Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen

Senin, 12 Januari 2026 | 17:04 WIB
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
Kawasan mandiri besutan Agung Sedayu Group dan Salim Group ini dilaporkan tergenang air cukup tinggi pada Senin (12/1/2026). Foto ist.
Baca 10 detik
  • Saham PANI anjlok 5,92% ke level 10.725 IDR usai video banjir PIK2 viral di medsos.
  • Kawasan Tokyo Riverside terendam air; janji sistem polder "Anti Banjir" PIK2 dipertanyakan.
  • Banjir pesisir ganggu aktivitas bisnis dan hancurkan sentimen positif investor terhadap PANI. 

Suara.com - Citra Pantai Indah Kapuk 2 (PIK2) sebagai kawasan hunian elit yang bebas banjir tengah diuji hebat. Kawasan mandiri besutan Agung Sedayu Group dan Salim Group ini dilaporkan tergenang air cukup tinggi pada Senin (12/1/2026), yang berdampak langsung pada rontoknya kepercayaan investor di pasar modal.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) pada penutupan perdagangan pukul 16.14 WIB, saham PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) ditutup memerah di level 10.725,00 IDR.

Saham emiten properti ini anjlok signifikan sebesar 675,00 poin atau turun 5,92% dalam sehari. Sepanjang perdagangan, PANI bergerak di rentang Rp10.625,00 hingga Rp11.300,00 dengan kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp194,31 triliun.

Kekecewaan pasar ini dipicu oleh video amatir yang viral di media sosial. Unggahan tersebut menunjukkan kondisi kontras antara janji pemasaran kawasan elit dengan realita di lapangan. Salah satu titik terparah terpantau di kawasan Tokyo Riverside PIK2, di mana area parkir apartemen tergenang air hingga merendam deretan mobil penghuni.

"Ini parkiran Tokyo yang punya mobil enggak sadar, lihat tenggelam. Oh my God," ujar salah satu netizen dalam video yang diunggah akun @volunteer.netizen saat hujan lebat mengguyur wilayah tersebut Senin siang.

Sistem Anti Banjir Polder Gagal?

Kejadian ini memicu kritik tajam lantaran pengelola PIK2 sebelumnya sangat gencar mengklaim kawasan ini mustahil banjir. Agung Sedayu Group mengeklaim telah menerapkan Sistem Polder yang dirancang PT Witteveen Bos Indonesia, mengadopsi teknologi pertahanan air dari Belanda.

Sistem ini seharusnya menggabungkan tanggul tinggi, danau buatan, dan pompa untuk memproteksi kawasan dari air laut maupun curah hujan ekstrem. Pihak pengelola bahkan pernah mengibaratkan PIK2 sebagai "ember" yang airnya akan selalu disalurkan ke danau sebelum dipompa keluar.

Namun, genangan tinggi yang terjadi hari ini membuktikan adanya celah dalam sistem pertahanan tersebut. Banjir tidak hanya menghambat akses kendaraan di ruas jalan utama, tetapi juga mulai mengganggu aktivitas bisnis di titik komersial. Bagi investor, insiden ini menjadi sentimen negatif yang mempertanyakan ketahanan infrastruktur jangka panjang di kawasan pesisir Tangerang tersebut.

Baca Juga: Diduga Disambar Petir, Lantai 5 Tzu Chi School PIK Terbakar: Kerugian Ditaksir Rp200 Juta

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI