Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.798.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 6.956,804
LQ45 669,344
Srikehati 325,787
JII 462,109
USD/IDR 17.345

Rupiah Anjlok ke Level Terburuk Sepanjang Masa, 'Kalah' dari Mata Uang Zimbabwe

M Nurhadi | Suara.com

Minggu, 03 Mei 2026 | 11:20 WIB
Rupiah Anjlok ke Level Terburuk Sepanjang Masa, 'Kalah' dari Mata Uang Zimbabwe
Ilustrasi kurs Rupiah terhadap Dolar AS [Suara.com/Antara/Diolah menggunakan AI]
  • Rupiah ditutup melemah di level Rp17.346 per dolar AS pada Kamis, 30 April 2026, mencatatkan rekor nilai terendah sejarah.
  • Pelemahan dipicu ketegangan geopolitik global, lonjakan harga minyak dunia, serta kebijakan moneter hawkish dari bank sentral Amerika Serikat.
  • Sentimen domestik negatif dan penurunan cadangan devisa menjadi faktor utama yang mendesak Bank Indonesia melakukan intervensi pasar secara terukur.

Suara.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menorehkan sejarah yang kurang menggembirakan bagi ketahanan perekonomian nasional.

Pada penutupan perdagangan hari Kamis (30/4/2026) pekan ini, IDR merosot tajam hingga menyentuh level psikologis baru, menjadikannya titik terlemah sepanjang sejarah pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang Negeri Paman Sam tersebut.

Berdasarkan data dari Bloomberg, kurs rupiah di pasar spot secara resmi ditutup melemah sebesar 0,12 persen, menetap pada posisi Rp17.346 per dolar AS.

Pelemahan ini secara sah melampaui rekor-rekor koreksi sebelumnya yang pernah terjadi di tengah tingginya ketidakpastian pasar finansial global.

Bahkan pada jam perdagangan reguler, pergerakan mata uang Indonesia ini sempat tertahan dan berfluktuasi tajam di angka Rp17.338 per dolar AS.

Depresiasi yang terus berlanjut tanpa henti ini membawa rupiah melompat jauh melewati ambang batas krusial Rp17.300 yang selama ini telah dipantau secara ketat oleh para pelaku pasar keuangan maupun investor ritel sejak awal pekan.

Para ekonom dan analis perbankan sepakat bahwa pelemahan tajam ini tidak terjadi secara tunggal, melainkan dipicu oleh perpaduan luar biasa kompleks antara masalah domestik dan dinamika global yang membentuk sebuah "badai sempurna" di ekosistem pasar keuangan saat ini.

Dari sisi eksternal, eskalasi geopolitik dan disrupsi komoditas energi menjadi kontributor utama yang merontokkan ketahanan mata uang.

Konflik yang terus memanas tanpa titik temu di kawasan Timur Tengah secara langsung memicu disrupsi pada rantai pasok energi global.

Dampak instannya sangat terasa pada papan perdagangan komoditas, di mana harga minyak mentah acuan dunia, Brent, melonjak liar hingga menembus level US$109 per barel (per Minggu 3 Mei)

Bagi negara pengimpor minyak murni seperti Indonesia, tingginya harga energi ini secara otomatis melipatgandakan beban impor nasional.

Tingginya kebutuhan korporasi domestik, terutama di sektor energi, terhadap dolar AS untuk membiayai impor minyak mentah telah menyedot ketersediaan likuiditas valuta asing di dalam negeri.

Tekanan fundamental dari luar ini semakin diperberat oleh arah kebijakan moneter yang diambil dari Amerika Serikat.

Para pelaku pasar modal maupun valas global saat ini tengah mencermati dengan saksama probabilitas hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).

Konsensus mayoritas pasar memprediksi kuat bahwa bank sentral AS (The Fed) akan tetap menahan suku bunga acuannya di level yang tinggi untuk periode yang jauh lebih lama dari ekspektasi awal.

Sinyal kebijakan hawkish dari bank sentral terbesar di dunia ini memicu eksodus arus modal keluar (capital outflow) dari pasar instrumen keuangan negara berkembang, yang pada akhirnya mendepresiasi nilai tukar mata uang lokal seiring dengan perkasanya indeks dolar AS.

