- IMF dan investor global mengakui Indonesia sebagai titik terang ekonomi dalam pertemuan IMF Spring Meetings di Washington D.C.
- Gubernur Bank Indonesia menyatakan stabilitas ekonomi nasional tercapai melalui sinergi kebijakan moneter dan disiplin fiskal yang kredibel.
- Keberhasilan menjaga pertumbuhan dan defisit fiskal memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan investasi utama yang stabil bagi dunia.
Suara.com - Indonesia kembali ditegaskan sebagai salah satu "bright spot" atau titik terang. Pengakuan ini datang langsung dari International Monetary Fund (IMF) dan para investor global dalam rangkaian IMF Spring Meetings di Washington D.C.
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, menyatakan bahwa ketahanan ekonomi nasional yang kuat merupakan buah dari sinergi kebijakan yang kredibel dan responsif terhadap dinamika eksternal.
Menurutnya, Indonesia berhasil menjaga keseimbangan antara stabilitas makroekonomi dan momentum pertumbuhan.
"Perekonomian Indonesia tetap berada pada jalur yang tepat (on the right track) dan terkelola dengan baik. Pertumbuhan ekonomi kita tetap solid didukung permintaan domestik yang kuat serta inflasi yang terjaga dalam sasaran," ujar Perry Warjiyo di sela pertemuan dengan investor global dan pimpinan IMF dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (16/4/2026).
Managing Director IMF, Kristalina Georgieva, memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi Indonesia dalam menjaga disiplin fiskal, terutama komitmen mempertahankan defisit di bawah 3 persen dari PDB.
Perry Warjiyo menekankan bahwa kunci keberhasilan Indonesia terletak pada sinergi erat antara Bank Indonesia dan Pemerintah. Kebijakan moneter dan fiskal berjalan beriringan untuk menghadapi tekanan tekanan pasar keuangan global.
![Suasana gedung bertingkat perkantoran di Jakarta, Kamis (7-3-2024). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/03/07/10043-pertumbuhan-ekonomi-indonesia.jpg)
"Kami terus memperkuat kredibilitas kebijakan nasional melalui disiplin fiskal dan realokasi belanja ke sektor produktif. Hal inilah yang memperkuat keyakinan investor bahwa Indonesia tidak hanya berdaya tahan, tetapi juga sangat adaptif," tambah Perry.
Lebih lanjut, Perry menjelaskan bahwa Bank Indonesia tidak lagi hanya mengandalkan instrumen moneter konvensional. BI menerapkan bauran kebijakan (policy mix) yang terintegrasi untuk mendukung stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan.
Strategi tersebut mencakup:
• Kebijakan Moneter: Fokus pada stabilitas nilai tukar Rupiah dan daya tarik aset domestik.
• Kebijakan Makroprudensial: Bersifat pro-pertumbuhan untuk mendorong penyaluran kredit perbankan.
• Digitalisasi Sistem Pembayaran: Mempercepat aktivitas ekonomi melalui transformasi digital yang inklusif.
"Respons kebijakan yang kami tempuh bersifat forward-looking. Kami mengelola nilai tukar secara fleksibel namun tetap terukur, serta memastikan likuiditas perbankan tetap memadai untuk mendukung pertumbuhan ekonomi," jelas Gubernur BI tersebut.
Selain stabilitas jangka pendek, Perry Warjiyo juga memaparkan arah transformasi ekonomi Indonesia menuju sektor bernilai tambah tinggi.
Program hilirisasi dan pengembangan sektor berbasis teknologi menjadi daya tarik utama bagi investor jangka panjang. Dengan fundamental yang kokoh dan kebijakan yang transparan, Indonesia optimis dapat terus melaju di tengah gejolak global.
Pertemuan dengan IMF ini pun semakin memperkuat posisi tawar Indonesia sebagai tujuan investasi utama yang stabil dan kredibel di mata dunia.