- Cadangan BBM nasional stabil di atas 20 hari meski ada krisis global.
- Harga BBM RI diklaim jauh lebih kompetitif dibanding Vietnam dan Thailand.
- Tiap naik USD1 harga minyak, beban subsidi APBN melonjak Rp10,3 triliun.
Suara.com - Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), M. Kholid Syeirazi, meminta masyarakat Indonesia tidak terjebak dalam pusaran kepanikan terkait isu ketersediaan energi nasional.
Di tengah memanasnya tensi geopolitik global akibat konflik Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, Kholid memastikan Pemerintah dan Pertamina tengah berjibaku mengamankan pasokan.
"Masyarakat harus tenang. Buat apa panik? Karena situasi sekarang juga dialami di seluruh dunia. Bahkan, kondisi kita jauh lebih baik dibandingkan negara-negara lain," ujar Kholid dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (2/4/2026).
Kholid memaparkan data perbandingan yang mencolok. Di saat Indonesia masih berupaya menahan laju harga, negara tetangga di Asia Tenggara sudah "terbakar" kenaikan harga BBM yang drastis. Di Vietnam, harga meroket dari Rp12.700 menjadi Rp19.100 per liter. Thailand bahkan sudah menyentuh Rp24.000 per liter, sementara Laos harus menebus Rp30.200 per liter.
Ketahanan Stok di Atas 20 Hari Dari sisi hulu, Kholid menegaskan bahwa ketahanan stok BBM domestik saat ini berada di level yang sangat aman, yakni di atas 20 hari. Angka ini diklaim melampaui cadangan operasional minimal yang ditetapkan oleh BPH Migas.
Meski demikian, ia mengakui bahwa mendapatkan suplai di tengah kondisi "kahar" seperti sekarang bukanlah perkara mudah. Maka dari itu, ia berharap masyarakat memiliki sense of crisis dengan cara bijak mengonsumsi energi.
"Kalau dalam kondisi kahar seperti sekarang dan kemudian kita bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, justru berbahaya. Tidak punya sense of crisis," tegasnya.
Beban Fiskal yang Menghantui Kholid membedah kaitan antara harga minyak dunia dengan kesehatan dompet negara. Setiap kenaikan harga minyak sebesar USD1 per barel, APBN harus menanggung tambahan beban subsidi dan kompensasi hingga Rp10,3 triliun. Dengan harga minyak dunia yang kini bertengger di atas USD100 per barel, beban fiskal berada di titik nadir.
"Solusinya bagaimana? Sebagian harus dialihkan kepada masyarakat dalam bentuk penyesuaian harga BBM," imbuh Kholid memberikan sinyal realistis.
DPR: Jangan Mudah Terprovokasi Senada dengan DEN, Anggota Komisi XII DPR RI, Sartono Hutomo, mengapresiasi langkah cepat Pertamina dalam menjaga ketersediaan stok. Namun, ia mengingatkan pentingnya komunikasi publik yang transparan agar masyarakat tidak mudah termakan hoaks.
“Masyarakat harus tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Tidak perlu melakukan penimbunan BBM karena justru akan memperburuk kondisi distribusi,” tegas Sartono.
Sartono juga mengimbau publik untuk selalu merujuk pada informasi resmi dari Pemerintah atau Pertamina guna menghindari provokasi di tengah situasi darurat energi global ini.