- Ketua PPTTI menyebut tingginya impor tapioka disebabkan harga produk impor lebih murah dari produk lokal.
- Impor tapioka dari Thailand meningkat setelah Tiongkok menghentikan pembelian dan menyebabkan harga di sana jatuh.
- Kondisi harga murah ini menekan serapan tapioka lokal di pasar domestik meskipun pasokan dalam negeri cukup.
Suara.com - Ketua Umum Perkumpulan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI) Welly Sugiono menilai impor tapioka masih tinggi karena faktor harga. Welly menyebut impor bukan terjadi karena stok dalam negeri tidak mencukupi.
Welly menyampaikan, pengusaha memilih tapioka impor karena harganya lebih murah dibanding produk lokal. Welly menegaskan faktor harga menjadi pertimbangan utama pelaku industri.
Welly menjelaskan produk impor masuk karena harganya lebih rendah. Welly menyebut kondisi itu membuat serapan tapioka lokal tertekan.
“Enggak, masalahnya harga. Yang lebih murah impor,” ujar Welly kepada wartawan, dikutip Minggu (25/1/2026).
Welly menyebut impor tapioka banyak berasal dari Thailand. Welly mengatakan harga di Thailand jatuh karena stok menumpuk setelah China menghentikan impor tapioka.
“China tiba-tiba stop impor tapioka, dia pakai corn starch (pati jagung). Kan stok tapiokanya numpuk di sana (Thailand). Dia banting harga,” ujar Welly.
Welly menilai pengusaha Indonesia memanfaatkan momentum harga murah tersebut. Welly menyebut pengusaha tidak melanggar aturan karena kebijakan impor tidak melarang masuknya tapioka.
“Nah, pengusaha Indonesia enggak salah dong, memang bukan kriminal enggak dilarang kok,” kata Welly.
Welly mengatakan kondisi itu berdampak pada industri dalam negeri. Welly menilai pasar domestik akhirnya tidak menyerap produk lokal secara optimal.
Baca Juga: Indonesia Gemar Impor Singkong
“Nah, efeknya di kita. Kan begitu ceritanya,” ucapnya.
Welly menyebut serapan tapioka lokal menurun ketika produk impor membanjiri pasar. Welly menilai kondisi itu terjadi karena pelaku usaha mencari bahan baku dengan harga paling kompetitif.
“Jadi domestik enggak terlalu terserap ya,” ucap Welly.
Welly menyampaikan kebutuhan industri dalam negeri sebenarnya cukup besar. Welly menilai pasokan dari dalam negeri dapat memenuhi kebutuhan, namun persoalan harga membuat impor tetap masuk.
Welly mengatakan kondisi pasar membuat pengusaha mengambil opsi termurah. Welly menyebut pola tersebut terjadi ketika negara pemasok sedang panen dan harga turun.
“Tapi ketika di sana panen, harganya murah, ya namanya pengusaha, kan cari yang murah,” kata Welly.