Disentil MSCI, Saham Konglomerat Langsung Melarat

Mohammad Fadil Djailani

Rabu, 28 Januari 2026 | 16:56 WIB
Disentil MSCI, Saham Konglomerat Langsung Melarat
Ilsutrasi. Saham-saham milik konglomerat besar yang selama ini menjadi penopang indeks justru menjadi sasaran utama aksi jual hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB). [Suara.com/Alfian Winanto]
baca 10 detik
  • Morgan Stanley Capital International (MSCI), mengeluarkan keputusan yang mengejutkan pelaku pasar di Tanah Air.
  • Pada sesi II perdagangan Rabu (28/1/2026), IHSG terpantau anjlok hingga 8% ke level 8.261,78.
  • Saham-saham milik konglomerat besar yang selama ini menjadi penopang indeks justru menjadi sasaran utama aksi jual hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB).

Suara.com - Pasar modal Indonesia mengalami salah satu hari tergelapnya pada awal tahun 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas hingga menyentuh ambang batas psikologis yang mengkhawatirkan.

Bukan sekadar koreksi biasa, pasar saham domestik dipaksa bertekuk lutut setelah organisasi indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI), mengeluarkan keputusan yang mengejutkan pelaku pasar di Tanah Air..

Pada sesi II perdagangan Rabu (28/1/2026), IHSG terpantau anjlok hingga 8% ke level 8.261,78. Skala kepanikan yang masif ini memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah ekstrem dengan memberlakukan penghentian sementara perdagangan (trading halt) selama 30 menit demi meredam volatilitas yang liar.

Pemicu utama tsunami merah di papan perdagangan ini adalah pengumuman kebijakan MSCI yang membekukan perlakuan indeks bagi saham-saham asal Indonesia. Alasan di balik langkah tersebut sangat krusial dan menyerang jantung kepercayaan investor: keraguan atas transparansi free float (porsi saham yang beredar di publik) serta aksesibilitas pasar.

Keputusan MSCI ini bak petir di siang bolong bagi para pengelola dana. Mengingat mayoritas manajer investasi global menggunakan MSCI sebagai acuan utama (benchmark) portofolio mereka, pembekuan ini memicu aliran modal keluar (outflow) secara masif. Para investor asing berbondong-bondong melepas kepemilikan mereka sebelum risiko likuiditas semakin memburuk. Tekanan jual yang brutal sudah terasa sejak Sesi I dengan pelemahan 7,58%, hingga akhirnya menyentuh limit 8% di sesi berikutnya.

Koreksi tajam ini tidak pandu bulu. Saham-saham milik konglomerat besar yang selama ini menjadi penopang indeks justru menjadi sasaran utama aksi jual hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB).

1. Grup Barito (Prajogo Pangestu)

Gurita bisnis orang terkaya di Indonesia ini mengalami pendarahan hebat. PT Barito Pacific Tbk (BRPT) merosot 14,81% ke Rp2.300, disusul raksasa energi terbarukan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang turun 14,47% ke Rp8.125. Anak usaha lainnya seperti PT Petrosea Tbk (PTRO) terjun 14,87%, sementara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) dan lini petrokimia TPIA serta CDIA turut terkoreksi dalam di kisaran 8% hingga 15%.

2. Grup Bakrie & Sinar Mas

baca juga

Lini bisnis Grup Bakrie tak luput dari aksi cuci gudang. Saham komoditas andalan seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) ambrol hampir 15%. Hal serupa menimpa PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) milik Grup Sinar Mas yang anjlok maksimal 15% ke level Rp98.600 per lembar saham.

3. Grup Agung Sedayu & Emtek

Saham properti yang tengah naik daun, PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) milik duo raksasa properti, terperosok 14,89% ke Rp9.575. Di sektor media dan teknologi, Grup Emtek juga merana; EMTK melemah 13,94% dan SCMA turun 10,53%.

