- Kerja sama Indonesia-Jepang ditandatangani Menteri ESDM Bahlil di Tokyo terkait mineral kritis dan energi nuklir.
- Ekonom UNESA menekankan penting alih teknologi agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar dalam kolaborasi ini.
- Kerja sama ini menguntungkan karena mempercepat penguasaan teknologi, memanfaatkan cadangan mineral, dan membuka lapangan kerja.
Suara.com - Ekonom Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Hendry Cahyono, memberikan catatannya terkait kerjasama antara Indonesia dan Jepang.
Kerja sama antara kedua negara terjalin dalam penandatanganan Memorandum of Cooperation (MoC) oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dengan pemerintah Jepang, terkait pengembangan dua bidang strategis, mineral kritis dan energi nuklir.
Kerja sama di dua bidang strategis tersebut juga mencakup ekspor LNG, hingga Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Hendry menekankan, perlunya optimalisasi kerja sama, khususnya pada aspek alih teknologi, agar Indonesia tidak sekadar menjadi pasar.
Ia menilai keterlambatan Indonesia dalam pengembangan energi nuklir dibanding negara maju justru memberikan keuntungan strategis tertentu.
"Indonesia bisa belajar dari pengalaman negara lain, termasuk dari kasus Fukushima, sehingga bisa langsung mengadopsi teknologi yang lebih aman tanpa mengulang kesalahan masa lalu,” kata Hendry lewat keterangannya pada Rabu (18/3/2026).

Menurutnya, kerja sama dengan Jepang mempercepat penguasaan teknologi energi baru dan nuklir yang sebelumnya terkendala biaya serta transfer teknologi.
Hendry menambahkan bahwa kolaborasi tersebut jugstru menguntungkan karena dapat mengoptimalkan sumber daya mineral Indonesia dalam mendukung ekosistem energi bersih.
"Indonesia memiliki sekitar 43 persen cadangan nikel dunia, serta cadangan bauksit, timah, tembaga, dan logam tanah jarang. Ini menjadi modal kuat untuk hilirisasi dan pengembangan industri energi hijau,” ujarnya.
Di samping itu, kata Hendry, kerja sama ini antar kedua negara tidak hanya menjamin pasokan energi, tetapi juga berpotensi memberikan dampak ekonomi bagi Indonesia melalui peningkatan efisiensi produksi dan penciptaan lapangan kerja.
"Diharapkan ada multiplier effect bagi efisiensi produksi nasional, peningkatan pendapatan, dan penyerapan tenaga kerja,” kata Hendry.
Hendry juga menilai, penguatan kerja sama energi merupakan langkah tepat dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik global saat ini.
“Langkah ini merupakan respons rasional terhadap disrupsi geopolitik. Posisi Indonesia saat ini justru berada pada window of opportunity yang sangat baik,” ujarnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, kerangka kerja sama tersebut ditandatangani Bahlil di sela agenda Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3/2026). Adapun pemerintah Jepang diwakili Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri (METI), Ryosei Akazawa.