- Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menyebabkan gangguan pengiriman energi di Selat Hormuz sejak awal tahun 2026.
- Goldman Sachs memprediksi harga minyak mentah dunia berpotensi menembus US$120 per barel jika ekspor tidak segera pulih.
- Pembatalan dialog damai oleh Presiden Donald Trump memicu lonjakan harga komoditas serta risiko guncangan ekonomi global yang signifikan.
Para analis memperingatkan bahwa kenaikan harga energi ini akan memberikan dampak ekonomi yang jauh lebih destruktif daripada sekadar angka di atas kertas.
Terdapat risiko kelangkaan produk secara global dan skala guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Goldman mencatat akan ada "bekas luka" jangka panjang pada kapasitas produksi di kawasan Teluk sekitar 500.000 barel per hari, terutama akibat kerusakan infrastruktur dan kerugian operasional di Irak.
"Harga tetap di bawah puncak akhir Maret, kemungkinan karena ekspektasi pasar akan pembukaan kembali Selat Hormuz telah mengurangi premi risiko dan menyebabkan pengurangan stok," tulis analis Goldman dalam risetnya yang mengutip Financial Times.
Meskipun pasar komoditas sedang membara, pasar saham global seperti S&P 500 dan Nasdaq Composite justru sempat mencatatkan rekor tertinggi pada akhir pekan lalu.
Fenomena ini didorong oleh laporan laba perusahaan yang kuat, namun analis memperingatkan bahwa reli pasar saham tersebut bisa saja goyah jika inflasi energi mulai menekan daya beli masyarakat dan margin keuntungan korporasi secara luas.
Sebagai perbandingan, Morgan Stanley memiliki pandangan yang sedikit lebih konservatif. Mereka memproyeksikan arus minyak di Selat Hormuz akan kembali normal pada akhir Mei 2026, dengan harga Brent yang diprediksi akan melandai perlahan dari US$110 menuju US$80 per barel pada tahun 2027 mendatang.