4. Hapsoro, Haji Isam, hingga Hashim Djojohadikusumo

Tekanan jual juga merembet ke saham-saham yang terafiliasi dengan nama-nama besar lainnya. Saham terkait Hapsoro seperti PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) ambruk 15%. Demikian pula dengan emiten milik "Sultan Kalimantan" Haji Isam, di mana PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) dan PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) loyo belasan persen. Tak ketinggalan, saham yang terafiliasi dengan Hashim Djojohadikusumo, PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN), tercatat ambles 14,98%.

Analis menilai bahwa "sentilan" dari MSCI ini merupakan teguran keras bagi regulator dan emiten di Indonesia. Isu free float memang telah lama menjadi sorotan, di mana struktur kepemilikan yang terkonsentrasi pada segelintir pengendali seringkali dianggap mengurangi kedalaman pasar dan transparansi harga.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?

MSCI Melihat 'Bandit' di Pasar Saham RI?

Bisnis | Rabu, 28 Januari 2026 | 16:30 WIB

Saham-saham Emiten Tambang Rontok Massal

Saham-saham Emiten Tambang Rontok Massal

Bisnis | Rabu, 28 Januari 2026 | 15:40 WIB

Apa Itu Trading Halt Saat IHSG Anjlok 8 Persen, Siapa yang Melakukannya?

Apa Itu Trading Halt Saat IHSG Anjlok 8 Persen, Siapa yang Melakukannya?

Bisnis | Rabu, 28 Januari 2026 | 14:55 WIB

Terkini

Saat Perlengketan Usus Melibatkan Saluran Kemih, Mengapa Penanganannya Lebih Kompleks?

Saat Perlengketan Usus Melibatkan Saluran Kemih, Mengapa Penanganannya Lebih Kompleks?

Health | Rabu, 28 Oktober 2026 | 20:01 WIB

438 Ribu Kasus ISPA di Sumsel, Siapa Menghitung Kerugian Perempuan dan Anak akibat Karhutla?

438 Ribu Kasus ISPA di Sumsel, Siapa Menghitung Kerugian Perempuan dan Anak akibat Karhutla?

Sumsel | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:58 WIB

Massa Pendemo Bakar Barier Dekat Plaza UOB, Letusan Terdengar

Massa Pendemo Bakar Barier Dekat Plaza UOB, Letusan Terdengar

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:52 WIB

Romantis! Alpha Drive One Bahas Koneksi Emosional di Lagu Baru, Talk To Me

Romantis! Alpha Drive One Bahas Koneksi Emosional di Lagu Baru, Talk To Me

Your Say | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:50 WIB

Dea OnlyFans Ikut Demo Indonesia Sadar 28 Oktober: Selfie dengan Simbol Tiga Jari

Dea OnlyFans Ikut Demo Indonesia Sadar 28 Oktober: Selfie dengan Simbol Tiga Jari

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:46 WIB

Tutup Jalan Slamet Riyadi, Aliansi Mahasiswa Soloraya Teriakkan 'Prabowo-Gibran Penuh Kegagalan!'

Tutup Jalan Slamet Riyadi, Aliansi Mahasiswa Soloraya Teriakkan 'Prabowo-Gibran Penuh Kegagalan!'

Surakarta | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:43 WIB

Diguyur Hujan Deras, Situasi Terkini Bundaran HI: Massa Bertahan, Jalur Ditutup

Diguyur Hujan Deras, Situasi Terkini Bundaran HI: Massa Bertahan, Jalur Ditutup

News | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:43 WIB

Terus Kembangkan Inovasi Transformasi Digital, Pegadaian Raih The Finance Special Award 2026

Terus Kembangkan Inovasi Transformasi Digital, Pegadaian Raih The Finance Special Award 2026

Bisnis | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:39 WIB

AI Mulai Masuk Ruang Kelas, Guru Harus Ajarkan Siswa Cara Cek Fakta

AI Mulai Masuk Ruang Kelas, Guru Harus Ajarkan Siswa Cara Cek Fakta

Lifestyle | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:36 WIB

Cair! Pemprov Riau Dapat Rp30 Miliar untuk Penanganan Karhutla

Cair! Pemprov Riau Dapat Rp30 Miliar untuk Penanganan Karhutla

Riau | Rabu, 28 Oktober 2026 | 19:33 WIB

×