- Defisit APBN Indonesia per Februari 2026 mencapai Rp135,7 triliun, meningkat signifikan 342,4% dibanding tahun sebelumnya.
- Kemenkeu memproyeksikan defisit bisa melebihi batas aman 3% jika harga minyak mentah dunia melonjak akibat konflik Timur Tengah.
- Pemerintah merencanakan efisiensi anggaran, menargetkan penundaan proyek fisik serta penyesuaian pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Suara.com - Postur anggaran negara tengah menghadapi tantangan hebat di awal tahun 2026.
Kementerian Keuangan (Kemenkeu) melaporkan bahwa hingga 28 Februari 2026, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah menyentuh angka Rp135,7 triliun. Angka ini setara dengan 0,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025 yang hanya tercatat sebesar Rp30,7 triliun, lonjakan defisit ini mencapai 342,4%.
Fenomena ini menjadi perhatian serius mengingat tekanan eksternal dari konflik geopolitik di Timur Tengah yang mulai berdampak pada asumsi dasar ekonomi makro Indonesia.
Ketimpangan antara arus kas masuk dan keluar negara terlihat cukup lebar pada dua bulan pertama tahun ini. Berikut adalah rincian performa APBN per Februari 2026:
- Realisasi Pendapatan Negara: Terkumpul Rp358 triliun (11,4% dari target tahunan Rp3.153,6 triliun). Meskipun secara nominal naik 12,58% dibanding tahun lalu, pencapaian ini masih di bawah laju belanja.
- Penerimaan Pajak: Rp290 triliun.
- PNBP: Rp68 triliun.
- Realisasi Belanja Negara: Melambung ke angka Rp493,8 triliun (12,8% dari target Rp3.842,7 triliun). Anggaran belanja ini tumbuh pesat sebesar 41,9% dibandingkan realisasi Februari 2025.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa meskipun belanja tinggi, pemerintah berkomitmen untuk tetap menjaga mesin pertumbuhan ekonomi agar tidak melambat di tengah ketidakpastian global.
Strategi "Stress Test": MBG dan Proyek Fisik Jadi Sasaran Efisiensi
Konflik antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat di tahun 2026 telah memaksa pemerintah melakukan simulasi risiko (stress test).
Jika harga minyak mentah dunia meroket hingga US$92 per barel akibat perang, defisit APBN Indonesia diprediksi bakal membengkak hingga 3,6%, melampaui batas aman undang-undang sebesar 3%.
Baca Juga: Harga Minyak Masih Tinggi, Brent dan WTI Melonjak Akibat Konflik Timur Tengah
Sebagai langkah antisipasi, Menkeu Purbaya mulai melirik opsi penghematan pada beberapa program raksasa:
- Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Dengan anggaran jumbo Rp335 triliun untuk 82,9 juta penerima, pemerintah berencana melakukan efisiensi. Namun, Purbaya menjamin bahwa makanan inti untuk anak sekolah, ibu hamil, dan lansia tidak akan dipangkas. Penghematan hanya menyasar pada biaya pendukung operasional.
- Penundaan Proyek Infrastruktur: Sejumlah proyek multi-years di Kementerian Pekerjaan Umum (PU), seperti pembangunan jembatan dan fasilitas pendidikan tertentu, kemungkinan besar akan dijadwalkan ulang atau digeser ke tahun depan demi menyelamatkan ruang fiskal.
Dampak Domino Perang Iran-Israel 2026
Melonjaknya harga minyak mentah (ICP) jauh di atas asumsi awal (US$70-82/barel) berisiko membebani subsidi energi secara masif.
Jika harga minyak tidak terkendali, pemerintah harus bersiap menghadapi potensi kenaikan harga BBM, inflasi yang meninggi, serta tekanan pada nilai tukar Rupiah.
"Kami memastikan semua faktor pendukung pertumbuhan ekonomi tetap berjalan, namun efisiensi adalah keharusan jika kondisi eksternal terus menekan batas aman defisit kita," tegas Purbaya.