- MSCI Inc. mengkaji perubahan metodologi indeks pada Januari 2026, memicu potensi penarikan dana asing lebih dari US$2 miliar dari bursa saham Indonesia.
- Kajian MSCI fokus memperketat definisi *free float*, yang mana Indonesia memiliki rata-rata terkecil di Asia-Pasifik, mengancam saham emiten besar seperti BRPT dan CUAN.
- Likuiditas pasar saham diperkirakan menurun drastis dan volatilitas meningkat jika aturan pengetatan *free float* diadopsi, membebani Rupiah.
Suara.com - Pasar modal Indonesia kini tengah berada dalam fase krusial. Dana global diprediksi bakal menarik diri hingga lebih dari US$ 2 miliar (sekitar Rp31 triliun) dari bursa saham domestik dalam beberapa bulan mendatang.
Hal ini dipicu oleh rencana MSCI Inc. yang tengah mengkaji perubahan metodologi indeks, sebuah langkah yang kembali memicu kekhawatiran mengenai tingkat keterbukaan pasar saham terbesar di Asia Tenggara tersebut.
Penyedia indeks global tersebut dijadwalkan akan mengambil keputusan pada akhir Januari 2026.
Fokus utamanya adalah memperketat definisi free float—yakni jumlah saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan oleh publik. Jika disetujui, kebijakan baru ini akan mulai berlaku pada tinjauan indeks bulan Mei mendatang.
Namun, seperti yang dilansir dari Bloomberg, isu Free Float yang sudah sejak lama menuai sorotan kembali jadi menarik perhatian di di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Saat ini, Indonesia tercatat memiliki rata-rata free float terkecil di Asia-Pasifik.
Jika MSCI menemukan bahwa jumlah saham yang dapat diperdagangkan lebih rendah dari yang dilaporkan secara resmi, maka investor pasif yang mengacu pada indeks tersebut terpaksa harus melepas posisi mereka.
Gary Tan, Manajer Portofolio di Allspring Global Investments, menilai langkah ini sebagai ujian penting bagi agenda reformasi pasar modal tanah air.
"Langkah ini menggarisbawahi perlunya perbaikan tata kelola perusahaan guna menarik partisipasi internasional yang lebih besar serta aliran investasi jangka panjang," ungkapnya, dilansir via Bloomberg.
Baca Juga: Rekomendasi Saham dan Ide Trading IHSG Hari Ini Menurut Para Analis
Potensi arus keluar dana asing diprediksi akan menghantam emiten-emiten dengan kapitalisasi pasar besar yang memiliki kepemilikan terkonsentrasi. Dua perusahaan milik taipan Prajogo Pangestu menjadi sorotan utama:
PT Petrindo Jaya Kreasi (CUAN): Memiliki struktur kepemilikan mayoritas sebesar 84%.
PT Barito Pacific (BRPT): Sebanyak 71% sahamnya masih dikuasai oleh Prajogo Pangestu.
Namun demikian, terkait hal ini, juru bicara PT Barito Pacific (BRPT) menjelaskan, bahwa free float perusahaan tersebut sudah mencapai 27% berdasarkan aturan Bursa Efek Indonesia, sementara free float CUAN sebesar 15%.
Ia menambahkan bahwa BRPT tidak akan terdampak oleh perubahan metodologi MSCI apa pun. Meski PTRO akan terdampak jika metodologi baru diterapkan, namun dipercaya tidak akan menghadapi arus keluar terbesar.
Keluarnya dana asing secara masif ini sendiri tidak hanya akan mengguncang indeks harga saham, tetapi juga menambah beban bagi mata uang Rupiah.
Saat ini, posisi Rupiah sudah mendekati rekor terendah akibat hengkangnya dana asing dari pasar obligasi.
Ketidakpastian mengenai komitmen pemerintah dalam menjaga defisit anggaran serta independensi Bank Indonesia turut memperkeruh sentimen investor.
Analis Aletheia Capital, Nirgunan Tiruchelvam, mengibaratkan saham dengan free float rendah sebagai "barang museum": investor bisa melihat nilainya yang melonjak, namun tidak bisa membeli dalam jumlah yang cukup karena likuiditas yang kering.
Berdasarkan data Bloomberg, lebih dari 200 saham di BEI memiliki free float di bawah 15%.
Kondisi ini dianggap mendistorsi performa IHSG yang sebenarnya, sekaligus meningkatkan risiko manipulasi harga akibat perdagangan yang tipis.
Samuel Sekuritas Indonesia memproyeksikan jika aturan pengetatan data KSEI ini diadopsi, maka likuiditas pasar akan menurun drastis dan memicu volatilitas tinggi karena investor institusi global dipastikan akan memangkas porsi aset mereka di Indonesia.