- Rial Iran mencapai rekor terendah historis pada awal 2026, kehilangan nilainya 20.000 kali lipat sejak Revolusi 1979.
- Keterpurukan ekonomi dipicu sanksi PBB dan UE September 2025, mengakibatkan penurunan pendapatan ekspor minyak signifikan.
- Inflasi tahunan Iran mencapai 42,2% pada Desember 2025, memicu pelarian modal dan protes sosial besar di Teheran.
Suara.com - Kondisi ekonomi Iran memasuki fase yang sangat mengkhawatirkan pada awal 2026. Mata uang nasional negara tersebut, Rial (IRR), mencatatkan rekor terendah sepanjang sejarah dengan nilai tukar menembus 1.457.000 rial per dolar AS.
Jika menilik ke belakang, kehancuran nilai ini sangat dramatis. Pada saat Revolusi 1979, 1 dolar AS hanya setara dengan 70 rial.
Artinya, dalam kurun waktu empat dekade, Rial telah kehilangan nilainya sebanyak 20 ribu kali lipat. Berdasarkan laporan Euro News per Rabu (14/1/2026), keterpurukan ini diperparah oleh gelombang demonstrasi massa serta tekanan diplomatik yang kian menyesakkan.
Ambruknya nilai tukar Rial tidak terlepas dari kebijakan global yang mengisolasi Teheran.
Pada September 2025, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memberlakukan kembali sanksi yang sangat ketat setelah kegagalan negosiasi pembatasan nuklir. Sanksi ini meliputi:
- Embargo Senjata: Larangan perdagangan alat pertahanan konvensional.
- Pembatasan Rudal: Pengetatan terhadap program rudal balistik.
- Pembekuan Aset: Penutupan akses terhadap cadangan devisa di luar negeri.
Selain PBB, Uni Eropa turut memperketat sanksi karena isu hak asasi manusia (HAM) serta keterlibatan Iran dalam menyuplai drone tempur untuk konflik Rusia-Ukraina.
Akibatnya, Iran kehilangan sekitar 20% potensi pendapatan ekspor minyaknya karena harus melalui jalur distribusi ilegal yang mahal guna menghindari pantauan Amerika Serikat.
Data resmi mencatat inflasi tahunan Iran menyentuh angka 42,2% pada Desember 2025. Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi kenaikan harga barang konsumsi akan terus berada di level tinggi sepanjang 2026.
Kondisi ini menciptakan lingkaran setan ekonomi:
Baca Juga: Ketegangan Iran Picu Kenaikan Harga Minyak, Brent Tembus 64 Dolar AS per Barel
- Harga Barang Impor Melonjak: Karena Rial sangat lemah, biaya impor bahan pokok seperti gandum, minyak goreng, dan obat-obatan melambung tinggi.
- Pelarian Modal: Masyarakat yang kehilangan kepercayaan pada Rial berbondong-bondong memindahkan simpanan mereka ke dalam bentuk dolar AS, emas, atau properti.
- Krisis Likuiditas: Tingginya permintaan dolar di pasar gelap semakin menekan nilai Rial ke titik nadir.
Perbandingan Kurs: Rial Iran vs Rupiah Indonesia
Meskipun Rupiah sering dianggap memiliki angka nominal yang besar, nilai Rial jauh lebih rendah. Berdasarkan data valuta asing terbaru, kurs Rial terhadap Rupiah berada di kisaran:
1 IRR ≈ Rp0,40
1.000 IRR ≈ Rp401
100.000 IRR ≈ Rp40.130
Secara numerik, Rial Iran saat ini merupakan salah satu mata uang dengan nilai terendah di dunia. Sebagai gambaran, jika pada tahun 2015 satu dolar AS setara 32.000 rial, kini nilainya telah merosot lebih dari 4.000% dalam sepuluh tahun terakhir.