Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.130,588
LQ45 608,029
Srikehati 297,628
JII 364,421
USD/IDR 18.083

UEA Keluar OPEC: Sinyal Kiamat 'Energi' atau Harga Minyak Dunia Turun?

M Nurhadi

Kamis, 30 April 2026 | 10:10 WIB
UEA Keluar OPEC: Sinyal Kiamat 'Energi' atau Harga Minyak Dunia Turun?
Ilustrasi Uni Emirat Arab putuskan keluar dari OPEC di tengah ketegangan Perang Iran dan kenaikan harga minyak dunia [SUARA.COM/Hdi-dibuat dengan bantuan AI]
baca 10 detik
  • Uni Emirat Arab resmi memutuskan keluar dari OPEC per 1 Mei 2026 demi kebebasan meningkatkan kapasitas produksi minyak nasional.
  • Keputusan tersebut dipicu oleh rasa frustrasi terhadap sistem kuota OPEC yang membatasi ambisi pertumbuhan ekonomi negara UEA secara signifikan.
  • Keluarnya UEA melemahkan pengaruh OPEC dalam mengendalikan pasar energi global di tengah volatilitas harga dan ketegangan geopolitik internasional.

Suara.com - Rencana Uni Emirat Arab (UEA) untuk memisahkan diri dari kelompok produsen minyak raksasa OPEC dan melangkah secara mandiri dipandang sebagai pukulan telak bagi organisasi tersebut.

Di tengah lanskap geopolitik yang kian tak menentu, seorang analis bahkan mendeskripsikan momen ini sebagai "the beginning of the end of Opec".

Langkah monumental ini diambil pada saat pasar minyak mengalami volatilitas ekstrem. Perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memicu hilangnya pasokan minyak terbesar dalam sejarah pencatatan, sebagaimana dikonfirmasi oleh Bank Dunia.

Senjakala 'Pengendali' Minyak Global

OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) didirikan pada tahun 1960 oleh lima negara, yakni Arab Saudi, Iran, Irak, Kuwait, dan Venezuela, dengan tujuan utama mengendalikan pasokan untuk memastikan stabilitas pendapatan.

Sejarah mencatat taring organisasi ini sangat tajam, terutama pada krisis 1973 ketika embargo minyak Arab memicu lonjakan harga hingga 300% dan menyeret ekonomi Barat ke jurang resesi.

Namun, pengaruh itu terus memudar. Charles-Henry Monchau, CIO di Syz Group, secara gamblang menyebut kepergian UEA ini sebagai "akhir dari OPEC seperti yang kita tahu".

Berdasarkan data terkini, pangsa pasar OPEC terhadap produksi minyak mentah global menyusut drastis menjadi 36,7% pada tahun 2025, turun jauh dibandingkan puncaknya yang mencapai lebih dari 52% pada 1973.

Penurunan ini diperburuk oleh kebangkitan negara-negara non-OPEC. Amerika Serikat kini mendominasi sebagai produsen utama dunia dengan 13,6 juta barel per hari, disusul oleh sekutu OPEC+, yakni Rusia, yang memproduksi 9,1 juta barel per hari pada tahun lalu.

baca juga

Alasan UEA Keluar dari OPEC

Sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga di OPEC setelah Arab Saudi dan Irak, UEA merasa ruang geraknya sangat dibatasi.

Kuota OPEC terbaru memaksa UEA menahan produksi di angka 3,2 juta barel per hari, padahal mereka telah berinvestasi besar-besaran dan memiliki kapasitas hingga hampir 4,8 juta barel.

Kepala ekonom Capital Economics, David Oxley, menyebut UEA sejatinya sudah "gatal ingin memompa lebih banyak minyak," untuk memaksimalkan pembangunan di dalam negeri. Frustrasi atas negosiasi kuota yang birokratis ini akhirnya memuncak.

Dilansir dari Reuters, Menteri Energi UEA, Suhail Mohamed al-Mazrouei, menegaskan bahwa keluarnya negara tersebut pada 1 Mei 2026 murni taktik berdaulat.

Ia menyatakan: "Ini adalah keputusan kebijakan, yang telah dilakukan setelah mempertimbangkan dengan cermat kebijakan saat ini dan masa depan yang terkait dengan tingkat produksi.," serta menambahkan alasan fundamental di baliknya: "Dunia membutuhkan lebih banyak energi. Dunia membutuhkan lebih banyak sumber daya, dan UEA ingin tidak dibatasi oleh kelompok mana pun."

