Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.798.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 6.969,396
LQ45 677,179
Srikehati 334,465
JII 451,232
USD/IDR 17.370

IPOT Bongkar Kelemahan Aplikasi Trading yang Masih Andalkan Data Historis

Achmad Fauzi | Suara.com

Rabu, 25 Februari 2026 | 08:35 WIB
IPOT Bongkar Kelemahan Aplikasi Trading yang Masih Andalkan Data Historis
Ilustrasi Pasar Saham (pixabay)
  • PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) meluncurkan LADI, indikator akumulasi/distribusi saham real-time pertama bagi investor ritel Indonesia.
  • LADI diklaim menawarkan standar baru melalui indikator berbasis streaming data, mengatasi kelemahan data historis aplikasi trading mayoritas.
  • IPOT mengembangkan engine LADI secara internal, mendemokratisasikan teknologi trading institusional yang sebelumnya sulit diakses ritel.

Suara.com - Di tengah lonjakan investor ritel dalam beberapa tahun terakhir, standar teknologi aplikasi trading dinilai belum sepenuhnya naik kelas. Mayoritas platform masih beroperasi sebagai data viewer menampilkan indikator berbasis data historis atau snapshot bukan engine analitik berbasis streaming real-time.

Di tengah kondisi tersebut, PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) meluncurkan versi terbaru LADI (Live Accumulation/Distribution Indicator), indikator akumulasi dan distribusi saham berbasis data yang terbaru atau real-time yang diklaim menjadi yang pertama dan satu-satunya tersedia bagi investor ritel di Indonesia.

Peluncuran ini bukan sekadar penambahan fitur. IPOT secara terbuka menyoroti kelemahan struktural sebagian besar aplikasi sekuritas yang masih mengandalkan indikator berbasis data masa lalu. Padahal, pasar saham bergerak setiap detik.

IPOT menyebut LADI menghadirkan standar baru melalui indikator berbasis streaming data, memungkinkan investor memantau beberapa saham dalam satu layar, membandingkan performa 1D, 1M, 1Y, YTD hingga 10Y secara dinamis, serta mendeteksi tekanan akumulasi dan distribusi tanpa delay.

President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The, menegaskan urgensi kecepatan dalam membaca pasar.

"Pasar bergerak setiap detik. Jika indikator yang digunakan investor tidak bergerak secepat pasar, maka akan muncul gap antara realitas dan persepsi. Dalam trading, gap tersebut dapat berarti masuk setelah momentum selesai atau keluar setelah distribusi terjadi," ujarnya seperti dikutip, Rabu (25/2/2026).

Direktur Utama PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The
Direktur Utama PT Indo Premier Sekuritas, Moleonoto The

Menurut IPOT, penggunaan indikator non-real-time bukan sekadar keterbatasan fitur, melainkan memiliki implikasi risiko nyata.

Keterlambatan membaca fase akumulasi atau distribusi berpotensi membuat investor masuk ketika momentum hampir berakhir, atau keluar setelah distribusi berlangsung.

Selain itu, indikator berbasis data historis dinilai dapat memunculkan false sense of timing. Investor merasa telah membaca sinyal pasar, padahal indikator merepresentasikan kondisi masa lalu, bukan tekanan transaksi yang sedang berlangsung.

Dalam pasar yang volatil, pendekatan reaktif berbasis harga tanpa visibilitas tekanan underlying secara langsung dinilai meningkatkan risiko kesalahan eksekusi. Apalagi jika investor harus berpindah halaman untuk melakukan verifikasi tambahan karena tidak terintegrasi dalam satu tampilan.

IPOT menilai, jika pasar bergerak real-time, maka indikator juga seharusnya real-time. Namun mengembangkan sistem semacam itu bukan perkara sederhana.

Dibutuhkan infrastruktur data streaming berkecepatan tinggi, sistem low-latency, kemampuan algorithmic coding presisi tinggi, hingga tim kuantitatif internal untuk merancang dan menguji model analitik secara berkelanjutan.

Banyak platform memilih bertahan pada model data viewer karena lebih ringan dan sederhana secara sistem. IPOT justru mengambil jalur berbeda dengan membangun engine algoritmik LADI secara internal agar indikator diperbarui secara kontinu mengikuti transaksi yang terjadi di pasar.

