Baca 10 detik
- Rupiah melemah signifikan pada Senin (9/3/2026), mencapai Rp17.010 per USD akibat sentimen konflik militer Timur Tengah.
- Eskalasi militer di Timur Tengah memicu kenaikan harga minyak dunia melampaui US$100 per barel, mengancam logistik energi.
- Defisit APBN berisiko melebihi batas aman 3% jika harga minyak tetap tinggi, memerlukan langkah darurat pemerintah.
Deregulasi Ekonomi: Menyederhanakan aturan birokrasi guna memberikan stimulus bagi dunia usaha agar ekonomi tetap bergerak di tengah inflasi.
Tinjauan Perjanjian Dagang: Mempertimbangkan pembatalan kesepakatan dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) dengan Amerika Serikat guna melindungi kepentingan tarif nasional di bawah kebijakan proteksionisme Donald Trump.
Kewaspadaan tinggi menjadi keharusan, mengingat Selat Hormuz menampung sekitar 20% suplai minyak dunia. Gangguan di titik ini tidak hanya memukul rupiah, tetapi juga mengancam ketahanan energi nasional secara jangka panjang.