- Menko Perekonomian Airlangga Hartarto peringatkan dampak perubahan iklim pada kedaulatan pangan Indonesia.
- Anomali cuaca 2024 (El Nino dan La Nina) menyebabkan produksi padi nasional turun hingga empat juta ton.
- Pemerintah dorong modernisasi pertanian dan pengembangan *food estate* didukung riset bibit unggul sebagai mitigasi.
Suara.com - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, memberikan peringatan serius mengenai dampak perubahan iklim yang kini menjadi tantangan nyata bagi kedaulatan pangan Indonesia.
Menurutnya, anomali cuaca ekstrem bukan lagi sekadar risiko masa depan, melainkan ancaman yang sudah memberikan dampak langsung pada produktivitas lahan pertanian nasional.
Dalam pertemuan di Menara Kadin, Jakarta, Selasa (13/1/2026), Airlangga menyoroti kerentanan sektor agraris terhadap pergeseran pola iklim yang semakin sulit diprediksi.
Airlangga merujuk pada data tahun 2024 sebagai bukti nyata besarnya risiko iklim. Pada periode tersebut, kemunculan fenomena El Nino dan La Nina secara hampir bersamaan telah mengganggu siklus tanam di berbagai daerah.
“Kita pengalaman di tahun 2024 baik El Nino maupun La Nina yang bareng itu menurunkan produksi padi sampai dengan 4 juta ton,” ungkap Airlangga.
Penurunan volume produksi yang masif tersebut menegaskan bahwa stabilitas pangan sangat bergantung pada kondisi alam. Hal ini, menurut Airlangga, menuntut kewaspadaan kolektif dari seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
Meski dihantui krisis iklim, Airlangga menegaskan bahwa sektor pertanian tetap menjadi pilar utama penyangga ekonomi Indonesia. Perannya tidak tergantikan, baik dari sisi kontribusi terhadap pendapatan negara maupun kesejahteraan sosial.
Berdasarkan paparan Airlangga, sektor ini memegang peranan krusial sebagai berikut:
- Sumbangan PDB: Pertanian berkontribusi sebesar 14,35 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
- Lapangan Kerja: Sektor ini menjadi tumpuan hidup bagi sedikitnya 40 juta tenaga kerja di seluruh penjuru tanah air.
Guna menghadapi ketidakpastian iklim ke depan, pemerintah memperkuat langkah-langkah mitigasi melalui sejumlah program strategis. Salah satu fokus utamanya adalah pengembangan kawasan food estate yang terintegrasi.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Insentif Lebaran 2026, Ada Diskon Tiket Pesawat
Namun, Airlangga memberikan catatan penting bahwa perluasan lahan saja tidak cukup. Ia mendorong adanya transformasi fundamental dalam metode pertanian dari konvensional menuju pertanian modern (modern farming).
“Nah tentu untuk pengembangan food estate itu kita harus mendorong yang namanya modern farming,” jelasnya. Ia meyakini bahwa penggunaan teknologi canggih akan membuka peluang peningkatan hasil panen yang lebih konsisten meskipun kondisi cuaca tidak menentu.
Selain modernisasi alat, Airlangga menekankan pentingnya aspek intensifikasi. Ketersediaan pupuk, pembangunan infrastruktur irigasi, pendampingan penyuluh, hingga ketersediaan benih berkualitas menjadi variabel kunci dalam mempertahankan produksi.
Ia pun menggarisbawahi peran riset sebagai penentu masa depan pertanian.
Pengembangan bibit unggul berbasis teknologi tinggi dipandang sebagai solusi mutakhir atau game changer untuk menghasilkan tanaman yang lebih kuat menghadapi serangan hama maupun perubahan suhu ekstrem.
“Dan salah satu yang merupakan game changer tentu penelitian mengenai bibit,” pungkas Airlangga.