- Rhenald Kasali menyampaikan bisnis 2026 akan didorong Big Data dan AI, menyoroti emosi publik media sosial sebagai penggerak utama.
- Perbedaan persepsi kebenaran antara generasi tua dan muda menciptakan celah risiko kejahatan ekonomi berbasis AI canggih.
- Tren Gen Z menolak jabatan manajerial karena stres tinggi, memilih menjadi kontributor individual demi fleksibilitas dan uang.
Alasannya sederhana, yakni tingkat stres yang tinggi tidak sebanding dengan kompensasi yang diterima.
![Guru Besar Ilmu Manajemen Universitas Indonesia sekaligus pendiri Rumah Perubahan, Rhenald Kasali dalam ajang Breakfast Talk: Business Outlook 2026 di Jakarta, Sabtu (17/1/2026). [Ist]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/01/17/31314-guru-besar-ilmu-manajemen-universitas-indonesia-sekaligus-pendiri-rumah-perubahan-rhenald-kasali.jpg)
“Anak muda hari ini melihat aset bukan kantor atau jabatan, tapi uang dan fleksibilitas. Mereka tidak mau kerja formal, tidak mau punya bos,” tutur Rhenald menjelaskan pergeseran nilai kerja tersebut.
Otomatisasi dan Munculnya Industri "Kuda Hitam"
Menghadapi perubahan sikap pekerja ini, Rhenald menilai otomatisasi dan robotisasi bukan lagi sebuah pilihan bagi perusahaan, melainkan syarat untuk bertahan hidup.
Industri padat karya akan semakin tertekan, sementara sektor-sektor yang dulunya dianggap sekunder justru kini memimpin pertumbuhan.
Rhenald mencontohkan bagaimana sektor ekonomi hobi kini memiliki dampak ekonomi yang masif dan stabil di tengah ketidakpastian global.
“Industri yang tumbuh sekarang justru yang dulu dianggap tidak utama. Contohnya makanan hewan peliharaan. Orang Indonesia itu sayang kucing,” pungkasnya.