Kinerja Rupiah Belum Membaik

Kinerja Rupiah bahkan lebih buruk dibandingkan dengan negara emerging markets seperti Zimbabwe dan Nigeria. Depresiasi rupiah selama kurun waktu setahun terakhir hingga April 2026 ini menunjukkan alarm bahaya.

Rupiah tercatat terpuruk sekitar -9,6 persen, dibandingkan Zimbabwe Gold (ZiG) dan merosot tajam -17,7 persen terhadap Naira Nigeria (NGN).

Fakta di lapangan ini cukup menampar sentimen pasar, mengingat ZiG adalah instrumen mata uang baru yang diperkenalkan pada bulan April 2024 lalu dengan jaminan cadangan emas dan valuta asing guna menyelamatkan ekonomi Zimbabwe yang sempat hancur lebur.

Sementara itu, Naira Nigeria yang secara historis terkenal dengan volatilitas ekstremnya, justru berhasil mencatatkan kinerja penguatan relatif terhadap rupiah berkat kebijakan pengetatan pasokan valuta asing di internal negaranya.

Beralih membedah faktor internal, tekanan yang mendera kurs garuda ini sangat kental dipengaruhi oleh kekhawatiran nyata investor terhadap ketahanan fundamental ekonomi dalam negeri.

Chief Analyst dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, dengan lugas menggarisbawahi bahwa kemerosotan nilai tukar kali ini lebih banyak didominasi oleh kekhawatiran sentimen domestik. Rentetan sentimen negatif ini bermula dari sikap pesimis pasar terhadap keputusan Bank Indonesia yang menahan suku bunga acuan di tengah desakan pengetatan.

Selain itu, kebingungan investor semakin bertambah akibat belum adanya langkah strategis dan upaya konkret dari pihak pemerintah untuk segera memangkas alokasi anggaran belanja pada sektor-sektor non-prioritas yang tidak mendesak.

Keresahan di bursa valas tersebut pada akhirnya tervalidasi oleh rilis data cadangan devisa nasional yang memperlihatkan grafik penurunan yang persisten.

Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir bulan Maret 2026 dilaporkan anjlok menyentuh US$148,2 miliar, menandai level terendahnya sejak periode Juli 2024.

Terjadi evaporasi drastis sebesar US$8,3 miliar apabila dikomparasikan dengan posisi cadangan devisa pada penutupan akhir tahun lalu yang masih tebal di angka US$156,5 miliar.

Penyusutan saldo valas yang signifikan ini utamanya terserap oleh Bank Indonesia dalam operasi pasarnya demi menstabilkan rupiah di tengah gejolak volatilitas global yang tidak menentu.

Kondisi neraca ini secara logis membuat ruang manuver bank sentral menggunakan "amunisi" devisa di masa mendatang menjadi semakin sempit apabila tekanan arus kas terus menderas.

Kendati mengalami pendarahan devisa yang tajam, posisi US$148,2 miliar tersebut secara metrik ekonomi makro masih setara dengan pembiayaan 6,0 bulan impor.

Angka cadangan ini secara hitungan absolut masih bersandar jauh di atas standar kecukupan minimal dari pedoman internasional yang menetapkan batas aman pada tiga bulan impor, memberikan sedikit secercah harapan bahwa Indonesia belum terseret ke dalam jurang krisis likuiditas valas akut.

Merespon gelombang depresiasi historis ini, otoritas moneter tertinggi di Tanah Air tetap mengambil langkah mitigasi untuk menenangkan histeria pasar.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, dengan tegas menyatakan bahwa jajarannya tidak akan tinggal diam dan dipastikan akan terus hadir di pasar untuk mengeksekusi langkah intervensi secara terukur.

