- Bank Indonesia berkomitmen menguatkan Rupiah setelah melemah delapan hari hingga level Rp16.800 per dolar AS.
- BI terus melakukan intervensi pasar domestik dan *off-shore* guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah secara berkelanjutan.
- Investor global tetap positif terhadap Indonesia, didukung cadangan devisa akhir Desember 2025 mencapai $156,5 miliar.
Suara.com - Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus membuat rupiah menguat. Pasalnya, kondisi rupiah terus melemah selama delapan hari berturut-turut.
Hal itu terlihat dengan mata uang garuda yang sudah menyentuh level Rp16.800 per dolar Amerika Serikat (AS).
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin G. Hutapea, mengatakan akan terus mengintervensi mata uang Indonesia agar terus stabil.
"Stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga berkat konsistensi kebijakan stabilisasi Bank Indonesia yang terus dilakukan secara berkesinambungan melalui intervensi NDF di pasar off-shore di kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar sekunder," jelasnya, dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Rabu (14/1/2025).
Selain itu, BI memastikan akan berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026.
Hal ini juga mendukung terkendalinya stabilitas Rupiah, sejalan dengan persepsi investor global terhadap Indonesia yg tetap positif, tercermin dari premi risiko CDS Indonesia tenor 5 tahun yang berada pada level rendah, sekitar 72 bps.
"Ketahanan eksternal juga tetap baik tecermin pada posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2025 yang tercatat sebesar 156,5 miliar dolar AS, setara dengan 6,4 bulan impor, memadai sebagai buffer dalam menghadapi tekanan pasar keuangan global," terangnya.
Dia menekankan Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk memastikan nilai tukar Rupiah bergerak sesuai dengan nilai fundamental dan mekanisme pasar yang sehat.
Apalagi, BI akan terus mengoptimalkan instrumen operasi moneter pro-market guna memperkuat efektivitas transmisi kebijakan moneter dan menjaga kecukupan likuiditas.
Baca Juga: Kurs Uang Rial Ambruk 1.457.000 rial per Dolar AS, Nilainya Jauh di Bawah Rupiah
"Sehingga dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap mencapai sasaran inflasi serta menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah," tandasnya.