- Pemerintah membentuk Danantara sebagai superholding untuk mengelola aset BUMN senilai Rp1.650 triliun demi meningkatkan produktivitas ekonomi nasional.
- Lembaga ini ditargetkan menyederhanakan struktur bisnis BUMN serta menghasilkan penghematan biaya operasional sebesar Rp60 triliun setiap tahun.
- Keberhasilan Danantara memerlukan transparansi data dan pengawasan ketat untuk meminimalisir intervensi politik dalam pengelolaan aset negara.
Ekonom Senior Bright Institute, Awalil Rizky, menilai keberhasilan Danantara sangat bergantung pada transparansi dan minimnya intervensi politik.
Menurutnya, publik membutuhkan akses terhadap data dan proyek investasi agar kepercayaan terhadap Danantara tetap terjaga.
“Jika Danantara mau sukses, intervensinya harus seminimal mungkin dan hanya boleh lewat peraturan, bukan diskresi,” ujar Awalil.
![Debat Publik bertajuk “Pertaruhan Besar Negara via Danantara pada Restrukturisasi BUMN” yang digelar Nagara Institute bersama program Akbar Faizal Uncensored di Jakarta. [Danatara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/08/82205-debat-publik-bertajuk-pertaruhan-besar-negara-via-danantara-pada-restrukturisasi-bumn.jpg)
“Danantara harus transparan agar publik bisa ikut membela kinerjanya di masa depan,” lanjutnya.
Hal serupa disampaikan Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro, Akhmad Syakir Kurnia.
Ia menilai pengawasan publik terhadap Danantara perlu diperkuat karena lembaga tersebut bertanggung jawab langsung kepada Presiden.
“Harapan boleh saja dilambungkan tinggi, namun sejarah ekonomi ekstraktif memaksa kita tetap kritis terhadap ruang transparansi publik,” kata Syakir.
Danantara Targetkan Efisiensi Rp60 Triliun per Tahun
Saat ini, Danantara tengah menyusun laporan keuangan konsolidasian yang diaudit sebagai bagian dari reformasi tata kelola BUMN.
Langkah tersebut diproyeksikan mampu meningkatkan valuasi aset negara hingga 40 persen dan menghemat biaya operasional sampai Rp60 triliun per tahun.
Dana efisiensi tersebut nantinya disebut dapat digunakan untuk membiayai berbagai proyek strategis nasional seperti ketahanan energi, hilirisasi industri, hingga kedaulatan pangan.
Dengan konsolidasi besar-besaran tersebut, Danantara dipandang sebagai jawaban atas persoalan restrukturisasi BUMN yang selama puluhan tahun dinilai berjalan lambat dan tidak efektif.
Sejumlah ekonom menilai keberhasilan Danantara akan sangat menentukan arah transformasi ekonomi Indonesia menuju negara maju dengan pengelolaan aset negara yang lebih profesional dan berbasis hasil bisnis.