- Rupiah ditutup melemah pada Rabu, 4 Maret 2026, mencapai Rp16.892 per dolar AS akibat ketegangan geopolitik global.
- Pelemahan rupiah dipicu oleh keluarnya modal asing besar-besaran dari pasar domestik serta kenaikan harga minyak mentah.
- Intervensi langsung Bank Indonesia berperan penting menahan pelemahan rupiah agar tidak jatuh lebih dalam dibandingkan Asia.
Suara.com - Nilai tukar rupiah belum berhasil keluar dari zona merah pada penutupan perdagangan Rabu, 4 Maret 2026.
Mata uang Garuda tercatat terus melanjutkan tren pelemahan yang sudah terjadi sejak awal pekan ini, terimbas eskalasi ketegangan geopolitik global yang kian memanas.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah mengakhiri perdagangan hari ini di level Rp16.892 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,12 persen dibandingkan posisi penutupan Selasa (27/2) yang berada di level Rp16.872.
Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia berada di posisi yang sedikit lebih tertekan, yakni Rp16.911 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa melemahnya rupiah merupakan imbas langsung dari fenomena capital outflow atau keluarnya modal asing secara masif dari pasar keuangan domestik.
Sentimen negatif ini dipicu oleh tensi militer yang tidak kunjung mereda antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
"Rupiah melemah tertekan oleh sentimen risk-off yang kuat dengan sell-off besar-besaran di pasar ekuitas domestik dan seluruh Asia oleh eskalasi perang di Timur Tengah," ujar Lukman, kepada Suara.com, Rabu (4/3/2026).
Selain faktor keamanan, kenaikan harga minyak mentah dunia akibat konflik tersebut juga menghantui ekonomi global. Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak, dikhawatirkan akan terbebani oleh kenaikan biaya energi yang pada akhirnya menekan stabilitas nilai tukar.
Meski sedang tertekan, posisi rupiah dinilai masih jauh lebih baik dibandingkan beberapa mata uang negara Asia lainnya.
Baca Juga: Gegara Intervensi BI, Rupiah Berjaya di Jumat Sore ke Level Rp 16.888/USD
Menurut Lukman, intervensi langsung yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) di pasar valuta asing menjadi faktor kunci yang menahan rupiah agar tidak jatuh lebih dalam.
"Rupiah bukan yang terparah, bahkan pada hari Selasa rupiah jauh lebih kuat daripada mata uang lainnya berkat intervensi langsung BI," jelasnya.
Untuk perdagangan ke depan, rupiah diperkirakan akan bergerak dalam rentang Rp16.800 hingga Rp16.950 per dolar AS.
Pelemahan nilai tukar tidak hanya dialami oleh Indonesia. Sebagian besar mata uang di kawasan Asia juga bersujud di hadapan the greenback. Berikut adalah perbandingan performa mata uang Asia hari ini:
Mata Uang yang Melemah:
- Rupee India: Menjadi yang terlemah di Asia setelah anjlok tajam 0,88%.
- Dolar Taiwan: Melemah 0,26%.
- Peso Filipina: Tertekan 0,24%.
- Dolar Hongkong: Turun 0,15%.
- Dolar Singapura: Melemah tipis 0,008%.
Mata Uang yang Menguat: Di tengah tekanan global, beberapa mata uang justru berhasil mencatatkan penguatan. Won Korea Selatan memimpin penguatan sebesar 0,84%, diikuti oleh Yen Jepang (0,2%), Baht Thailand (0,14%), Yuan China (0,09%), dan Ringgit Malaysia (0,06%).