Jorge Leon, analis geopolitik di Rystad Energy dalam kajiannya melalui DW, menyoroti bahwa kepergian UEA melucuti senjata penting dari tangan kartel tersebut.

Ia menekankan: "Kehilangan anggota dengan kapasitas produksi 4,8 juta barel per hari, dan ambisi untuk memproduksi lebih banyak, menghilangkan alat yang sangat berharga dari tangan kelompok [OPEC]," dan menjelaskan realitas pasar saat ini: "Dengan permintaan yang mendekati puncaknya, perhitungan bagi produsen dengan harga minyak rendah berubah dengan cepat, dan menunggu giliran dalam sistem kuota mulai terlihat seperti kehilangan peluang keuntungan."

Produksi minyak Uni Emirat Arab dibandingkan negara anggota OPEC lainnya [Suara.com/OASB diedit oleh Hadi menggunakan AI]
Produksi minyak Uni Emirat Arab dibandingkan negara anggota OPEC lainnya [Suara.com/OASB diedit oleh Hadi menggunakan AI]

Ilusi Penurunan Harga dan Tragedi Selat Hormuz

Bagi masyarakat yang mengharapkan harga BBM segera turun akibat peningkatan pasokan dari UEA, kenyataan di lapangan berkata lain.

Harga minyak mentah global (Brent) saat ini meroket di kisaran US$117 per barel, sementara patokan AS (WTI) berada di angka US$105 per barel. Sebagai perbandingan, sebelum perang pecah pada akhir Februari, harga bertengger di kisaran US$73 dan US$67.

Analis sepakat bahwa dampak jangka pendek dari hengkangnya UEA adalah "zero". Hal ini disebabkan oleh lumpuhnya Selat Hormuz—jalur nadi bagi 10 hingga 12 juta barel minyak mentah harian—yang telah ditutup efektif selama delapan pekan akibat ancaman militer Iran.

Meski demikian, dalam jangka panjang, pasokan ekstra dari UEA diproyeksikan mampu mendinginkan pasar.

Ekonom dari Capital Economics dalam catatan mereka memprediksi bahwa: "OPEC yang lebih terpecah belah dan lebih lemah dapat membatasi pengaruh kelompok tersebut terhadap harga minyak," dan menambahkan: "Hal itu bisa… menggeser keseimbangan risiko ke arah harga minyak yang lebih rendah dari waktu ke waktu.."

Monica Malik, kepala ekonom di ADCB, melihat manuver ini sebagai strategi yang diperhitungkan. Ia mengatakan: "THal ini membuka pintu bagi UEA untuk mendapatkan pangsa pasar global ketika situasi geopolitik kembali normal.,"

Retaknya Poros Teluk dan Kemenangan Politik

Hengkangnya UEA bukan sekadar urusan barel dan kuota, melainkan manifestasi dari retaknya hubungan antara Abu Dhabi dan Riyadh.

Kedua kekuatan Teluk ini kini terjebak dalam persaingan sengit, mulai dari kebijakan minyak hingga perebutan modal asing dan talenta global.

UEA kian asertif dengan kebijakan luar negerinya, terutama setelah menandatangani Abraham Accords 2020 dengan Israel, yang memberi mereka akses langsung ke koridor kekuasaan di Washington.

Keluarnya UEA dari OPEC ini juga menandai kemenangan politik tersendiri bagi Donald Trump. Bertahun-tahun yang lalu, Trump secara agresif menuduh OPEC "menipu seluruh dunia" dan menyebut bahwa mereka "manfaatkan ini dengan memberlakukan harga minyak yang tinggi".

Dengan UEA yang kini bebas dari belenggu aturan organisasi, lanskap tatanan energi Timur Tengah dipaksa untuk mengatur ulang keseimbangannya.

Seperti yang dicatat secara kritis oleh analis Jorge Leon: "Di luar kelompok tersebut, UEA akan memiliki insentif dan kemampuan untuk meningkatkan produksi, sehingga menimbulkan pertanyaan yang lebih luas tentang keberlanjutan peran Arab Saudi sebagai penstabil utama pasar."

