bahwa kerja sama masa depan tidak hanya terpaku pada pertukaran barang, tetapi juga merambah ke sektor jasa.

Salah satu usulan prioritas Indonesia adalah kolaborasi di bidang kesehatan, khususnya pengiriman tenaga medis ahli seperti dokter dan perawat.

Di sisi lain, isu minyak sawit tetap menjadi pilar utama perdagangan. Pakistan saat ini menduduki posisi ketiga sebagai importir sawit terbesar Indonesia setelah India dan Tiongkok, dengan nilai transaksi menembus USD 2,77 miliar pada 2024.

"Kami memastikan bahwa program domestik seperti B30 yang akan naik menjadi B50 pada 2026 tidak akan mengganggu komitmen ekspor sawit kami. Pakistan tetap menjadi mitra strategis jangka panjang Indonesia," tegas Roro dalam keterangannya, Minggu (11/1/2026).

Selain hubungan bilateral, kedua negara juga fokus pada penguatan ekonomi di tingkat regional melalui organisasi D-8. Indonesia menyambut baik langkah Pakistan yang telah mengimplementasikan D-8 Preferential Trade Agreement sejak awal tahun lalu.

Baca Juga: Tak Terbukti Dumping, RI Bisa Kembali Ekspor Baja Rebar ke Australia

Lebih lanjut, Indonesia menyatakan dukungannya terhadap Pakistan yang akan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal D-8 pada 2026.

Indonesia pun menargetkan perluasan skema PTA menjadi CEPA dalam lingkup D-8 selama masa kepemimpinan di periode 2026–2027 guna menciptakan ekosistem perdagangan yang lebih inklusif bagi negara-negara anggota.

Mendag Pakistan, Jam Kamal Khan, menyambut positif inisiatif ini dan menilai profil ekonomi kedua negara bersifat saling melengkapi.

Pakistan tertarik mengembangkan kerja sama di bidang teknologi industri serta mengharapkan kemudahan akses bagi produk pertanian mereka ke pasar Indonesia.

Sebagai bentuk komitmen, Pakistan berencana menggelar single showcase exhibition di Indonesia tahun ini untuk memperkenalkan produk-produk unggulan mereka kepada para eksportir dan konsumen domestik.

Catatan Perdagangan Indonesia-Pakistan:

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI