- Morgan Stanley Capital International (MSCI), mengeluarkan keputusan yang mengejutkan pelaku pasar di Tanah Air.
- Pada sesi II perdagangan Rabu (28/1/2026), IHSG terpantau anjlok hingga 8% ke level 8.261,78.
- Saham-saham milik konglomerat besar yang selama ini menjadi penopang indeks justru menjadi sasaran utama aksi jual hingga menyentuh batas Auto Rejection Bawah (ARB).
Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto, menilai kondisi ini justru bisa dimaknai sebagai momentum perbaikan bagi pasar modal nasional.
"Pasar modal Indonesia memiliki fondasi yang kuat, jumlah investor domestik yang terus bertumbuh, fundamental ekonomi yang relatif solid, serta emiten dengan kualitas bisnis yang kompetitif secara regional," kata David dalam keterangannya, Rabu (28/1).
Menurutnya tantangan ke depan ialah memastikan infrastruktur regulasi, transparansi data, serta konsistensi kebijakan dapat terus ditingkatkan agar sejalan dengan perkembangan pasar. Dia menilai koreksi IHSG saat ini lebih mencerminkan proses penyesuaian pasar terhadap informasi baru yang muncul.
"Jika momentum ini dimanfaatkan dengan baik, bukan hanya status Indonesia sebagai emerging market yang dapat dipertahankan, tetapi kualitas pasar modal nasional justru dapat meningkat dan semakin dipercaya oleh investor global," imbuh ia.