- Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan realisasi impor minyak mentah dari Rusia masih menunggu kesepakatan teknis pengiriman ke Indonesia.
- Pemerintah Indonesia mengimpor 150 juta barel minyak mentah Rusia guna mengamankan pasokan energi nasional hingga akhir tahun 2026.
- Pengiriman minyak akan dilakukan secara bertahap karena keterbatasan kapasitas fasilitas penyimpanan minyak mentah yang dimiliki oleh pihak domestik.
Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengaku impor minyak mentah atau crude oil dari Rusia masih belum direalisasikan.
Bahlil menyebut realisasi impor minyak mentah menunggu kesepakatan teknis dalam proses pengiriman ke Indonesia.
"Secara deal sudah, kontrak sudah, sekarang bicara tentang teknik pengirimannya. Dan mungkin 1-2 minggu ini sudah bisa," ujar Bahlil saat ditemui wartawan di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (11/5/2026).
![Ilustrasi fasilitas minyak mentah di mana harga mulai melonjak kembali. [Pexels].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/09/21722-harga-minyak-dunia-fasilitas-minyak-mentah.jpg)
Impor minyak mentah dari Rusia merupakan tindak lanjut dari hasil pertemuan bilateral antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Langkah ini diambil pemerintah sebagai upaya strategis untuk mengamankan pasokan BBM nasional di tengah bayang-bayang krisis energi global akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Adapun kerja sama antara kedua negara dijajaki melalui skema Government-to-Government atau G2G) maupun business-to-business (B2B).
Melalui kedua skema itu diharapkan memberikan kepastian terhadap ketersediaan cadangan energi nasional, khususnya untuk minyak mentah.
Volume minyak mentah yang akan didatangkan dari Rusia mencapai 150 juta barel, yang diproyeksikan untuk memenuhi kebutuhan domestik hingga akhir tahun 2026.
Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menjelaskan bahwa proses impor tersebut akan dilakukan secara bertahap.
Hal ini dikarenakan kapasitas fasilitas penyimpanan (storage) minyak di dalam negeri yang masih terbatas, sehingga pengiriman tidak bisa dilakukan sekaligus.