- IHSG melemah tipis 0,46% kemarin, namun investor asing mencatatkan aksi beli bersih senilai Rp243 miliar pada sektor energi.
- Bursa Wall Street melemah akibat kekhawatiran geopolitik AS-Iran, sementara mayoritas bursa Asia justru menguat karena optimisme teknologi.
- Investor disarankan melakukan strategi trading cepat pada saham pilihan dengan memperhatikan level teknikal untuk menghadapi pasar sideways.
Indeks Kospi di Korea Selatan memimpin penguatan dengan lonjakan signifikan sebesar 2,7%, diikuti oleh Taiex Taiwan yang melesat 1,75%, dan Nikkei 225 Jepang yang menguat 0,9%.
Selain faktor teknologi, fokus pasar Asia juga tertuju pada sidang konfirmasi Kevin Warsh sebagai calon pimpinan The Fed yang baru.
Pernyataan Warsh yang berkomitmen menjaga independensi kebijakan moneter bank sentral AS di tengah kritik keras Presiden Trump memberikan angin segar bagi stabilitas pasar finansial global.
Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada tekanan politik, harapan akan kebijakan moneter yang terukur tetap menjadi jangkar bagi investor di kawasan Asia-Pasifik.
Strategi Investasi dan Ide Trading Hari Ini
Mencermati kondisi IHSG yang berpotensi bergerak sideways, para investor disarankan untuk lebih selektif dan cenderung melakukan strategi "trading cepat" pada saham-saham dengan momentum teknikal yang kuat.
Berdasarkan analisis dari tim riset BNI Sekuritas, terdapat beberapa emiten yang menarik untuk dipantau sebagai ide perdagangan hari ini:
Bagi Anda yang melirik sektor pertambangan, saham BUMI menjadi salah satu pilihan dengan area beli di kisaran 238-240. Target harga terdekat berada di 246-250, dengan batas cut loss ketat di bawah 236.
Selain itu, saham CUAN juga menarik untuk strategi speculative buy di area 1500-1530 dengan target keuntungan di 1560-1600. Emiten lain yang patut diperhatikan adalah BUVA di area beli 1285-1300 dan MBMA di rentang 715-730.
Untuk investor yang lebih agresif, saham VKTR bisa menjadi pilihan menarik jika mampu menembus (break) level 990, dengan potensi target ke area 1005-1030. Sementara itu, bagi penyuka saham berkapitalisasi kecil dengan volatilitas tinggi, RLCO dan BDMN bisa menjadi pantauan, namun perlu diingat bahwa risiko likuiditas pada saham jenis ini jauh lebih besar.