- Pertamina Foundation dan BP2SDM Kemenhut menandatangani MoU untuk mengoptimalkan KHDTK sebagai basis ketahanan pangan dan energi.
- Kemitraan ini bertujuan menjadikan KHDTK sebagai unit unggulan model pengembangan teknologi dan SDM kompeten.
- Kerja sama ini memperkuat program Hutan Lestari Pertamina untuk rehabilitasi lahan, mitigasi bencana, dan ekonomi masyarakat.
Suara.com - PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Foundation (PF) memperkuat peran hutan sebagai basis ketahanan pangan dan energi. Langkah tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kehutanan (BP2SDM Kemenhut) dalam rangka optimalisasi fungsi Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK).
Kerja sama ini menandai pendekatan baru dalam pengelolaan hutan, di mana kawasan kehutanan tidak hanya difokuskan pada konservasi, tetapi juga dikembangkan sebagai ruang produktif yang mendukung ketahanan pangan, energi, serta peningkatan ekonomi masyarakat sekitar hutan.
Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki menegaskan bahwa pengelolaan hutan ke depan harus mampu menjawab tantangan kebencanaan dan kebutuhan pembangunan berkelanjutan secara bersamaan.

"Kami berharap sinergi ini mampu mendukung kebijakan tersebut dengan menjadikan KHDTK sebagai Center of Excellence atau unit unggulan yang menyiapkan sumber daya manusia kompeten serta menjadi model pengembangan teknologi dan kebijakan," ujar Rohmat di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Melalui kerja sama ini, Pertamina Foundation sebagai pelaksana program akan mengelola KHDTK tidak hanya melalui kegiatan penanaman pohon, tetapi juga dengan mengintegrasikan ketahanan pangan dan energi berbasis kehutanan, rehabilitasi lahan kritis, serta penguatan kapasitas masyarakat sekitar hutan.
Direktur Operasi Pertamina Foundation Gusman Adiwardhana menyampaikan bahwa pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem hutan.
"Kami akan mendukung implementasi kegiatan-kegiatan di lokasi yang telah disediakan oleh BP2SDM berupa rehabilitasi lahan kritis, penguatan kapasitas masyarakat sekitar hutan, serta integrasi ketahanan pangan dan energi berbasis kehutanan," ucap Gusman.
Dari sisi korporasi, kolaborasi ini juga memperkuat implementasi program Hutan Lestari yang telah dijalankan Pertamina sejak 2018.
Program tersebut mencakup penanaman lebih dari 13,42 juta pohon mangrove dan daratan melalui 337 program di berbagai wilayah Indonesia, dengan kontribusi penyerapan karbon sebesar 222.973 ton CO ekuivalen serta rehabilitasi lahan seluas 891 hektare.
Baca Juga: Danantara Akan Reformasi BUMN-BUMN Besar di 2026
VP CSR & SMEPP Pertamina Rudi Ariffianto menekankan bahwa pengelolaan hutan berkelanjutan yang terintegrasi dengan aspek ekonomi dan energi menjadi fokus Pertamina ke depan.
"Program Hutan Lestari menjadi program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang kami rancang sebagi upaya pengelolaan hutan dengan tujuan untuk menurunkan emisi karbon, meningkatkan keterampilan dan ekonomi masyarakat serta mitigasi bencana. Harapannya kerja sama ini mampu memperluas cakupan wilayah sekaligus kebermanfaatannya," ungkap Rudi.
Ia juga menambahkan bahwa sinergi ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam merehabilitasi lahan kritis seluas 12,7 juta hektare sebagai bagian dari strategi mitigasi bencana nasional.