- Menteri Keuangan menyatakan stok pupuk Indonesia aman untuk memenuhi kebutuhan domestik dan siap diekspor saat terjadi krisis global.
- Pemerintah memberikan subsidi sebesar Rp20 triliun untuk meningkatkan efisiensi produksi pupuk nasional agar operasional perusahaan berjalan optimal.
- India, Australia, Filipina, dan Brazil mengajukan permintaan impor pupuk urea karena produksi nasional melampaui kebutuhan domestik sebesar 1,8 juta ton.
Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan kalau dunia saat ini sedang mengalami krisis pupuk. Namun berbeda dengan Indonesia yang stoknya masih aman, bahkan siap ekspor.
Hal ini diceritakan Menkeu Purbaya usai menemui International Monetary Fund (IMF) dan World Bank alias Bank Dunia saat melakukan kunjungan kerja ke Amerika Serikat beberapa waktu lalu.
"Mereka tanya, dunia sekarang kekurangan pupuk. Saya bilang, Indonesia enggak kekurangan, malah siap ekspor kata Menteri Pertanian," katanya dalam media briefing, dikutip Senin (27/4/2026).
Bendahara Negara menerangkan kalau stok pupuk terkendali lantaran Pemerintah sudah lebih dulu memberikan subsidi Rp 20 triliun sejak awal tahun. Walhasil para produsen tak perlu meminjam ke bank untuk menambah biaya modal (cost of capital).
Dengan skema itu, produsen pupuk juga bisa beroperasi dengan cepat dan lebih efisien. Ini turut mendorong peningkatan produksi pupuk nasional dan membuka peluang ekspor di tengah krisis.
"Sehingga kita sekarang produksinya kata Menteri Pertanian, sudah tinggi dan bahkan siap ekspor ketika dunia lagi pusing pupuk," imbuhnya.

"Saya bilang kita sudah bayar subsidi di depan sehingga perusahaannya lebih efisien dan mereka siap berproduksi dan sekarang kita siap ekspor. Itu kejutan yang mungkin sebagian orang di luar Pemerintah enggak tahu. Dan mungkin nampaknya, ah gitu-gitu saja. Tapi nampaknya clear, kita pertanian jadi kuat kan," tegasnya.
Sebelumnya Mentan Andi Amran Sulaiman mengatakan empat negara mengajukan permintaan impor pupuk urea dari Indonesia di tengah dinamika pasokan global. Mereka adalah India, Australia, dan Filipina.
“Pupuk ini yang meminta langsung Dubes India menelepon, kemudian juga Australia, Filipina, dan Brazil. Empat negara ini memohon agar mendapatkan urea,” kata Amran usai rapat koordinasi terbatas di Kementerian Koordinator Bidang Pangan, dikutip dari Antara, Senin (27/4/2026).
Ia mengungkapkan India telah mengajukan permintaan sekitar 500 ribu ton pupuk urea dari Indonesia. Sedangkan Australia telah menyepakati pengiriman tahap awal sebesar 250 ribu ton pupuk urea.
Sementara itu, Amran mengatakan rincian volume permintaan dari Filipina dan Brazil masih dalam pembahasan lebih lanjut. Menurut dia, Indonesia memiliki ruang untuk mengekspor pupuk karena produksi nasional masih melampaui kebutuhan dalam negeri.
Produksi pupuk nasional saat ini mencapai 7,8 juta ton, sedangkan kebutuhan dalam negeri sekitar 6 juta ton sehingga terdapat potensi kelebihan pasokan yang dapat diekspor.