Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.765.000
Beli Rp2.635.000
IHSG 5.594,765
LQ45 557,746
Srikehati 272,472
JII 338,801
USD/IDR 18.035

Pemerintah Diminta Waspadai El Nino, Produksi Padi Terancam Turun

Liberty Jemadu, Fakhri Fuadi Muflih

Selasa, 20 Januari 2026 | 20:33 WIB
Pemerintah Diminta Waspadai El Nino, Produksi Padi Terancam Turun
Pemerintah diminta waspadai fenomena El Nino yang bisa membuat produksi padi 2026 turun 5 persen. Foto: Area persawahan terendam banjir di Desa Pasir Ampo, Kresek, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (20/1/2026). [Antara]
  • Guru Besar IPB Dwi Andreas Santosa memperingatkan ketahanan pangan 2026 rentan akibat potensi El Nino.
  • Produksi padi diprediksi turun hingga lima persen karena El Nino diperkirakan dimulai Juni atau Juli 2026.
  • Pemerintah perlu antisipasi ancaman iklim melalui perbaikan tata kelola pangan dan manajemen risiko akurat.

Suara.com - Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB), Dwi Andreas Santosa menilai proyeksi ketahanan pangan Indonesia pada 2026 tidak bisa hanya bertumpu pada capaian produksi tinggi tahun sebelumnya. Perubahan pola iklim disebut berpotensi menjadi faktor pembalik yang dapat menekan produksi padi dan memengaruhi stabilitas pasokan beras nasional.

Peringatan itu disampaikan Andreas dalam acara CORE Outlook Sektoral bertajuk “Ketahanan Pangan Indonesia 2026: Dari Bencana ke Strategi”. Dalam forum tersebut, isu iklim menjadi salah satu sorotan, terutama terkait potensi masuknya El Nino dalam beberapa bulan ke depan.

Menurutnya, capaian produksi beras 2025 tidak bisa menjadi patokan tunggal untuk memprediksi kondisi 2026. Ia menyebut lonjakan produksi pada tahun lalu salah satunya dipengaruhi kondisi La Nina.

“Kenapa produksi tahun lalu naik sangat tinggi? Kita di sini posisinya, La Nina. Kita dalam posisi ini,” kata Andreas di Jakarta, Selasa (20/1/2026).

Ia menjelaskan, berdasarkan pengamatannya terhadap sejarah produksi padi dalam tiga dekade terakhir, pola iklim punya dampak langsung terhadap output pertanian. Saat La Nina, produksi cenderung meningkat, sedangkan El Nino biasanya membuat produksi turun.

“Di manapun data saya mau pelajari sejarah produksi padi 30 tahun terakhir, kalau La Nina produksi pasti naik. Tapi kalau El Nino produksi pasti turun,” ujarnya.

Peneliti CORE Indonesia itu menyebut, sejumlah lembaga internasional memprediksi Indonesia akan memasuki El Nino mulai Juni atau Juli 2026. Ia menilai durasi fenomena tersebut juga berpotensi panjang.

“Perhitungan berbagai lembaga internasional, kita akan mengalami El Nino mulai bulan Juni-Juli ini. Dan berapa lama El Ninonya? 1 tahun sampai Juli tahun 2027,” ucapnya.

Dengan skenario tersebut, ia memperkirakan produksi beras nasional pada 2026 bisa terkoreksi. Menurutnya, penurunan produksi beras berpotensi mencapai 5 persen.

“Untuk itu prediksi saya produksi beras 2026 berpotensi turun hingga 5 persen,” kata Andreas.

Ia menilai ancaman El Nino perlu diantisipasi sejak dini, terutama lewat perbaikan tata kelola pangan. Menurutnya, pemerintah harus menyiapkan kebijakan yang lebih berbasis fakta, termasuk dalam membaca data produksi dan kebutuhan pasokan.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya manajemen risiko yang efektif. Salah satunya melalui informasi cuaca yang akurat sebagai dasar perencanaan kebijakan pangan dan langkah mitigasi di lapangan.

Ia menyinggung adanya perbedaan pernyataan dari lembaga dalam negeri terkait kondisi iklim 2026. Menurutnya, sinyal dari lembaga internasional perlu diperhatikan agar pemerintah tidak terlambat mengambil langkah.

“BMKG barusan minggu lalu, bahwa iklim 2026 baik-baik saja. Iklimnya normal. Bisa dibayangkan lembaga sekelas BMKG, padahal seluruh lembaga internasional terkait dengan cuaca menyatakan bahwa tahun 2026 El Nino,” tuturnya.

Andreas juga menilai, kesiapan infrastruktur air dan strategi penguatan produksi perlu menjadi prioritas. Ia menyinggung perlunya kebijakan yang tepat dalam penyediaan pompa hingga pembangunan sumur dalam, terutama untuk daerah yang jauh dari sumber air.

Di sisi lain, ia mengingatkan agar pemerintah tidak sekadar menumpuk stok tanpa perhitungan pelepasan yang jelas. Menurutnya, tata kelola stok yang tepat menjadi kunci menghadapi potensi guncangan produksi akibat iklim.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Stok Beras Bulog Menumpuk Bisa Rugikan Negara

Stok Beras Bulog Menumpuk Bisa Rugikan Negara

Bisnis | Selasa, 20 Januari 2026 | 17:21 WIB

CORE Indonesia Soroti Harga Beras Mahal di Tengah Produksi Padi Meningkat

CORE Indonesia Soroti Harga Beras Mahal di Tengah Produksi Padi Meningkat

Bisnis | Selasa, 20 Januari 2026 | 17:00 WIB

Ketika Kas Negara Tekor Rp 695 Triliun, Apa Urusannya dengan Anda?

Ketika Kas Negara Tekor Rp 695 Triliun, Apa Urusannya dengan Anda?

Bisnis | Senin, 19 Januari 2026 | 16:13 WIB

Pemerintah-BUMN Mulai Manfaatkan Kawasan Hutan untuk Ketahanan Pangan dan Energi

Pemerintah-BUMN Mulai Manfaatkan Kawasan Hutan untuk Ketahanan Pangan dan Energi

Bisnis | Kamis, 15 Januari 2026 | 20:34 WIB

Ancaman Krisis Iklim, Menko Airlangga Ungkap Produksi Padi Sempat Anjlok 4 Juta Ton

Ancaman Krisis Iklim, Menko Airlangga Ungkap Produksi Padi Sempat Anjlok 4 Juta Ton

Bisnis | Rabu, 14 Januari 2026 | 16:24 WIB

Terkini

Panas Bumi Indonesia Melesat, PGE Dapat Suntikan Dana Rp7,8 Triliun untuk 3 Proyek Strategis

Panas Bumi Indonesia Melesat, PGE Dapat Suntikan Dana Rp7,8 Triliun untuk 3 Proyek Strategis

Bisnis | Sabtu, 06 Juni 2026 | 09:14 WIB

Harga Emas Hari Ini Naik, Antam Tembus Rp2,88 Juta per Gram, Masih Jadi Investasi Incaran?

Harga Emas Hari Ini Naik, Antam Tembus Rp2,88 Juta per Gram, Masih Jadi Investasi Incaran?

Bisnis | Sabtu, 06 Juni 2026 | 08:42 WIB

Bekas Klinik Peninggalan Belanda Dimanfaatkan Jadi Kebun Lidah Buaya, Nyiramnya Bisa Lewat HP

Bekas Klinik Peninggalan Belanda Dimanfaatkan Jadi Kebun Lidah Buaya, Nyiramnya Bisa Lewat HP

Bisnis | Sabtu, 06 Juni 2026 | 08:24 WIB

OJK Catat Aset Industri Asuransi Tembus Rp1,2 Kuadriliun pada April 2026, Tumbuh 3,39 Persen

OJK Catat Aset Industri Asuransi Tembus Rp1,2 Kuadriliun pada April 2026, Tumbuh 3,39 Persen

Bisnis | Sabtu, 06 Juni 2026 | 07:51 WIB

Belanja Negara Capai Rp1.365,4 Triliun hingga Mei 2026, Tumbuh 34,4 Persen

Belanja Negara Capai Rp1.365,4 Triliun hingga Mei 2026, Tumbuh 34,4 Persen

Bisnis | Sabtu, 06 Juni 2026 | 07:30 WIB

Saham BBCA dan BBRI Sedang 'Cuci Gudang', Saatnya Borong?

Saham BBCA dan BBRI Sedang 'Cuci Gudang', Saatnya Borong?

Bisnis | Jum'at, 05 Juni 2026 | 23:33 WIB

Pasar Modal Indonesia Ditinggal Investor, 15 Perusahaan Masih Nekat IPO Tahun Ini

Pasar Modal Indonesia Ditinggal Investor, 15 Perusahaan Masih Nekat IPO Tahun Ini

Bisnis | Jum'at, 05 Juni 2026 | 20:51 WIB

MinyaKita Hilang dari Rak Toko, Tukang Gorengan Akui Rugi Pengeluaran Bengkak

MinyaKita Hilang dari Rak Toko, Tukang Gorengan Akui Rugi Pengeluaran Bengkak

Bisnis | Jum'at, 05 Juni 2026 | 20:49 WIB

Punya Rumah Tak Lagi Ribet, Pengajuan KPR untuk Gen Z Dipermudah

Punya Rumah Tak Lagi Ribet, Pengajuan KPR untuk Gen Z Dipermudah

Bisnis | Jum'at, 05 Juni 2026 | 20:43 WIB

Meski Rupiah-IHSG Loyo, Purbaya Buktikan Arus Modal Asing Masih Ramai Masuk RI

Meski Rupiah-IHSG Loyo, Purbaya Buktikan Arus Modal Asing Masih Ramai Masuk RI

Bisnis | Jum'at, 05 Juni 2026 | 20:37 WIB