- Konflik Timur Tengah ancam 75% impor sulfur RI, bahan baku vital pupuk & nikel.
- Gangguan Selat Hormuz picu lonjakan biaya logistik dan harga sulfur hingga 200%.
- Industri baterai EV (HPAL) berisiko terhenti akibat putusnya pasokan sulfur.
Suara.com - Eskalasi konflik yang terus meningkat di kawasan Timur Tengah mulai memberikan dampak serius terhadap rantai pasok industri di Indonesia.
Salah satu komoditas yang paling terdampak adalah sulfur (belerang), bahan baku vital yang 75% kebutuhan nasionalnya masih bergantung pada impor dari wilayah Teluk Persia.
Gangguan pada jalur pelayaran di Laut Merah dan Selat Hormuz menyebabkan keterlambatan pengiriman dan lonjakan biaya logistik (freight), yang memicu kekhawatiran bagi sektor pupuk dan hilirisasi mineral di tanah air.
PT Petrokimia Gresik, salah satu konsumen sulfur terbesar di Indonesia untuk produksi pupuk fosfat dan ZA, menyatakan terus memantau situasi dengan ketat.
Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, menegaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap sulfur impor masih sangat tinggi, terutama dari negara-negara di kawasan Teluk Persia. Pasalnya, sekitar 33% perdagangan sulfur dunia atau 20 juta ton per tahun berasal dari kawasan Teluk Persia.
"Indonesia sendiri masih mengimpor lebih dari 75% kebutuhan sulfurnya dari sana. Konflik geopolitik tentu mengancam jalur logistik dan stabilitas harga," ujar Daconi dalam konferensi internasional Argus Fertilizer Asia Conference 2026 di Bali beberapa waktu lalu.
Menurut Daconi, kebutuhan asam sulfat nasional kini melonjak hingga 19 juta ton per tahun. Sektor pupuk dan hilirisasi mineral terutama nikel menjadi motor utama permintaan tersebut. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai pemain kunci dalam peta permintaan sulfur global.
Menghadapi tantangan global, dirinya mengaku telah mencari alternatif pemasok sulfur di luar kawasan yang berkonflik, demi menjamin stabilitas harga dan kepastian stok bahan baku dan memperkuat kapasitas penyimpanan dan distribusi domestik.
Daconi juga menyoroti tren baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV). Proses high-pressure acid leaching (HPAL) pada tambang nikel membutuhkan asam sulfat dalam jumlah jumbo. Pertumbuhan industri EV inilah yang membuat sulfur kian menjadi komoditas "seksi" dan strategis.
PT Vale Indonesia Tbk (INCO), sebagai salah satu pemain utama nikel, mengakui pentingnya stabilitas pasokan bahan penolong ini.
“Iya. Memang saat ini kita juga mengkonsumsi sulfur itu banyak dari Middle East ya. Tanpa adanya peristiwa yang saat saat ini terjadi di daerah teluk itu pun, harga sulfur itu sudah sangat luar biasa naiknya lebih dari 200%,” kata Budiawansyah kepada awak media.
Disisi lain Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Meidy Katrin Lengkey, dalam forum Argus Fertilizer Asia Conference 2026 mengatakan tingginya ketergantungan akan pasokan sulfur dari Timur Tengah kini menjadi faktor krusial yang mempengaruhi struktur biaya hingga arus perdagangan nikel global.
Kondisi tersebut, menurut Meidy, berdampak signifikan terhadap industri nikel, khususnya pada fasilitas pengolahan HPAL yang sangat bergantung pada sulfur sebagai bahan baku utama dalam proses produksi.
"Dengan 80% bergantung pada suplai Timur Tengah dan 45% perdagangan global melewati satu chokepoint, sulfur kini secara langsung membentuk struktur biaya, arus perdagangan, dan penetapan harga,” ujarnya.
Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian tengah mengkaji langkah-langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan pada satu wilayah sumber impor. Langkah yang disiapkan antara lain mendorong optimalisasi sulfur domestik dari hasil sampingan penyulingan minyak bumi (RU) milik Pertamina, meskipun secara volume saat ini belum mampu mencukupi seluruh kebutuhan industri nasional yang terus tumbuh.