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pete Hegseth Dihabisi Kongres AS, Biaya Perang Iran Tembus Rp400 Triliun

Pete Hegseth Dihabisi Kongres AS, Biaya Perang Iran Tembus Rp400 Triliun

News | Kamis, 30 April 2026 | 09:16 WIB

Donald Trump: Raja Charles Akan Bantu AS Lawan Iran

Donald Trump: Raja Charles Akan Bantu AS Lawan Iran

News | Kamis, 30 April 2026 | 08:51 WIB

Guru California Kirim Email Perpisahan ke Keluarga Sebelum Coba Bunuh Donald Trump

Guru California Kirim Email Perpisahan ke Keluarga Sebelum Coba Bunuh Donald Trump

News | Kamis, 30 April 2026 | 08:02 WIB

Iran Murka! AS Masih Tahan 22 Awak Kapal Touska, Teheran Siapkan Balas Dendam

Iran Murka! AS Masih Tahan 22 Awak Kapal Touska, Teheran Siapkan Balas Dendam

News | Kamis, 30 April 2026 | 07:17 WIB

Donald Trump Bersumpah Pertahankan Blokade, Iran Ancam Balasan Mengerikan

Donald Trump Bersumpah Pertahankan Blokade, Iran Ancam Balasan Mengerikan

News | Kamis, 30 April 2026 | 06:31 WIB

Pangkalan AS di Kuwait Dihantam Iran, Taktik dan Jet Tua Jadi Kunci

Pangkalan AS di Kuwait Dihantam Iran, Taktik dan Jet Tua Jadi Kunci

News | Rabu, 29 April 2026 | 20:00 WIB

Terkini

Review Serial The Hawk: Ketika Ambisi dan Ego Berbenturan di Lapangan Golf

Review Serial The Hawk: Ketika Ambisi dan Ego Berbenturan di Lapangan Golf

Your Say | Rabu, 29 Juli 2026 | 19:30 WIB

Perkuat Komunikasi Publik di Era AI, Pemprov Jatim Gelar Bimtek Pengelolaan Medsos dan Situs Pemda

Perkuat Komunikasi Publik di Era AI, Pemprov Jatim Gelar Bimtek Pengelolaan Medsos dan Situs Pemda

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 19:27 WIB

Pengambilan Ijazah SMA-SMK Dipersulit Sekolah? Lapor ke Ombudsman Riau

Pengambilan Ijazah SMA-SMK Dipersulit Sekolah? Lapor ke Ombudsman Riau

Riau | Rabu, 29 Juli 2026 | 19:25 WIB

Grup Bakrie Bakal Suplai Metanol Hasil Gasifikasi Batu Bara ke Program B50

Grup Bakrie Bakal Suplai Metanol Hasil Gasifikasi Batu Bara ke Program B50

Bisnis | Rabu, 29 Juli 2026 | 19:25 WIB

Proyek Rumah Sakit di Denpasar Terbakar, 2 Korban Dirawat Intensif

Proyek Rumah Sakit di Denpasar Terbakar, 2 Korban Dirawat Intensif

Bali | Rabu, 29 Juli 2026 | 19:23 WIB

Gandeng Ahli Gizi, Menu MBG Bakal Baru Mulai Agustus

Gandeng Ahli Gizi, Menu MBG Bakal Baru Mulai Agustus

Bisnis | Rabu, 29 Juli 2026 | 19:19 WIB

Pengamat: Masyarakat Main Hakim Sendiri karena Tak Lagi Percaya Hukum

Pengamat: Masyarakat Main Hakim Sendiri karena Tak Lagi Percaya Hukum

News | Rabu, 29 Juli 2026 | 19:18 WIB

Kisah Rosidah, Perajin Gula Merah Madura yang Kembangkan Usaha Berkat KUR BRI

Kisah Rosidah, Perajin Gula Merah Madura yang Kembangkan Usaha Berkat KUR BRI

Lampung | Rabu, 29 Juli 2026 | 19:17 WIB

Main di Film Bapakmu Kiper, Vidi Bule Ungkap Alasan Nyeleneh Suka Jadi Penjaga Gawang

Main di Film Bapakmu Kiper, Vidi Bule Ungkap Alasan Nyeleneh Suka Jadi Penjaga Gawang

Entertainment | Rabu, 29 Juli 2026 | 19:16 WIB

KUR BRI Antar Perajin Gula Merah Sumenep Tingkatkan Produksi hingga 2 Kali Lipat

KUR BRI Antar Perajin Gula Merah Sumenep Tingkatkan Produksi hingga 2 Kali Lipat

Kalbar | Rabu, 29 Juli 2026 | 19:13 WIB

×