- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan ketahanan BBM nasional bertambah tujuh hari berkat fasilitas penyimpanan di wilayah Karimun.
- Pemerintah Indonesia berencana memulai pembangunan fasilitas penyimpanan tambahan pada Mei 2026 demi mencapai ketahanan energi selama tiga bulan.
- Indonesia telah berhasil melewati masa kritis pasokan BBM akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang sempat mengganggu distribusi.
Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menyebut bahwa ketahanan BBM nasional bertambah selama 7 hari. Penambahan itu ditopang dari fasilitas penyimpanan atau storage di wilayah Karimun.
Bahlil menjelaskan, sebelumnya ketahanan energi nasional berada diatas batas minimum yakni 21-25 hari. Dengan tambahan dari storage di wilayah Karimun, ketahanannya mendekati angka 30 hari.
"Sekarang ada penambahan lagi 7 hari dari Karimun. Dan ini yang kita lagi komunikasikan sehingga bisa kita mencapai 1 bulan," kata Bahlil di Jakarta yang dikutip pada Sabtu (11/4/2026).
Terkait dengan rencana pembangunan storage BBM, guna meningkatkan ketahanan energi nasional menjadi tiga bulan akan dimulai pada Mei 2026.
"Yang lebih-lebihnya kita lagi melakukan pembangunan. Bulan Mei, Insya Allah, doakan, kita sudah mulai melakukan pembangunan," kata Bahlil.
Di samping itu, Bahlil menyebut bahwa masa krisis energi di Indonesia akibat situasi geopolitik di Timur Tengah sudah berhasil dilewati.

"Jadi sebenarnya saya ingin menyampaikan bahwa masa kritis kita terhadap dinamika global untuk BBM, Alhamdulillah kita sudah lewati," ujarnya.
Namun demikian, Bahlil tetap mengimbau agar masyarakat bijak dalam menggunakan BBM dan LPG.
"Saya meminta kepada seluruh masyarakat, kita harus bijak, arif dalam memakai BBM, termasuk LPG," ujarnya.
Ketegangan antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran telah mengganggu pasokan minyak global dan memicu lonjakan harga bahkan sempat melampaui 100 dolar AS per barel.
Bahlil sebelumnya pernah menyebutkan bahwa situasi geopolitik di Timur Tengah memaksa banyak negara untuk saling berebut mendapatkan pasokan minyak.
"Kita dari negara mana saja yang penting ada. Itu pun kita masih harus berebut dengan negara lain," kata Bahlil pada Senin (6/4/2026) lalu.