Keponakan Prabowo Jadi Deputi BI, INDEF: Pasar Keuangan Pasang Mode Waspada Tinggi

Mohammad Fadil Djailani, Rina Anggraeni

Selasa, 27 Januari 2026 | 17:31 WIB
Keponakan Prabowo Jadi Deputi BI, INDEF: Pasar Keuangan Pasang Mode Waspada Tinggi
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) terpilih Thomas Djiwandono memberi salam saat mengikuti Rapat Paripurna DPR ke-12 Masa Persidangan III Tahun Sidang 2025-2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (27/1/2026). [ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj]
baca 10 detik
  • Ketidakpastian kepemimpinan moneter memicu pelemahan nilai tukar di pasar keuangan.
  • Prioritas pertumbuhan dibanding stabilitas berisiko memicu arus modal keluar.
  • Keselarasan BI dengan kebijakan fiskal pemerintah menantang kredibilitas moneter.

Suara.com - Stabilitas ekonomi Indonesia tengah berada dalam sorotan tajam seiring munculnya kekhawatiran atas meningkatnya tekanan domestik dan volatilitas global.

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memberikan peringatan keras bahwa mata uang Garuda saat ini tidak hanya bertarung melawan sentimen pasar global, tetapi juga menghadapi "badai ekspektasi" terkait arah kepemimpinan otoritas moneter di masa depan.

Dalam diskusi publik bertajuk “Depresiasi Rupiah: Dilema Independensi” yang digelar secara virtual pada Selasa (27/1/2026), peneliti INDEF, Deniey Adi Purwanto, membedah kerentanan posisi rupiah.

Menurutnya, pasar keuangan saat ini tengah dalam mode waspada tinggi (high alert) menanti sinyal-sinyal kebijakan dari para pengambil keputusan di Bank Indonesia (BI).

Salah satu poin krusial yang menjadi perhatian investor adalah transisi kepemimpinan di tubuh Bank Sentral. Deniey menyoroti bahwa penunjukan figur baru, termasuk munculnya nama Thomas dalam bursa kebijakan, memicu spekulasi mengenai pergeseran paradigma dari pro-stabilitas menuju pro-pertumbuhan.

"Pasar biasanya merespons ketidakpastian tentang kebijakan di masa depan dengan sangat cepat," ujar Deniey. Ia menambahkan bahwa rencana pelonggaran suku bunga yang terlalu dini atau sikap yang terlalu akomodatif di tengah ketidakpastian global justru dapat menjadi bumerang yang melemahkan nilai tukar.

Kekhawatiran utama para pelaku pasar adalah jika kepemimpinan baru dianggap lebih memprioritaskan pertumbuhan ekonomi jangka pendek di atas stabilitas moneter. "Kepemimpinan yang secara implisit dianggap memprioritaskan pertumbuhan dapat melemahkan rupiah karena pasar mengantisipasi penurunan suku bunga atau pelonggaran pertahanan nilai tukar," jelasnya.

Menganalisis lebih jauh, Deniey mengingatkan otoritas moneter akan tantangan klasik dalam ekonomi internasional, yakni Trilemma Moneter. Pilihan untuk menjadi lebih fleksibel dalam mendukung kebijakan pembiayaan pemerintah membawa risiko besar pada inflasi dan stabilitas nilai tukar.

Jika Bank Indonesia terlihat "terlalu selaras" dengan agenda fiskal pemerintah tanpa menjaga jarak independensi yang cukup, investor dikhawatirkan akan menarik modalnya keluar (capital outflow). Fenomena ini, jika terjadi secara masif, akan memberikan tekanan yang jauh lebih berat bagi rupiah untuk kembali ke level fundamentalnya.

baca juga

"Trade-off dari kebijakan yang lebih fleksibel adalah inflasi dan ketidakstabilan. Ancaman arus keluar modal akan membuat beban rupiah semakin berat di tengah kondisi global yang belum mereda," tegas Deniey.

Selama ini, Bank Indonesia dikenal sangat aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing maupun pasar surat utang (DNDF) untuk meredam volatilitas. Namun, langkah ini bukan tanpa biaya. Cadangan devisa menjadi taruhannya.

