- Investor dapat memanfaatkan momentum Ramadan 2026 karena historisnya konsumsi masyarakat melonjak signifikan menjelang Lebaran.
- Analis memprediksi sektor emiten *consumer goods* dan ritel akan menjadi primadona seiring tradisi belanja hari raya.
- Sektor telekomunikasi juga berpotensi menguat karena tingginya lalu lintas data selama periode mudik dan silaturahmi.
Suara.com - Memasuki bulan suci Ramadan 2026, gairah di pasar modal Indonesia mulai menunjukkan tren yang menarik.
Momen tahunan ini tidak hanya menjadi waktu untuk meningkatkan ibadah, tetapi juga menjadi jendela peluang bagi para investor untuk menata ulang portofolio mereka.
Secara historis, pola konsumsi masyarakat Indonesia mengalami lonjakan signifikan menjelang Lebaran, yang secara langsung memberikan angin segar bagi sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Lonjakan kebutuhan terhadap bahan pangan, minuman, hingga produk rumah tangga dan pakaian menjadi pendorong utama di balik penguatan saham-sektor tertentu.
Fenomena ini membuat emiten consumer goods dan ritel diprediksi akan kembali menjadi primadona, mengingat pertumbuhan penjualan yang biasanya tumbuh di atas rata-rata bulan biasanya.
Lantas, sektor dan emiten mana saja yang layak dicermati untuk mengoptimalkan profit di tengah momentum ini?
Analis dari MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, memberikan pandangan strategis mengenai potensi pasar selama bulan puasa.
Menurutnya, terdapat pola historis yang konsisten di mana emiten-emiten tertentu akan meraup keuntungan dari perubahan perilaku belanja masyarakat.
Momentum ini menjadi kesempatan bagi investor untuk mendapatkan keuntungan atau "cuan" di tengah fluktuasi indeks.
" Kami mencermati emiten2 consumer staples dan retail dapat menjadi pilihan saat momen ramadhan," ujar Herditya saat memberikan keterangan resminya yang diterima Suara.com pada Minggu (16/2/2026).
Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa meskipun kondisi daya beli masyarakat terkadang mengalami tantangan, tradisi belanja menjelang Idulfitri tetap menjadi faktor penggerak utama.
Sektor ritel dinilai sangat diuntungkan karena tingginya peredaran uang di masyarakat, terutama setelah cairnya Tunjangan Hari Raya (THR).
" Dapat dikatakan secara historikal diperkirakan akan berulang, dr sisi lain emiten tsb dapat dikatakan emiten defensif, meskipun dari sisi daya beli blm begitu kuat namun pada momen ramadhan diuntungkan oleh tradisi belanja sehingga diharapkan akan meningkatkan pola konsumsi," tambah Herditya.
Dalam pengamatannya, terdapat beberapa emiten yang memiliki rekam jejak kuat dan potensi keuntungan besar di periode ini. Beberapa di antaranya mencakup perusahaan ritel gaya hidup hingga produsen makanan olahan terbesar di tanah air.
"Dimana emiten-emiten seperti ERAA, MAPI, INDF, dan MYOR dpt menjadi pilihan," tegasnya.