- Harga emas Antam pada 14 April 2026 melonjak menjadi Rp2.863.000 per gram, dengan harga buyback mencapai Rp2.639.000 per gram.
- Kenaikan harga emas global mencapai 4.777 dolar AS dipicu oleh melemahnya Dolar AS serta harapan diplomasi di Timur Tengah.
- Ketidakpastian kebijakan suku bunga Federal Reserve dan ketegangan geopolitik di Selat Hormuz turut mempengaruhi pergerakan harga emas tersebut.
Suara.com - Harga emas PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada hari Selasa, 14 April 2026 untuk ukuran satu dibanderol di harga Rp 2.863.000 per gram.
Dikutip dari situs Logam Mulia, harga emas Antam itu langsung melonjak Rp 45.000 dibandingkan Senin, 13 April 2026.
Sementara itu, harga Buyback (beli kembali) emas Antam dibanderol di harga Rp 2.639.000 per gram.
Harga buyback itu ikut meroket Rp 54.000 dibandingkan dengan harga buyback hari Senin kemarin.
Perlu diingat, harga tersebut belum termasuk pajak penghasilan (PPh) sebesar 0,45 persen bagi pemegang NPWP dan 0,9 persen yang tidak memiliki NPWP. Pengenaan PPh ini sesuai dengan PMK Nomor 34/OMK.19/2017.3.
![Pramuniaga menunjukkan emas di Galeri 24 Pegadaian Area Aceh, Banda Aceh, Aceh, Kamis (17/4/2025). [ANTARA FOTO/Khalis Surry/nym]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/04/19/12827-emas-antam.jpg)
Seperti dilansir dari laman resmi Logam Mulia Antam, berikut adalah harga emas antam setelah pajak pada hari ini:
- 0,5 Gram: Rp1.485.204
- 1 Gram: Rp2.870.158
- 2 Gram: Rp5.680.165
- 3 Gram: Rp8.495.185
- 5 Gram: Rp14.125.225
- 10 Gram: Rp28.195.313
- 25 Gram: Rp70.362.468
- 50 Gram: Rp140.645.738
- 100 Gram: Rp281.213.280
- 250 Gram: Rp702.767.538
- 500 Gram: Rp1.405.324.550
- 1000 Gram: Rp2.810.609.000
Harga Emas Dunia Melesat
Harga emas dunia (XAU/USD) terpantau melanjutkan tren penguatan atau rebound pada sesi perdagangan Selasa. Logam mulia ini mendapatkan momentum positif setelah sempat tertekan di bawah level $4.650 pada hari sebelumnya.
Dikutip dari FXStreet, harga emas meroket hingga menyentuh area 4.777 dolar AS dalam satu jam terakhir. Kenaikan ini dipicu oleh campuran antara harapan diplomasi di Timur Tengah dan melemahnya keperkasaan Dolar AS.
Harapan Diplomasi di Balik Kebuntuan Meski perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad sempat gagal akhir pekan lalu, para investor masih menaruh harapan bahwa pintu negosiasi tetap terbuka.
Wakil Presiden AS, JD Vance, memberikan angin segar dengan menyatakan adanya kemajuan berarti dalam pembicaraan tersebut, meski belum ada terobosan final.
"Optimisme ini mendukung sentimen risiko yang positif dan melemahkan status Dolar AS sebagai mata uang cadangan global, yang secara otomatis menguntungkan komoditas seperti emas," tulis laporan FXStreet.
Suku Bunga Fed dan Inflasi Jadi Pemicu Selain faktor geopolitik, ketidakpastian mengenai kebijakan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (Fed), turut menekan Dolar AS. Data terbaru menunjukkan inflasi konsumen AS pada Maret melonjak tajam akibat kenaikan harga energi yang dipicu perang.
Menariknya, berdasarkan FedWatch Tool dari CME Group, pasar kini melihat adanya peluang 30 persen untuk penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) pada Desember mendatang. Kondisi Dolar yang lesu ini menjadi panggung bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil untuk terus melaju.
Waspada Blokade Selat Hormuz Namun, kenaikan harga emas kali ini dinilai masih kurang memiliki keyakinan bullish yang kuat. Hal ini disebabkan oleh situasi memanas di Selat Hormuz setelah Presiden Donald Trump resmi memulai blokade angkatan laut di jalur strategis tersebut.