Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.745.000
Beli Rp2.600.000
IHSG 5.342,137
LQ45 527,078
Srikehati 259,301
JII 319,450
USD/IDR 18.166

Mengapa Konsumen Indonesia Tetap Optimistis saat Konflik Timur Tengah Bikin Dunia Gelisah?

Liberty Jemadu

Selasa, 10 Maret 2026 | 15:04 WIB
Mengapa Konsumen Indonesia Tetap Optimistis saat Konflik Timur Tengah Bikin Dunia Gelisah?
Survei konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2026 tercatat berada di level optimistis. Foto: Pedagang melayani pembeli kue kering yang dijual di Pasar Jatinegara, Jakarta, Senin (9/3/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]
  • IKK Februari 2026 sebesar 125,2 menunjukkan optimisme konsumen Indonesia tetap kuat berdasar situasi domestik.
  • Keyakinan konsumen ditopang IKE 115,9 dan ekspektasi lapangan kerja yang tetap tinggi di Februari 2026.
  • Struktur ekonomi domestik kuat karena konsumsi rumah tangga 53–55% PDB menahan perlambatan ekonomi global.

Suara.com - Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P. Sasmita, menilai optimisme konsumen Indonesia masih terjaga karena sebagian besar masyarakat melihat kondisi ekonomi dari situasi domestik sehari-hari, bukan dari dinamika geopolitik global seperti perang.

Sebelumnya survei konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Februari 2026 tercatat berada di level optimistis (indeks >100), yakni sebesar 125,2. Artinya, keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi tetap kuat.

Tetap kuatnya keyakinan konsumen pada Februari 2026 ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) yang tercatat sebesar 115,9, lebih tinggi dibandingkan indeks bulan sebelumnya yang sebesar 115,1.

Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tetap berada pada level optimistis, yakni sebesar 134,4, meski lebih rendah dibandingkan indeks bulan sebelumnya yang mencapai 138,8.

Indeks keyakinan konsumen yang tetap kuat juga tercermin pada seluruh kelompok pengeluaran. Misalnya, kelompok pengeluaran Rp4 juta–Rp5 juta per bulan naik ke level 125,5, yang menandakan masyarakat tetap melakukan belanja karena yakin perekonomian dalam kondisi baik.

Keyakinan konsumen terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan saat ini juga tetap tinggi, baik dilihat dari sisi tingkat pendidikan maupun kelompok usia. Keyakinan masyarakat dengan pendidikan terakhir SMA terhadap ketersediaan lapangan kerja naik menjadi 107,9 per akhir Februari 2026.

Hal serupa juga terlihat pada kelompok usia 20–30 tahun yang sangat yakin terhadap ketersediaan lapangan pekerjaan di dalam negeri, meski di tengah perang di Timur Tengah yang semakin memanas.

"Selama harga kebutuhan pokok relatif terkendali, aktivitas ekonomi berjalan, dan lapangan kerja masih tersedia, maka persepsi optimisme akan tetap terjaga," kata Ronny di Jakarta Selasa (10/3/2026).

Selain itu, struktur ekonomi Indonesia yang ditopang oleh konsumsi domestik juga dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas sentimen ekonomi.

Dengan kontribusi konsumsi rumah tangga sebesar 53–55 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), perekonomian nasional dinilai relatif lebih tahan terhadap perlambatan ekonomi global.

“Selama daya beli masyarakat belum terpukul terlalu dalam, sentimen konsumen biasanya tetap positif,” katanya.

Di sisi lain, Ronny menilai Indonesia memiliki beberapa keunggulan struktural dibandingkan banyak negara lain dalam menghadapi ketidakpastian global. Salah satunya adalah besarnya pasar domestik dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta orang.

"Banyak negara yang ekonominya sangat bergantung pada ekspor justru sangat terpukul ketika ekonomi global melambat, sedangkan Indonesia masih memiliki buffer konsumsi domestik yang relatif kuat," terang Ronny.

Selain itu, kondisi sektor keuangan Indonesia juga dinilai cukup stabil dalam menghadapi guncangan global. Ronny menyebut sistem perbankan nasional memiliki rasio permodalan yang relatif kuat sehingga tidak terlalu rentan terhadap gejolak eksternal.

