- IHSG terkoreksi 0,61 persen menjadi 7.048 pada Selasa, 31 Maret 2026, didorong aksi ambil untung investor jangka pendek.
- Sektor transportasi melemah terdalam 4,6 persen, sementara sektor non-siklikal menguat signifikan sebesar 1,48 persen sebagai penopang.
- Keputusan pemerintah menahan harga BBM berpotensi menahan inflasi, namun berisiko melebarkan defisit APBN.
Suara.com - Perdagangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berujung terkoreksi pada, Selasa, 31 Maret 2026, setelah maraknya investor melakukan aksi ambil untung.
Mengutip riset Phintraco Sekuritas, IHSG terkoreksi 0,61 persen ke level 7.048, Sepanjang sesi perdagangan, indeks sempat menguat di awal, namun berbalik turun akibat tekanan jual jangka pendek.
"IHSG sempat menguat di awal sesi, namun kembali mengalami koreksi yang diduga karena investor cenderung merealisasikan keuntungan dalam jangka pendek di tengah kondisi ketidakpastian yang masih tinggi," tulis riset tersebut.
Dari sisi sektoral, sektor transportasi mencatatkan pelemahan terdalam hingga 4,6 persen. Sebaliknya, sektor non-siklikal menjadi penopang dengan penguatan sebesar 1,48 persen.
![Karyawan mengamati layar pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/9/2020). [ANTARA FOTO/Reno Esnir]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2020/09/10/67560-ihsg.jpg)
Sejalan dengan IHSG, nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,23 persen ke level Rp 17.041 per dolar AS di pasar spot.
Secara teknikal, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak sideways dalam kisaran 6.900 hingga 7.150, dengan level resistance di 7.200 dan support di 6.900.
Dari sisi kebijakan, pasar merespons pernyataan pemerintah yang memastikan tidak akan ada kenaikan harga BBM, baik subsidi maupun nonsubsidi. Kebijakan ini dinilai mampu menahan tekanan inflasi, khususnya dari sektor transportasi dan distribusi.
Namun di sisi lain, keputusan tersebut berpotensi menambah beban subsidi energi di tengah kenaikan harga minyak dunia, sehingga membuka risiko pelebaran defisit APBN.
"Jika harga BBM tidak naik, maka tekanan inflasi dari sektor transportasi dan distribusi logistik dapat diredam sehingga menjaga daya beli masyarakat tetap stabil. Di lain pihak, dengan tidak dinaikkannya harga BBM di saat harga minyak mentah global mengalami kenaikan, berpotensi membuat anggaran subsidi bertambah dan risiko defisit APBN melebar," tulis Phintraco.
Pelaku pasar kini menantikan pengumuman resmi pemerintah terkait langkah kebijakan untuk meredam dampak kenaikan harga minyak global.
Selain itu, investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis pada Rabu (1/4), seperti indeks manufaktur PMI Maret yang diperkirakan melambat ke level 51,2 dari sebelumnya 53,8.
Neraca perdagangan Februari diproyeksikan mencatat surplus sebesar 1,2 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan Januari yang sebesar 0,9 miliar dolar AS. Sementara itu, inflasi Maret diperkirakan berada di level 0,3 persen secara bulanan dan 4,9 persen secara tahunan.
Trafik Perdagangan
Pada perdagangan hari ini, sebanyak 25,73 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi sebesar Rp 14,94 triliun, serta frekuensi sebanyak 1,72 juta kali.
Dalam perdagangan hari ini, sebanyak 270 saham bergerak naik, sedangkan 435 saham mengalami penurunan, dan 253 saham tidak mengalami pergerakan.