Perry juga memberikan pernyataan tegas bahwa apabila ditinjau murni dari sisi fundamental kekuatan makroekonomi domestik, level pergerakan nilai tukar rupiah saat ini sudah masuk kategori undervalued atau berstatus berada jauh di bawah nilai wajar yang semestinya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kurs Rupiah Tembus Rp17.326 per Dolar AS: Beban Subsidi Naik, Utang Meroket

Kurs Rupiah Tembus Rp17.326 per Dolar AS: Beban Subsidi Naik, Utang Meroket

Bisnis | Kamis, 30 April 2026 | 17:05 WIB

Rupiah Semakin Lemah Karena Kinerja Pemerintah Belum Puaskan Investor

Rupiah Semakin Lemah Karena Kinerja Pemerintah Belum Puaskan Investor

Bisnis | Kamis, 30 April 2026 | 16:36 WIB

Anjlok Lebih Dalam Pagi Ini, Rupiah Terus Cetak Rekor Terburuk

Anjlok Lebih Dalam Pagi Ini, Rupiah Terus Cetak Rekor Terburuk

Bisnis | Kamis, 30 April 2026 | 10:15 WIB

Kemenperin: Industri Kertas Untung dengan Lemahnya Nilai Tukar Rupiah

Kemenperin: Industri Kertas Untung dengan Lemahnya Nilai Tukar Rupiah

Bisnis | Kamis, 30 April 2026 | 10:04 WIB

BI Kuras Devisa Negara Triliunan Demi Rupiah Menguat 'Se-Perak Dua-Perak'

BI Kuras Devisa Negara Triliunan Demi Rupiah Menguat 'Se-Perak Dua-Perak'

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 16:16 WIB

Rupiah Cetak Rekor Buruk ke Level Rp17.326 per Dolar AS

Rupiah Cetak Rekor Buruk ke Level Rp17.326 per Dolar AS

Bisnis | Rabu, 29 April 2026 | 15:51 WIB

Terkini

5 Investasi yang Aman untuk Anak Muda dan Pemula, Minim Risiko

5 Investasi yang Aman untuk Anak Muda dan Pemula, Minim Risiko

Bisnis | Minggu, 03 Mei 2026 | 11:05 WIB

Trump Terima Usulan Damai Perang Iran, Selat Hormuz Mulai Kondusif?

Trump Terima Usulan Damai Perang Iran, Selat Hormuz Mulai Kondusif?

Bisnis | Minggu, 03 Mei 2026 | 10:45 WIB

Pergerakan Harga Emas Hari Ini, Minggu 3 Mei 2026

Pergerakan Harga Emas Hari Ini, Minggu 3 Mei 2026

Bisnis | Minggu, 03 Mei 2026 | 09:41 WIB

Kisah Shiroshima, UMKM Batik Asal Yogyakarta yang Go Internasional dan Tembus Paris Fashion Week

Kisah Shiroshima, UMKM Batik Asal Yogyakarta yang Go Internasional dan Tembus Paris Fashion Week

Bisnis | Minggu, 03 Mei 2026 | 08:53 WIB

SPBU Swasta Naikkan Harga BBM, Pertamina Bakal Ikutan?

SPBU Swasta Naikkan Harga BBM, Pertamina Bakal Ikutan?

Bisnis | Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50 WIB

Danantara Evaluasi Peluang Investasi Strategis, Potongan Komisi Ojol Ditarget Turun Jadi 8 Persen

Danantara Evaluasi Peluang Investasi Strategis, Potongan Komisi Ojol Ditarget Turun Jadi 8 Persen

Bisnis | Sabtu, 02 Mei 2026 | 20:05 WIB

Dasco: Kita Bikin UU Ketenagakerjaan yang Baru, Silakan Buruh yang 'Masak'

Dasco: Kita Bikin UU Ketenagakerjaan yang Baru, Silakan Buruh yang 'Masak'

Bisnis | Sabtu, 02 Mei 2026 | 20:00 WIB

Dasco: Pemerintah Akan Ambilalih 'Perusahan Sakit' agar Tak Ada PHK Buruh

Dasco: Pemerintah Akan Ambilalih 'Perusahan Sakit' agar Tak Ada PHK Buruh

Bisnis | Sabtu, 02 Mei 2026 | 19:04 WIB

Minyak Mentah Rusia Segera Masuk RI, Bahlil Pastikan Stok BBM Nasional Aman

Minyak Mentah Rusia Segera Masuk RI, Bahlil Pastikan Stok BBM Nasional Aman

Bisnis | Sabtu, 02 Mei 2026 | 18:52 WIB

BNI Konsisten Dorong Pemerataan Pendidikan Lewat Beasiswa Nasional

BNI Konsisten Dorong Pemerataan Pendidikan Lewat Beasiswa Nasional

Bisnis | Sabtu, 02 Mei 2026 | 18:23 WIB