Accummulation/Distribution Indicator sendiri lazim digunakan dalam trading institusional untuk membaca tekanan beli dan jual sebelum sepenuhnya tercermin dalam harga. Dengan menghadirkan LADI ke investor ritel, IPOT menyebut langkah ini sebagai bentuk demokratisasi teknologi institutional-grade.

Langkah tersebut sekaligus menandai pergeseran paradigma industri sekuritas, dari kompetisi berbasis kemudahan tampilan menuju kompetisi berbasis kualitas engine analitik.

"Investor berhak mendapatkan teknologi yang selaras dengan dinamika pasar. Jika pasar bergerak real-time, indikator seharusnya juga real-time," pungkas Moleonoto.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Skandal Manipulasi, Ini Saham-saham yang 'Digoreng' Belvin

Skandal Manipulasi, Ini Saham-saham yang 'Digoreng' Belvin

Bisnis | Rabu, 25 Februari 2026 | 08:01 WIB

Profil PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), Saham yang 'Banting Stir'

Profil PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK), Saham yang 'Banting Stir'

Bisnis | Rabu, 25 Februari 2026 | 07:01 WIB

Kantongi Laba Rp1,3 T, Bos CBDK Sulap Kawasan Ini Jadi Simpul Ekonomi Baru

Kantongi Laba Rp1,3 T, Bos CBDK Sulap Kawasan Ini Jadi Simpul Ekonomi Baru

Bisnis | Selasa, 24 Februari 2026 | 14:26 WIB

Terkini

Ada Apa dengan Danantara? Lembaga Raksasa Prabowo Sembunyikan Laporan Penting

Ada Apa dengan Danantara? Lembaga Raksasa Prabowo Sembunyikan Laporan Penting

Bisnis | Senin, 11 Mei 2026 | 11:50 WIB

TelkomGroup Resmikan Kabel Laut Pukpuk, Jembatan Digital I yang Hubungkan Indonesia - Papua Nugini

TelkomGroup Resmikan Kabel Laut Pukpuk, Jembatan Digital I yang Hubungkan Indonesia - Papua Nugini

Bisnis | Senin, 11 Mei 2026 | 11:43 WIB

Bumi Berseru Fest 2025: Telkom Apresiasi 17 Inovator Lingkungan Terbaik

Bumi Berseru Fest 2025: Telkom Apresiasi 17 Inovator Lingkungan Terbaik

Bisnis | Senin, 11 Mei 2026 | 11:34 WIB

Nasib Pasokan Energi Global Kini di Tangan Xi Jinping, Harga Minyak Sudah Melambung Tinggi!

Nasib Pasokan Energi Global Kini di Tangan Xi Jinping, Harga Minyak Sudah Melambung Tinggi!

Bisnis | Senin, 11 Mei 2026 | 11:08 WIB

Cara Daftar TKM Pemula 2026 di Bizhub Kemnaker, Lengkap dengan Syarat dan Alurnya

Cara Daftar TKM Pemula 2026 di Bizhub Kemnaker, Lengkap dengan Syarat dan Alurnya

Bisnis | Senin, 11 Mei 2026 | 11:01 WIB

Bocoran Revisi Royalti Tambang: Emas, Tembaga, hingga Timah Kena Tarif Baru?

Bocoran Revisi Royalti Tambang: Emas, Tembaga, hingga Timah Kena Tarif Baru?

Bisnis | Senin, 11 Mei 2026 | 10:56 WIB

Dirjen Anggaran Dicopot Gegara Loloskan Anggaran Motor Listrik MBG? Ini Kata Purbaya

Dirjen Anggaran Dicopot Gegara Loloskan Anggaran Motor Listrik MBG? Ini Kata Purbaya

Bisnis | Senin, 11 Mei 2026 | 10:47 WIB

Rupiah Tak Berdaya: Terperosok ke Rp17.407 Saat Badai Ekonomi Menghantam Asia

Rupiah Tak Berdaya: Terperosok ke Rp17.407 Saat Badai Ekonomi Menghantam Asia

Bisnis | Senin, 11 Mei 2026 | 10:31 WIB

Harga Pangan Kian Mencekik, Cabai dan Bawang Naik di Awal Pekan

Harga Pangan Kian Mencekik, Cabai dan Bawang Naik di Awal Pekan

Bisnis | Senin, 11 Mei 2026 | 10:25 WIB

IHSG Masih Merosot pada Pembukaan Senin ke Level 6.959

IHSG Masih Merosot pada Pembukaan Senin ke Level 6.959

Bisnis | Senin, 11 Mei 2026 | 09:17 WIB