- Nilai tukar rupiah melemah 0,20 persen menjadi Rp16.755 per dolar AS pada Kamis, 29 Januari 2026.
- Pelemahan rupiah dipicu sentimen global, termasuk indeks dolar AS yang *rebound* dan ekspektasi suku bunga AS tinggi.
- Beberapa mata uang Asia melemah signifikan, namun Won Korea Selatan tercatat menguat paling besar di kawasan tersebut.
Suara.com - Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan pada hari ini, Kamis (29/1/2026). Seperti dilansir dari Bloomberg, nilai tukar rupiah melemah 0,20 persen menjdi Rp 16.755 per dolar Amerika Serikat dari sebelumnya Rp 16.722 pada penutupan perdagangan Rabu.
Sedangkan, kurs Jisdor Bank Indonesia tercatat di Rp16.786 per dolar AS. Sementara itu, pergerakan mata uang Asia sebagian bervariasi.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan pelemahan rupiah terhadap dolar AS dikarenakan sentimen global. Apalagi, indeks dolar AS mengalami rebound.
"Rupiah ditutup melemah terhadap dolar AS di tengah sentimen risk off di pasar ekuitas domestik terkait potensi downgrade MSCI dan Goldman Sachs," katanya saat dihubungi Suara.com.
Kata dia, IHSG masih di wilayah negatif membuat rupiah tertekan. Apalagi,tidak ada data ekonomi penting baik dari dalam maupun luar membuat investor masih perlu mencemati dampak dari perkembangan seputar MSCI dan geopolitik seputar ancaman Trump pada Iran.
Sementara menurut Research and Development Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX) Taufan Dimas Hareva pelemahan rupiah dipengaruhi ekspektasi suku bunga AS bertahan tinggi lebih lama.
“Rupiah pada perdagangan hari ini bergerak fluktuatif. Tekanan masih berasal dari faktor global, terutama penguatan dolar AS seiring ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan tinggi lebih lama, serta kenaikan imbal hasil US Treasury,” kata Dimas.
Bank sentral Amerika Serikat Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga kebijakan tidak berubah pada kisaran antara 3,5-3,75 persen.
Berbagai indikator menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi berkembang dengan solid, penambahan lapangan kerja tetap rendah, tingkat pengangguran menunjukkan beberapa tanda stabilitas, serta inflasi agak tetap tinggi.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Masih Ungguli Dolar AS, Ditutup ke Level Rp 16.782/USD
“Kondisi tersebut mendorong investor global bersikap lebih berhati hati terhadap aset berisiko, sehingga ruang penguatan rupiah menjadi terbatas meski pelemahan diperkirakan tidak agresif,” ungkap Taufan.
Rupiah bukan satu-satunya mata uang Asia yang melemah. Peso Filipina menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ditutup anjlok 0,34 persen. Selanjutnya, ringgit Malaysia ambles 0,23 persen, rupee India tertekan 0,2 persen dan diikuti dolar Taiwan yang terkoreksi 0,19 persen.
Baht Thailand juga turun 0,06 persen dan dolar Hongkong melemah 0,04 persen di sore ini.
Sedangkan won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,31 persen, yen Jepang terangkat 0,08 persen, yuan China yang menanjak 0,01 persen dan dolar Singapura menguat tipis 0,008 persen terhadap the greenback.