Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.785.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 6.130,190
LQ45 620,397
Srikehati 308,223
JII 381,928
USD/IDR 17.785

Kredit Perbankan Lesu Karena Daya Beli Masyarakat Masih Lemah

Liberty Jemadu | Rina Anggraeni | Suara.com

Rabu, 28 Januari 2026 | 12:13 WIB
Kredit Perbankan Lesu Karena Daya Beli Masyarakat Masih Lemah
Pengamat perbankan dari LPPI Trioksa Siahaan mengungkapkan permintaan kredit perbankan lesu karena daya beli masyarakat yang juga masih lemah. [Pixabay]
  • Permintaan kredit perbankan lesu disebabkan oleh daya beli masyarakat dan ekspansi perusahaan yang masih melemah.
  • Dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) pemerintah dinilai belum efektif karena kredit menganggur bank masih sangat besar.
  • OJK memproyeksikan kredit perbankan tumbuh positif Q1 2026 didorong momentum hari besar dan perbaikan sektor riil.

Suara.com - Pengamat perbankan sekaligus Senior Vice President Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI) Trioksa Siahaan mengungkapkan permintaan kredit perbankan lesu karena daya beli masyarakat yang juga masih lemah.

"Lesunya kredit bank lebih karena permintaan kredit yang juga lesu. Permintaan kredit yang lesu karena perusahaan terhambat ekspansi akibat melemahnya daya beli masyarakat," kata Trioka saat dihubungi Suara.com, Rabu (28/1/2026).

Kata dia, dana Saldo Anggaran Lebih atau dana SAL yang diberikan pemerintah dan sudah disalurkan oleh perbankan belum terlihat efektif karena undisbursed loan atau kredit nganggur bank juga masih sangat besar.

"Dana SAL belum terlihat efektif karena undisbursed loan bank juga masih sangat besar, namun harapannya dapat menekan biaya dana bank yang berdampak pada penurunan bunga kredit," imbuhnya.

Dia menambahkan yang perlu dilakukan pemerintah adalah mendorong belanja negara. Salah satunya mendorong investasi dan mendorong daya saing produk indonesia.

"Sehingga daya beli membaik, ekspansi usaha berjalan dan mendorong peningkatan permintaan kredit," tegas dia.

Kredit Perbankan Akan Tumbuh Positif di Q1

Sebelumnya Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan akan tetap tumbuh positif pada kuartal I 2026. Pertumbuhan tersebut ditopang oleh momentum Ramadan dan Idulfitri yang secara historis meningkatkan aktivitas ekonomi.

"Secara historis, momentum Ramadan dan Idulfitri cenderung mendorong peningkatan aktivitas ekonomi, khususnya konsumsi rumah tangga dan sektor-sektor produktif pendukung seperti perdagangan, transportasi, akomodasi, serta industri makanan dan minuman," kata Dian di Jakarta, Senin (28/1/2026).

Momentum itu diharapkan bisa meningkatkan permintaan kredit, termasuk kredit konsumsi dan kredit modal kerja.

Selain faktor musiman, Dian menyebut sejumlah faktor lain juga akan mendukung pertumbuhan kredit pada awal 2026, antara lain transmisi kebijakan moneter yang semakin membaik, tren penurunan suku bunga pinjaman, serta percepatan belanja pemerintah dan investasi swasta.

Adapun dari sisi kinerja, OJK mencatat intermediasi perbankan hingga November 2025 berada pada kondisi relatif stabil dengan profil risiko yang terjaga dan likuiditas yang memadai.

Pertumbuhan kredit secara tahunan (yoy) tercatat sebesar 7,74 persen, meningkat dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar 7,36 persen.

Kualitas kredit juga tetap terjaga, tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) gross sebesar 2,21 persen, membaik dibandingkan Oktober 2024 yang sebesar 2,25 persen. Kondisi ini antara lain ditopang oleh pertumbuhan kredit produktif, khususnya Kredit Investasi (KI) yang tumbuh 17,98 persen secara tahunan (yoy).

"Hal ini menunjukkan perbankan telah mampu mengatasi berbagai tantangan dalam penyaluran kredit dan sektor riil telah mulai menunjukkan perbaikan permintaan," kata dia.

OJK juga mendorong perbankan agar menyalurkan kredit secara optimal pada segmen yang sesuai dengan keahlian dan risk appetite masing-masing bank, sehingga peluang bisnis dapat dimanfaatkan dengan baik sekaligus menjaga pertumbuhan kredit yang sehat dan berkelanjutan.

Berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi per November 2025 mencatatkan pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 17,98 persen yoy, diikuti oleh kredit konsumsi tumbuh sebesar 6,67 persen yoy. Sedangkan kredit modal kerja tumbuh sebesar 2,04 persen yoy.

Dari kategori debitur, kredit korporasi tumbuh sebesar 12 persen yoy. Sementara kredit UMKM masih menghadapi tantangan yang cukup berat atau masih terkontraksi.

Di sisi lain, dana pihak ketiga (DPK) pada November 2025 tumbuh sebesar 12,03 persen yoy atau meningkat dari sebelumnya sebesar 11,48 persen yoy sehingga menjadi sebesar Rp9.899,07 triliun.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gara-gara Ini, Jumlah Tabungan Rp5 Miliar Meningkat

Gara-gara Ini, Jumlah Tabungan Rp5 Miliar Meningkat

Bisnis | Jum'at, 23 Januari 2026 | 07:42 WIB

Jurus OJK Genjot Kredit Perbankan di 2026

Jurus OJK Genjot Kredit Perbankan di 2026

Bisnis | Minggu, 04 Januari 2026 | 17:57 WIB

Purbaya Ungkap Sisa Kas Negara Akhir 2025 Masih Ada Rp 399 Triliun

Purbaya Ungkap Sisa Kas Negara Akhir 2025 Masih Ada Rp 399 Triliun

Bisnis | Jum'at, 02 Januari 2026 | 15:45 WIB

Purbaya Akui Suntikan Dana SAL Rp 276 Triliun ke Bank Belum Optimal ke Ekonomi

Purbaya Akui Suntikan Dana SAL Rp 276 Triliun ke Bank Belum Optimal ke Ekonomi

Bisnis | Kamis, 01 Januari 2026 | 11:35 WIB

Pertumbuhan Kredit Perbankan Lesu, Ini Biang Keroknya

Pertumbuhan Kredit Perbankan Lesu, Ini Biang Keroknya

Bisnis | Kamis, 20 November 2025 | 10:42 WIB

Terkini

OJK Buka Suara soal Isu MUFG Mau Caplok Bank Danamon

OJK Buka Suara soal Isu MUFG Mau Caplok Bank Danamon

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 10:07 WIB

Misteri Rp 100 Miliar Sapi Kurban Prabowo, Menkeu Purbaya Ngaku Tak Tahu

Misteri Rp 100 Miliar Sapi Kurban Prabowo, Menkeu Purbaya Ngaku Tak Tahu

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 10:07 WIB

Simak Harga Kurs Dolar AS di Bank Mandiri, BNI, BRI dan BCA, Ada yang Jual Rp17.950

Simak Harga Kurs Dolar AS di Bank Mandiri, BNI, BRI dan BCA, Ada yang Jual Rp17.950

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:59 WIB

Harga Cabai Meledak, Telur dan Daging Sapi Ikut Bikin Dompet Menjerit

Harga Cabai Meledak, Telur dan Daging Sapi Ikut Bikin Dompet Menjerit

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:53 WIB

J Trust Bank Kantongi Laba Bersih Rp 56,32 Miliar Hingga April 2026

J Trust Bank Kantongi Laba Bersih Rp 56,32 Miliar Hingga April 2026

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:49 WIB

Trump Bikin Pasar Bergejolak, Harga Minyak Dunia Langsung Naik Tajam

Trump Bikin Pasar Bergejolak, Harga Minyak Dunia Langsung Naik Tajam

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:42 WIB

Harga Emas Diprediksi Tembus 8.000 Dolar AS, Apa Saja Faktor Penyebabnya?

Harga Emas Diprediksi Tembus 8.000 Dolar AS, Apa Saja Faktor Penyebabnya?

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:34 WIB

Harga Emas Antam Turun Jadi Rp 2.754.000/Gram di Cuti Bersama

Harga Emas Antam Turun Jadi Rp 2.754.000/Gram di Cuti Bersama

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:23 WIB

Blackout di Sumatra Jadi Alarm untuk Penguatan Sistem Kelistrikan Nasional

Blackout di Sumatra Jadi Alarm untuk Penguatan Sistem Kelistrikan Nasional

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:18 WIB

Danantara Klaim Jika SDA Tak Dikendalikan yang Rugi Rakyat

Danantara Klaim Jika SDA Tak Dikendalikan yang Rugi Rakyat

Bisnis | Kamis, 28 Mei 2026 | 09:02 WIB