- Konflik Iran-AS-Israel di Selat Hormuz menyebabkan hilangnya 10 juta ton kapasitas pasokan urea tahunan global.
- Gangguan distribusi di Selat Hormuz berdampak besar pada sektor pertanian dunia karena jalur tersebut vital.
- Indonesia berposisi strategis sebagai eksportir urea, berpotensi memasok 1,5 hingga 2 juta ton ke pasar dunia.
Suara.com - Konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang berujung pada terganggunya jalur Selat Hormuz mulai memicu krisis pasokan pupuk global. Di tengah kondisi tersebut, Indonesia justru dinilai berada pada posisi strategis sebagai salah satu penopang kebutuhan urea dunia.
Direktur Utama PT Pupuk Indonesia (Persero) Rahmad Pribadi mengatakan gangguan distribusi di kawasan tersebut telah menghilangkan pasokan besar urea dari pasar global.
"Yang macet dari Selat Hormuz itu adalah pupuk urea. Berhenti dari kapasitas yang ada di Selat Hormuz di 10 juta ton kapasitas per tahun itu hilang dari pasar," ujarnya di Kantor Kementan, Jakarta, Senin (30/3/2026).
Penutupan jalur vital tersebut terjadi akibat eskalasi perang Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang memicu gangguan besar pada lalu lintas kapal dan distribusi energi serta komoditas dunia.

Dampaknya tidak hanya pada energi, tetapi juga sektor pertanian global. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama distribusi pupuk, dengan hampir separuh perdagangan urea dunia bergantung pada kawasan Teluk.
Di tengah krisis tersebut, Rahmad menyebut Indonesia justru memiliki peluang untuk berperan lebih besar dalam menjaga stabilitas pasokan global. Hal ini karena Indonesia merupakan salah satu negara eksportir urea.
"Indonesia malah bisa menjadi salah satu penyelamat ekosistem pangan dunia. Kenapa? Karena dunia sedang kehilangan suplai urea dan Indonesia adalah negara eksportir urea," katanya.
Ia menjelaskan, produksi urea nasional mencapai sekitar 9,4 juta ton per tahun. Dari jumlah tersebut, Indonesia secara rutin mengekspor sekitar 1,5 hingga 2 juta ton, tergantung kebutuhan dalam negeri.
"Kita produksi 9,4 juta ton. Dari situ kita bisa ekspor antara 1,5 sampai 2 juta ton," ungkapnya.
Kondisi ini membuat sejumlah negara mulai melirik Indonesia sebagai alternatif pemasok. Negara-negara seperti India dan Australia disebut telah menjalin komunikasi untuk mengamankan pasokan pupuk di tengah krisis global.
"Semua datang ke sini karena tahu posisi strategis Indonesia hari ini. Di tengah gejolak, itu justru Indonesia bisa jadi penyelamat," pungkasnya.