Di samping itu, Indonesia juga masih memiliki basis komoditas strategis yang menjadi penopang neraca perdagangan. Komoditas seperti nikel, batu bara, dan minyak kelapa sawit (CPO) dalam beberapa tahun terakhir berperan penting dalam menjaga surplus perdagangan Indonesia.

"Kondisi-kondisi ini memberi ruang bernapas bagi ekonomi nasional ketika terjadi tekanan global," tutup Ronny.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Apakah Uang Boleh Dicuci dan Disetrika? Begini Penjelasan Bank Indonesia

Apakah Uang Boleh Dicuci dan Disetrika? Begini Penjelasan Bank Indonesia

Lifestyle | Selasa, 10 Maret 2026 | 11:19 WIB

BI Catat Indeks Keyakinan Konsumen Turun pada Februari

BI Catat Indeks Keyakinan Konsumen Turun pada Februari

Bisnis | Senin, 09 Maret 2026 | 21:14 WIB

Keyakinan Konsumen Mulai Loyo, Dompet Kelas Menengah Mulai Teriak!

Keyakinan Konsumen Mulai Loyo, Dompet Kelas Menengah Mulai Teriak!

Bisnis | Senin, 09 Maret 2026 | 17:08 WIB

Likuiditas Meningkat, Uang Primer RI Tembus Rp2.228 Triliun pada Februari 2026

Likuiditas Meningkat, Uang Primer RI Tembus Rp2.228 Triliun pada Februari 2026

Bisnis | Senin, 09 Maret 2026 | 08:50 WIB

Purbaya Pastikan BI Independen, Tak Lagi Pakai Skema Burden Sharing

Purbaya Pastikan BI Independen, Tak Lagi Pakai Skema Burden Sharing

Bisnis | Senin, 09 Maret 2026 | 08:00 WIB

Terkini

BRI Hadirkan QRIS Cross Border BRImo di China, Permudah Transaksi Nasabah di Luar Negeri

BRI Hadirkan QRIS Cross Border BRImo di China, Permudah Transaksi Nasabah di Luar Negeri

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 16:39 WIB

Luhut Bawa Chatib Basri ke Istana, Ini Tujuannya

Luhut Bawa Chatib Basri ke Istana, Ini Tujuannya

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 16:38 WIB

Di Mana Menkeu Purbaya saat Chatib Basri Dipanggil Prabowo ke Istana

Di Mana Menkeu Purbaya saat Chatib Basri Dipanggil Prabowo ke Istana

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 16:26 WIB

Pemerintah Santai Tanggapi Penurunan Cadangan Devisa RI

Pemerintah Santai Tanggapi Penurunan Cadangan Devisa RI

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 16:16 WIB

Chatib Basri, Menkeu Spesialis Krisis Ekonomi, Temui Prabowo di Istana, Luhut Jadi Pendamping

Chatib Basri, Menkeu Spesialis Krisis Ekonomi, Temui Prabowo di Istana, Luhut Jadi Pendamping

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 16:15 WIB

Chatib Basri Ungkap Jalan Keluar Krisis Ekonomi saat Rumor Jadi Menkeu: Jangan Naikkan Pajak

Chatib Basri Ungkap Jalan Keluar Krisis Ekonomi saat Rumor Jadi Menkeu: Jangan Naikkan Pajak

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 16:14 WIB

Gegara BI-Rate Rupiah Bernasib Baik Hari Ini, Tapi Masih Rp 18.000

Gegara BI-Rate Rupiah Bernasib Baik Hari Ini, Tapi Masih Rp 18.000

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 15:53 WIB

Cadev Turun 1,3 Miliar Dolar AS, Gubernur BI Singgung IMF

Cadev Turun 1,3 Miliar Dolar AS, Gubernur BI Singgung IMF

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 15:49 WIB

Harga Kedelai Mahal Gegara Rupiah Melemah, Pemerintah Beri Subsidi Rp2.000

Harga Kedelai Mahal Gegara Rupiah Melemah, Pemerintah Beri Subsidi Rp2.000

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 15:41 WIB

Masih Menarikkah Investasi Saham BBCA? Tengok Strateginya

Masih Menarikkah Investasi Saham BBCA? Tengok Strateginya

Bisnis | Selasa, 09 Juni 2026 | 15:34 WIB