Deniey menekankan bahwa Dewan Gubernur BI yang baru nantinya harus memiliki kapasitas mumpuni dalam mengelola cadangan devisa dan menentukan prioritas intervensi. Muncul wacana mengenai "efisiensi" atau realokasi anggaran intervensi yang mirip dengan pola kebijakan di Kementerian Keuangan.

"Tentu intervensi ini butuh biaya besar. Pertanyaannya, apakah pola ini akan dipertahankan atau ada realokasi untuk kebijakan lain? Jika efisiensi dilakukan pada sektor pertahanan nilai tukar di saat yang salah, stabilitas ekonomi kita dipertaruhkan," pungkasnya.

Kini, bola panas berada di tangan para pengambil kebijakan. Apakah mereka akan tetap teguh pada mandat stabilitas, ataukah arus politik ekonomi akan membawa nakhoda moneter ke arah yang lebih berisiko bagi nilai tukar? Pasar masih menunggu jawabannya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Purbaya Akui Juda Agung Calon Kuat Wamenkeu Pengganti Keponakan Prabowo, Dilantik Minggu Depan

Purbaya Akui Juda Agung Calon Kuat Wamenkeu Pengganti Keponakan Prabowo, Dilantik Minggu Depan

Bisnis | Selasa, 27 Januari 2026 | 17:15 WIB

Purbaya Ungkap Alasan Rupiah Menguat: Bukan Karena Thomas Djiwandono

Purbaya Ungkap Alasan Rupiah Menguat: Bukan Karena Thomas Djiwandono

Bisnis | Selasa, 27 Januari 2026 | 17:01 WIB

Lewat Paripurna DPR, Thomas Djiwandono Resmi Jadi Deputi Gubernur BI

Lewat Paripurna DPR, Thomas Djiwandono Resmi Jadi Deputi Gubernur BI

Foto | Selasa, 27 Januari 2026 | 16:33 WIB

Terkini

Keseruan Cheng Lei Pertama Kali ke Jakarta, Main Bola Bekel hingga Cicipi Kuliner Lokal

Keseruan Cheng Lei Pertama Kali ke Jakarta, Main Bola Bekel hingga Cicipi Kuliner Lokal

Entertainment | Minggu, 13 September 2026 | 13:56 WIB

Jarak Pandang Terganggu, Lion Air Gagal Mendarat di Bandara Pekanbaru

Jarak Pandang Terganggu, Lion Air Gagal Mendarat di Bandara Pekanbaru

Riau | Minggu, 13 September 2026 | 13:50 WIB

Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?

Disebut "Jamet" hingga Difatwa Haram, Mengapa Sound Horeg Tetap Digemari?

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 13:50 WIB

Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!

Habis Rp100 Ribuan, Puas Gak Ya Makan Kimchi Karubi Nikudon di Kimukatsu? Ini Pengalaman Aslinya!

Your Say | Minggu, 13 September 2026 | 13:50 WIB

PSMS Medan Targetkan 3 Poin di Kandang Sumsel United

PSMS Medan Targetkan 3 Poin di Kandang Sumsel United

Sumut | Minggu, 13 September 2026 | 13:49 WIB

JK Kritik Penanganan Papua: Jangan Cuma Mengandalkan Operasi Keamanan!

JK Kritik Penanganan Papua: Jangan Cuma Mengandalkan Operasi Keamanan!

Sulsel | Minggu, 13 September 2026 | 13:49 WIB

Kecantikan Makin Personal: Halal, Niche Fragrance hingga AI Jadi Tren Baru Industri Kecantikan

Kecantikan Makin Personal: Halal, Niche Fragrance hingga AI Jadi Tren Baru Industri Kecantikan

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 13:37 WIB

12 Cara Membersihkan Makeup Waterproof dengan Efektif

12 Cara Membersihkan Makeup Waterproof dengan Efektif

Lifestyle | Minggu, 13 September 2026 | 13:30 WIB

115 Korban KM Virgo Transport 8 Berhasil Dievakuasi, 1 Meninggal Dunia

115 Korban KM Virgo Transport 8 Berhasil Dievakuasi, 1 Meninggal Dunia

News | Minggu, 13 September 2026 | 13:28 WIB

Hari Ketujuh, Tim SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda hingga 6.010 NM Persegi

Hari Ketujuh, Tim SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda hingga 6.010 NM Persegi

News | Minggu, 13 September 2026 | 13:25 WIB

×